Senin, 27 April 2026

KUPI BEUNGOH

Perang AS-Israel vs Iran: Menakar Kesiapan Aceh 

Perlu diingat bahwa Iran terembargo 50 tahun, terisolasi tetangga, tapi rakyat solid, diaspora pulang membela rezim.

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Syarifah Huswatun Miswar, kandidat doktor di bidang Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU). Saat ini menjabat sebagai Asisten Peneliti di Pusat Penelitian Indonesia-China People to People Exchange (CCNU). Email: sayyidahuswah@gmail.com 

Oleh Syarifah Huswatun Miswar*)

Februari lalu menjelang puasa, ada pesan balasan dari profesor Iran yang menyayat hati, "Negara kami sedang situasi tidak mudah, konsekuensi kemerdekaan yang kami pilih dan perjuangkan Gaza." 

Beberapa bulan sebelumnya, kami bertemu di konferensi Shanghai International of Foreign Affairs University dan makan bersama, saya ceritakan Islam masuk Indonesia pertama via pedagang Persia Syiah di Selat Malaka.

Buktinya, peninggalan budaya takbenda seperti tradisi tabot Saman, kanduri Asyura dll. 

Beliau kaget: "Benarkah?" tanyanya.  Saya jawab ya, dari penelitian ilmiah, tradisi keluarga dan 6 tahun bertemu orang-orang dari Iran.

Hingga 3 April 2026 (hari ke-34 perang sejak 28 Februari), AS-Israel lawan Iran memanas lewat klaim Trump bahwa program rudal Iran sudah lumpuh dan AS akan 'finish the job' dalam 2-3 minggu.

Namun IRGC membalas dengan gelombang serangan ke-89 rudal/drone ke Haifa serta pangkalan AS di UAE-Qatar. 

Perlu diingat bahwa Iran terembargo 50 tahun, terisolasi tetangga, tapi rakyat solid, diaspora pulang membela rezim. 

Ini berbeda dengan Arab Spring. Trump luput, terjebak dua peradaban purba. Iran dari 2.500 tahun lalu sudah ada, geografi Zagros-Dasht-e Kavir mirip China (invasi logistik 10x lebih mahal). 

Baca juga: Iran Batasi Akses Selat Hormuz, AS Dilarang Melintas

Adapun Israel, diaspora Yahudi pasca-1948 bangkit ekspansi (Golan-Sinai), 15 juta umat global mendukung. 

AS Baru 250 tahun, 7 presiden sebelumnya tak berani serang langsung Iran

Dalam perang ini, Iran tak perlu menang, cukup bertahan saja musuh bisa mati sendiri (elite syahid diganti cepat, IRGC klaim siap perang 6 bulan-10 tahun). 

Ancaman di depan mata

Jika perang AS-Israel-Iran makin panas, tiga ancaman eksistensial bisa pecah dan ini bukan spekulasi kosong, tapi risiko realistis dari posisi Hormuz. 

Tiga skenario terburuk yang masuk akal saat ini bisa terjadi, yaitu Pertama, harga minyak bisa meledak ke $200/barel (belum sampai, tapi hingga hari ini tidak ada perundingan dan kejelasan terkait harga minyak).

Hingga 3 April 2026, Brent $105-106 USD/barel (naik ~4 persen pekan ini akibat Hormuz masih terganggu, tanker Pertamina tertahan hingga 1 April baru lewat bertahap), tapi bisa tembus $200 jika blokade berlanjut 2 bulan lagi. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved