Sabtu, 30 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang AS-Israel vs Iran: Menakar Kesiapan Aceh 

Perlu diingat bahwa Iran terembargo 50 tahun, terisolasi tetangga, tapi rakyat solid, diaspora pulang membela rezim.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Syarifah Huswatun Miswar, kandidat doktor di bidang Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU). Saat ini menjabat sebagai Asisten Peneliti di Pusat Penelitian Indonesia-China People to People Exchange (CCNU). Email: sayyidahuswah@gmail.com 

Mengantisipasi keadaan dengan upaya-upayanya kebijakannya seperti menjaga pasokan dan diversifikasi impor minyak mentah (yang mana masih bisa bertahan untuk 1-2 bulan), menahan harga kenaikan BBM bersubsidi dengan menjadikan APBN sebagai “Shock absorber” agar masyarakat tidak terkena lonjakan harga langsung.

Baca juga: Trump Kesal Inggris Tolak Bantu Perangi Iran, Kritik Kepemimpinan PM Starmer

Selain Itu, Indonesia juga memperluas cadangan dan Infrastruktur penyimpanan minyak dengan pembangunan fasilitas storage baru di sumatra yang bertujuan untuk memperbesar kapasitas cadangan hingga 90 hari yang saat ini masih dalam peninjauan kelayakan. 

Selain itu pemerintah juga menggunakan APBN sebagai penyangga guncangan harga energi, mendorong ekspor batubara dan menjaga peran sebagai penyuplai energi. 

Bagaimana dengan Aceh?

Aceh baru saja melewati masa-masa kritis banjir bandang November lalu dan saat ini masih belum pulih seutuhnya. 

Aceh memiliki kerentanan yang khusus. Dimana bencana alam, kerentanan ekonomi dan luka sejarah konflik dan perang AS-Israel melawan Iran ini sudah mulai terasa dampaknya. 

Bisa dilihat melalui beberapa Indikasi seperti Harga BBM mencekik orang-orang yang selamat dari banjir, panic buying dan guncangan psikologis, dan yang pasti pasokan minyak juga terganggu sehingga harganya juga naik.

Dengan medan Aceh yang berbahaya, distribusi juga lebih sulit. Adapun dampak tak langsungnya yang akan lebih menghancurkan adalah ancaman kembalinya ketegangan politik di Aceh, bencana ekologis yang diperparah deforestasi (perlu diingat bahwa Aceh berada di jalur patahan seismik gempa).

Fokus pemerintah akan tersedot pada energi dan politik sementara Aceh jauh dari pusat dan sangat mungkin kembali diabaikan.

Selanjutnya, akan terjadi migrasi dan tekanan sosial (warga yang tidak tahan akan pergi meninggalkan wilayah yang mereka tempati dan mencari suaka baru paling dekat ke Medan). 

Pertanyaannya “apakah pemerintah dan rakyat Aceh sanggup menghadpinya?”

Apa yang harus dilakukan? Kita harus jujur di titik ini bahwa pemerintah Aceh saat ini tidak cukup kuat menghadapi skenario terburuk sendirian, kita bisa melihat pada momen banjir bandang beberapa waktu lalu.

Hal ini bukan karena orang Aceh hilang kegigihannya, tapi karena ancamannya berbeda dan Aceh belum beradaptasi dengan pola ini. 

Baca juga: Pakistan Naikkan Harga BBM Hingga 55 Persen Akibat Perang Iran

Dari pemerintahnya masih mewarisi struktur kekuasaan dan ekonomi kolonial, ekstraksi sumber daya bukan ketahanan masyarakat. 

Kebijakan etis menciptakan elit lokal yang diuntungkan tapi melemahkan struktur komunal. 

Selain itu, model pembangunan top down dan fokus pada industri ekstraktif (migas, sawit) terus dipertahankan (ini penghancuran ketahanan pangan dan ekonomi lokal yang sudah dibangun berabad-abad). 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved