Selasa, 5 Mei 2026

Kupi Beungoh

Mandat Geopolitik: Menguak Skenario "Capit Urang" Terhadap Semenanjung Arab

Target utamanya bukan satu sama lain, melainkan mencerminkan poros kekuatan Sunni di jantung dunia Islam.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/HO
Direktur Eksekutif Pusat Studi Geopolitik Timur Tengah (PSGT), Abi Irhamullah MA MAg. 

Begitu pula dalam Operasi Opera (1981), di mana koordinasi intelijen rahasia terjadi karena keduanya sepakat bahwa kekuatan nuklir Arab adalah ancaman yang lebih besar daripada satu sama lain.

Fakta bahwa jalur pipa minyak Eilat-Ashkelon (EAPC) yang dibangun di era Syah masih menjadi penjaga rahasia hukum di Swiss membuktikan bahwa energi bisnis di bawah meja mereka jauh lebih abadi daripada retorika agama di panggung depan.

Lebih jauh lagi, perhatikan fakta lapangan yang ironis: hampir 90 persen serangan proksi Iran melalui milisi Houthi diarahkan secara presisi ke fasilitas ekonomi strategis seperti Aramco, bukan ke Tel Aviv.

Di sisi lain, ketegangan permanen yang diciptakan oleh "perang-perangan" Iran-Israel ini menjadi mesin pendorong belanja alutsista besar-besaran bagi negara-negara Teluk.

Devisa Arab Saudi dan negara tetangganya dikuras habis untuk membeli "rasa aman" dari vendor-vendor yang berafiliasi dengan kepentingan Barat dan Israel, yang pada akhirnya justru menghambat percepatan kemandirian visi ekonomi seperti Saudi Vision 2030 .

Ini adalah perang ekonomi politik yang sangat pesat.

Target akhir dari strategi penjepitan ini adalah pelumpuhan sentralitas Arab Saudi sebagai pelayan Dua Kota Suci.

Dengan menciptakan kondisi ketidakstabilan permanen ( Permanent Instability ) di sekitar Jazirah Arab, aktor-aktor transnasional ini berharap kepemimpinan dunia Islam Sunni runtuh, sehingga kendali atas tanah suci dapat diperebutkan atau diinternasionalisasi.

Jazirah Arab tidak boleh lagi terjebak dalam dikotomi memilih antara "singa di Timur" atau "serigala di Barat". Arab Saudi dan negara Teluk harus segera mengambil langkah Kemandirian Strategis ( Otonomi Strategis ); membangun industri perlindungan dan siber mandiri yang bebas dari infiltrasi asing.

Kedaulatan tanah suci adalah benteng terakhir umat. Jika benteng ini runtuh akibat jepitan "Capit Urang", maka peta sejarah dunia Islam akan berubah secara permanen dan menyakitkan.

Saatnya kita berhenti menjadi bidak dan mulai menulis naskah kedaulatan kita sendiri. (*)

*) PENULIS adalah Direktur Eksekutif Pusat Studi Geopolitik Timur Tengah (PSGT)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved