Sabtu, 30 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang AS-Israel vs Iran: Menakar Kesiapan Aceh 

Perlu diingat bahwa Iran terembargo 50 tahun, terisolasi tetangga, tapi rakyat solid, diaspora pulang membela rezim.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Syarifah Huswatun Miswar, kandidat doktor di bidang Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU). Saat ini menjabat sebagai Asisten Peneliti di Pusat Penelitian Indonesia-China People to People Exchange (CCNU). Email: sayyidahuswah@gmail.com 

Iran tutup Selat Hormuz buat AS dan sekutu, ditambah pembelian minyak pakai yuan, bukan dolar. 

Perlu diingat bahwa 20 % minyak dunia (21 juta barel/hari) melewati kawasan itu. Indonesia impor 60?ri Teluk, BBM naik 50 % picu inflasi 10 % lebih, APBN bisa jebol jika tetap subsidi. 

Negara oportunis akan panik, seperti China akan beli yuan, Eropa rationing, India blackout pabrik. Artinya, tidak ada negara yang benar-benar aman sekalipun negara yang diklaim menguntungkan. 

Kedua, kabel optik global putus (Belum Terjadi, semoga saja tidak) 80?ta dunia (internet, SWIFT, Visa/Mastercard) lewat 16 kabel bawah laut Hormuz, Teluk Persia, Laut Merah (kedalaman 50-150 m, rawan drone/submersible potong). 

IRGC ancam "asimetri total" yang artinya melawan AS-Israel dengan segala cara yang tidak konvensional lagi, murah, dan mematikan, bukan head-to-head tank-vs-tank, tapi hybrid warfare maksimal. 

Pada kondisi ini, Eropa dan Teluk akan mati setidaknya di 72 jam dan akan memakan biaya $1,6T rugi harian global. 

Bagi Indonesia, Banking akan lumpuh (BI-RTGS down), e-commerce mati, rupiah bisa anjlok 20 % , panic buying BBM via WhatsApp rumor. 

Tiga, Nuklir Nyala: Bukan Pencegah Lagi. Post-JCPOA runtuh, Iran walaupun tidak terbukti memiliki senjata nuklir, tapi masih sangat memungkinkan untuk melakukan pengayaan uranium 90 % (cukup 2-3 bulan lagi menjadi bom nuklir), AS dan Israel memiliki senjata nuklir yang siap pakai. 

Baca juga: Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade

Jika rezim terdesak, opsi "use it or lose it?" sangat mungkin dipilih. Satu ledakan di Tel Aviv atau Tehran bisa membuat fallout Saudi hingga India.

Akibatnya akan terjadi nuclear winter yang bisa turunkan suhu global 2°C, gagal panen 30 % Asia (1 miliar orang akan kelaparan), hukum internasional runtuh, China dan Rusia akan intervensi, bukan MAD (Mutual Assured Destruction) lagi tapi multiplier chaos regional berubah menjadi global. Bagaimana Indonesia?

Bebas Aktif: Dari Nyali KAA ke Bird of Peace?

Indonesia bukan Gaza. Indonesia sudah menjadi negara non-blok per UUD 1945 ("ketertiban dunia berbasis kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial"). 

Akan tetapi Bebas-aktif dulu punya nyali, sekarang dipertanyakan. Indonesia pernah menjadi tuan rumah KAA 1955 (29 negara Asia-Afrika), pendiri Gerakan Non-Blok 1961 (lawan AS-Soviet), Sukarno berani konfrontasi Malaysia. 

Kredibilitas dunia ketiga solid. Kini pragmatisme ekonomi dekade terakhir pertanyakan prinsip pasca "reset" Agustus 2025 (krisis politik-konstitusi). 

Prabowo ikut "Bird of Peace" AS, tapi para analis mempertanyakan kapabilitas apa yang Indonesia punya saat ini? Leverage Hormuz mana? RI tak punya aset strategis Timur Tengah.

Menanggapi keadaan saat ini terkait Selat Hormuz yang tidak jelas kapan akan beroperasi normal, Indonesia sama dengan negara-negara lainnya. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved