Rabu, 6 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah

Permainan edukatif bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium sosial yang aman bagi remaja untuk melatih regulasi emosi

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
SYARIFAH ZAINAB, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar 

Mereka juga lebih mampu mengambil keputusan secara rasional, meskipun berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

Sebaliknya, remaja yang kurang memiliki keterampilan ini berisiko mengalami berbagai masalah psikologis, seperti kecemasan, depresi, hingga perilaku agresif.

Dalam konteks sekolah atau pesantren, ketidakmampuan mengelola emosi sering kali menjadi pemicu konflik interpersonal dan perundungan. Oleh karena itu, intervensi yang berfokus pada pengembangan regulasi emosi menjadi sangat penting sebagai upaya promotif dan preventif dalam kesehatan mental remaja.

Di lingkungan pesantren, kemampuan ini menjadi semakin krusial. Santri harus mampu mengelola rasa rindu kepada keluarga, tekanan akademik, serta dinamika hubungan dengan teman sebaya.

Tanpa keterampilan regulasi emosi yang memadai, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan yang berdampak pada kesejahteraan psikologis mereka.

Berlatih meregulasi emosi 

Berangkat dari pemahaman tersebut, kami berinisiatif untuk merancang sebuah intervensi yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menyenangkan dan mudah diterapkan. Permainan “Ular tangga emosi” dikembangkan sebagai media psikoedukasi yang memungkinkan remaja belajar sambil bermain.

Konsep permainan ini pada dasarnya sama seperti ular tangga konvensional. Para pemain melempar dadu dan menjalankan bidak sesuai angka yang diperoleh. Namun, yang membedakan adalah setiap kotak yang diinjak akan mengarahkan pemain untuk mengambil kartu khusus.

Kartu-kartu tersebut berisi pertanyaan reflektif dan informasi edukatif berkaitan dengan pengalaman emosional sehari-hari.

Melalui mekanisme ini, santri tidak hanya diajak untuk memahami konsep regulasi emosi secara teoretis, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung dalam suasana yang aman dan suportif.

Interaksi dengan teman sebaya selama permainan juga menjadi nilai tambah, karena mereka dapat saling berbagi pengalaman, belajar dari satu sama lain, serta membangun empati.

Selain itu, permainan ini juga mendorong terbentuknya iklim sosial yang lebih positif di antara santri. Ketika mereka belajar memahami emosi diri sendiri, mereka juga menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain. Hal ini secara tidak langsung dapat menurunkan potensi konflik dan perundungan di lingkungan pesantren.

Harapan ke depan

Permainan ini menjadi bukti bahwa proses belajar emosional dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas sehari-hari tanpa harus mengurangi unsur kesenangan. Di tengah tuntutan akademik dan kedisiplinan yang tinggi di pesantren, kehadiran media seperti ini dapat menjadi ruang alternatif bagi santri untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan keterampilan psikologis yang penting.

Harapannya, model intervensi ini dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya di pesantren, tetapi juga di sekolah-sekolah umum dan komunitas remaja lainnya. Dengan penyesuaian tertentu, permainan ini dapat menjadi salah satu media edukasi kesehatan mental yang mudah direplikasi dan diterapkan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved