Rabu, 15 April 2026

KUPI BEUNGOH

Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh - Bagian I

Penumpukan sampah di sudut-sudut kota menjadi pemandangan yang kerap ditemui. Praktik pembakaran terbuka masih berlangsung dan mencemari udara. 

Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Khairul Fajri, S.K.M., M.K.M., Ketua Yayasan Aceh Peduli Sanitasi 

Oleh Khairul Fajri, S.K.M., M.K.M.

Permasalahan sampah di Aceh hari ini tidak lagi dapat dipandang sebagai isu kebersihan semata. 

Ia telah berkembang menjadi persoalan serius yang menyentuh aspek sanitasi, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. 

Di berbagai wilayah, baik di pusat kota seperti Banda Aceh maupun kawasan pinggiran, pengelolaan sampah masih didominasi pendekatan konvensional: kumpul, angkut, dan buang. 

Pola ini mungkin pernah relevan di masa lalu, namun dalam konteks saat ini, pendekatan tersebut tidak lagi memadai.

Pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, serta meningkatnya aktivitas ekonomi turut mendorong peningkatan timbulan sampah secara signifikan. 

Di Banda Aceh, produksi sampah harian diperkirakan mencapai ratusan ton per hari, dengan komposisi terbesar berasal dari sampah organik rumah tangga. 

Baca juga: BERITA POPULER - Gaji ke-13 PNS Cair Usai Lebaran, Iran Sembunyikan Rudal dan Drone di Perut Gunung

Di sejumlah kabupaten/kota lain, tantangan serupa juga terjadi dengan skala yang berbeda. 

Persoalannya, kapasitas pengelolaan yang tersedia belum mampu mengimbangi peningkatan volume tersebut. 

Ketimpangan antara produksi sampah dan kemampuan pengelolaan inilah yang menjadi akar dari berbagai persoalan yang kita hadapi hari ini.

Dampak Nyata di Depan Mata

Akibatnya, berbagai persoalan yang seharusnya telah ditinggalkan justru masih terus terjadi. 

Penumpukan sampah di sudut-sudut kota menjadi pemandangan yang kerap ditemui. Praktik pembakaran terbuka masih berlangsung dan mencemari udara. 

Bahkan, tidak sedikit sampah yang berakhir di sungai dan saluran air, yang pada akhirnya merusak ekosistem serta meningkatkan risiko banjir.

Kondisi ini bukan hanya persoalan estetika lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. 

Dalam perspektif global, United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa pengelolaan limbah padat yang tidak terintegrasi merupakan salah satu sumber utama pencemaran lingkungan serta berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, khususnya metana dari tempat pembuangan akhir. 

Baca juga: VIDEO - IRGC Ancam Serang Kampus AS dan Israel di Timur Tengah, Respons atas Serangan di Teheran

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved