Kamis, 7 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Mengurai Benang Kusut Pendidikan: Jalan Terjal Menuju Indonesia Emas 2045

Jika guru tidak didukung dengan baik, maka sulit mengharapkan lahirnya proses pembelajaran yang berkualitas.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Penulis Dr. Iswadi, M.Pd*)                                                     

Pendidikan telah lama diposisikan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. 

Di tengah ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045 sebuah momentum 100 tahun kemerdekaan pendidikan diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global. 

Namun, realitas yang dihadapi saat ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan Indonesia masih diliputi berbagai persoalan kompleks, layaknya benang kusut yang sulit diurai. 

Jika tidak segera ditangani secara komprehensif, cita cita besar tersebut berisiko menjadi sekadar retorika.

Salah satu persoalan mendasar adalah ketimpangan akses pendidikan. Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan geografis yang tidak sederhana. 

Di wilayah perkotaan, sekolah sekolah telah dilengkapi dengan fasilitas modern, akses internet cepat, serta tenaga pengajar yang relatif memadai. 

Sebaliknya, di daerah terpencil dan tertinggal, masih banyak sekolah yang kekurangan ruang kelas, minim sarana belajar, bahkan kekurangan guru

Ketimpangan ini menciptakan disparitas kualitas pendidikan yang signifikan, sehingga peluang anak-anak untuk berkembang menjadi tidak setara.

Selain akses, kualitas pembelajaran juga menjadi perhatian serius. Sistem pendidikan yang masih cenderung berorientasi pada hafalan membuat peserta didik kurang terlatih untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. 

Padahal, dunia di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 menuntut kemampuan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengingat informasi. 

Keterampilan seperti pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital menjadi kebutuhan utama. Tanpa perubahan paradigma dalam proses belajar-mengajar, lulusan pendidikan kita akan kesulitan bersaing di dunia global.

Baca juga: Pergeseran Nilai dalam Pendidikan di Era Modern

Di sisi lain, peran guru sebagai ujung tombak pendidikan juga menghadapi berbagai tantangan. Banyak guru masih dibebani tugas administratif yang menyita waktu dan energi, sehingga mengurangi fokus mereka dalam mengajar. 

Selain itu, pelatihan yang diberikan sering kali tidak relevan dengan kebutuhan di lapangan. Kesejahteraan guru yang belum merata, terutama di daerah terpencil, juga menjadi faktor yang memengaruhi kualitas pengajaran. 

Jika guru tidak didukung dengan baik, maka sulit mengharapkan lahirnya proses pembelajaran yang berkualitas.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved