Opini
Halalbihalal: Ritual Maaf, Sistem Tetap Rusak?
Kemaafan berhenti pada simbol: salaman terjadi, kata maaf diucapkan, tetapi batin tetap menyimpan dendam, prasangka, dan kepentingan.
Kemaafan sejati menuntut keberanian mengakui, berbalik arah, lalu menata tindakan dan sistem hingga menjadi energi perubahan yang nyata.
Ukurannya jelas: bukan banyaknya maaf diucapkan, tetapi berhentinya kesalahan berulang.
Nabi SAW menegaskan, “Orang mukmin tidak akan terperosok dua kali pada satu lubang yang sama” (HR. Bukhari).
Maka, mengulang kesalahan adalah tanda kelalaian—dalam perumpamaan, hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama; dan Al-Qur’an menegaskan bahwa seburuk-buruk suara adalah suara keledai (QS. Luqman: 19), sebagai simbol kegagalan mengambil pelajaran.
Maka pertanyaannya tegas: kita memaafkan untuk memperbaiki, atau untuk mengulang—dengan hati lebih tenang, tetapi sistem tetap bermasalah?
Semoga halalbihalal kali ini bukan sekadar jeda, tetapi titik balik—menguatkan hati, menata sistem, dan memutus siklus kesalahan yang terus berulang.
*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)