Jumat, 17 April 2026

Jurnalisme Warga

Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam

Di lokasi inilah sebuah gerakan sederhana, tetapi sarat makna dimulai, yakni penanaman pohon dalam program bertajuk “Green Jihad”.

Editor: mufti
for serambinews/IST
FAISAL, S.T, M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Peusangan, Sekjen APMI, dan alumnus IPGKTI, melaporkan dari Bireuen 

Dalam suasana penuh keakraban, kepala sekolah sempat berkelakar, “Kalau nanti sudah berbuah, silakan dipetik. Jeut pet, ci com jaroe na beh lham,” ujarnya, disambut tawa ringan para peserta.

Di balik kesederhanaan itu, tersimpan nilai yang dalam bahwa setiap hasil yang dinikmati harus melalui proses dan usaha.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran nyata bagi siswa. Mereka tidak hanya diajarkan teori tentang lingkungan hidup, tetapi juga dilibatkan langsung dalam praktik pelestariannya. Tanah yang mereka gali, pohon yang mereka tanam, dan keringat yang mereka keluarkan menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang tidak tergantikan.

Sebagai kepala sekolah, saya melihat bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah gerakan moral. “Green Jihad” adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya pemulihan kebun sekolah yang rusak akibat banjir.

Program ini kami gagas sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya pemulihan kebun sekolah yang sebelumnya dipenuhi tanaman rambutan, tetapi rusak akibat banjir.

Kini, kebun tersebut mulai ditata kembali dengan konsep yang lebih produktif dan berkelanjutan. Tidak hanya sekadar hijau, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Pohon-pohon yang ditanam diharapkan kelak menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh siapa saja.

Lebih jauh, kawasan ini kami rencanakan akan diberi nama Taman Wakaf Buah. Sebuah konsep sederhana, tetapi sarat nilai. Siapa pun boleh menikmati hasilnya tanpa harus meminta izin, selama untuk konsumsi pribadi, bukan untuk dikomersialkan. Ini adalah bagian dari pendidikan nilai tentang berbagi, kepedulian, dan keberkahan.

Konsep wakaf dalam konteks ini menjadi menarik, karena tidak hanya berbicara tentang amal jariah, tetapi juga tentang pendidikan karakter. Siswa diajak memahami bahwa berbagi tidak selalu dalam bentuk materi besar, tetapi bisa dimulai dari hal kecil yang berdampak luas.

Keterlibatan siswa kelas XII dalam program ini juga memiliki makna tersendiri. Mereka tidak hanya meninggalkan kenangan berupa foto atau cerita, tetapi juga warisan nyata yang dapat dirasakan oleh adik kelas mereka di masa mendatang.

Kami ingin peserta didik tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga jejak nyata. Pohon-pohon ini akan menjadi bukti bahwa mereka pernah berkontribusi untuk sekolah.

Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen, Plt Kasubbag Tata Usaha, Muhammadar, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap inovasi yang dilakukan oleh SMK Negeri 1 Peusangan.

“Kami sangat mengapresiasi program Green Jihad yang digagas oleh SMK Negeri 1 Peusangan. Kegiatan ini tidak hanya sekadar penanaman pohon, tetapi juga merupakan bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa program tersebut sejalan dengan arah kebijakan Dinas Pendidikan Aceh yang mendorong pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang produktif.

“Ini sejalan dengan program dinas pendidikan yang mendorong pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar produktif. Pohon yang ditanam hari ini bukan hanya penghijauan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut tidak sekadar menjadi dukungan normatif, tetapi juga mempertegas makna dari gerakan yang tengah dijalankan di SMK Negeri 1 Peusangan melalui “Green Jihad” merupakan cerminan dari semangat gotong royong yang menjadi jati diri masyarakat Aceh. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved