Sabtu, 18 April 2026

KUPI BEUNGOH

Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia

Traffic light itu ibarat umur kita. Sebagian yang didesain sepaket dengan angka, dia bekerja menghitung mundur. 

Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Husaini Yusuf, S.P., M.Si adalah Putra Aceh Besar. Kini berkhidmat di Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Aceh. 

Oleh: Husaini Yusuf, S.P., M.Si*)

Ditinjau dari fungsi, traffic light (lampu pengatur lalu lintas) adalah di antara alat yang didesain untuk mengatur kelancaran berlalu lintas di jalan raya.

Gunanya, tak lain untuk mempermudah para pengendara atau pengguna jalan. 

Traffic light hanya memiliki tiga warna yakni merah, kuning dan hijau. Merah berfungsi sebagai tanda bahwa pengguna jalan harus berhenti ketika lampu warna merah nyala. 

Baca juga: Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh

Warna kuning memberikan aba-aba kepada pengendara agar hati-hati. Warna terakhir atau hijau sebagai tanda bagi pengguna jalan siap-siap untuk segera berjalan. 

Ketiga warna lampu pengatur jalur lalu lintas itu sangat penting bagi pengguna jalan dan pengendara roda dua, roda tiga, roda empat dan kenderaan muatan besar lainnya. 

Tiga warna lampu itu fungsinya bukan hanya untuk pemakai mobil saja namun untuk semua pengguna jalan bahkan untuk pejalan kaki sekalipun. 

Ketika lampu itu tidak berwarna alias padam maka akan menjadi masalah besar bagi pengendara. 

Kemacetan akan “mengular” dan suara sumbang nyaris tak henti dari para supir kendaraan. 

Bahkan pengguna jalan saling mendahului untuk mendapatkan ruang guna melepaskan diri dari kemacetan. 

Apa yang terjadi? Bunyi klakson menggema bahkan keadaan ini makin parah. 

Baca juga: Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh, Kehadiran Negara dalam Krisis Sampah - Bagian III

Ada yang berani keluar dari mobil untuk adu urat saraf dengan sesamanya tatkala mobilnya terjadi benturan. 
Tidak menutup kemungkinan akibat benturan mobil bisa memicu perkelahian sesama pengguna jalan. 

Inilah pentingnya traffic light bagi kita. Tanpa itu kesemrautan terjadi dimana-mana. 

Angka kecelakaan di jalan raya makin meningkat, rumah sakit kian sesak dengan jumlah korban dan kerugian finasial tak dapat diperhitungkan. 

Fakta empiris yang terjadi, dengan nyala-nya traffic light saja banyak pengguna jalan terutama pengendara sepeda motor (roda dua) dan becak mesin (roda tiga) bahkan mobil mewah sekalipun kerap menerobos lampu merah. 

Pertanyaan Si Kecil

Suatu ketika, saya bersama anak dengan sepeda motor berhenti ketika melihat lampu merah mulai menyala pada satu persimpangan. 

Tiba-tiba ada satu dua pengguna jalan lainnya yang memakai sepeda motor menerobos lampu merah. 

Dengan refleks anak saya bertanya kenapa bapak/abang itu jalan terus, Yah? Mungkin mereka tidak bisa membedakan warna atau tidak bisa melihat warna, jawab saya singkat. 

Baca juga: Lampu Traffic Light di Jalan Nasional Simpang Lueng Baro Nagan Sudah Lama Rusak, Ini Harapan Warga

Pada kesempatan lain, kondisi yang sama terjadi pada persimpangan lain. Ada beberapa pengendara motor dan mobil bahkan menorobos. 

Lantas anak saya menimpali. “banyak ya Yah orang yang tidak bisa lihat warna di tempat kita”. 

Saya tidak tahu menjawab apa. Selain itu, banyak pula para pengendara kerap membunyikan klakson tatkala lampu hijau keburu nyala. Inilah karakter kita. 

Kesabaran adalah kunci di jalan raya. Ingin selamat, maka bijaklah dalam berkendaraan. 

Sesuai dengan slogan yang kerap kita temui dibanyak tempat “bijak, selamat”. Kata ini singkat dan padat namun sarat makna dan mendalam. 

Ada juga slogan lain yang sering kita jumpai “hidup anda singkat, tapi jangan buat lebih singkat”.  

Ibarat Umur Kita

Traffic light itu ibarat umur kita. Sebagian yang didesain sepaket dengan angka, dia bekerja menghitung mundur. 

Kita sangat mengharapkan angka itu cepat berlalu dan kita segera berangkat. 

Bagi pengguna jalan yang agak jauh dari posisi tiang lampu maka akan memacu kendaraannya agar bisa segera mendekati lampu dan masuk dalam rombongan lampu hijau agar menghindari nyalanya lampu merah. 

Baca juga: Cegah Kecelakaan dan Tanpa Perlindungan Asuransi Penumpang, Dishub Aceh akan Tindak Angkutan Ilegal

Bagi sebagian kita, berhadapan dengan lampu merah itu dianggap sebuah masalah karena paling tidak dia akan berhenti sejenak. 

Apalagi yang keburu mengantar anak sekolah, mengejar presensi di kantor bagi ASN dan ragam alasan lainnya. 

Padahal terkadang dengan berhenti sejenak kita diajuhkan dari musibah/kecelakaan. Ini harus menjadi renungan. 

Demikian halnya umur kita, juga berlaku hitungan mundur. Jika saja sang Pemilik Alam ini Allah Azzawajalla menyiapkan alat hitung seperti halnya di traffic light, tentu kita akan menunggu dengan baik untuk berangkat. 

Ironisnya, sebagian besar kita tidak pernah menunggu angka nol itu (mati) datang bahkan berharap angka nol itu tidak pernah hadir dalam kehidupannya. 

Baca juga: Ketua DPRK Nagan Raya Ikuti Retreat di Akmil Magelang, Perkuat Lembaga Legislatif

Padahal dengan menunggu angka nol kita tentu akan menyiapkan persiapan keberangkatannya, menyiapkan bekalnya dan segala kebutuhan yang dibutuhkan saat berangkat (meninggal). 

Seruan untuk menunggu angka nol (mati) menggema dimana-mana tiap saat, setidaknya lima waktu dalam sehari dan nyaris terdengar dibanyak tempat. Namun banyak dari kita yang kerap abai. 

Kita sebenarnya belum lahir saja sudah diultimatumkan akan berangkat (mati) oleh Allah Swt. 

Hal ini terang sekali dalam firman-Nya ‘Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati’ (QS. Ali 'Imran: 185). 

Dan banyak sekali firman Allah SWT yang mengingatkan kematian, termasuk dalam QS. An-Nisa ayat 78 ‘Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh’. 

Baca juga: Bupati Abdya Safaruddin Titipkan Sejumlah Agenda Pembangunan Kepada HRD

Oleh karenanya, semasa hayat dikandung badan, maka pergunakanlah sebaik dan sebijak mungkin. 

Di mana ada kebaikan pastikan anda ada dalam golongan tersebut, konon lagi kabaikan yang amalannya sifat jariah. Jangan sebaliknya menetapkan diri dalam dosa jariah. 

*) PENULIS adalah Putra Aceh Besar. Alumnus Pascasarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) University dan Pengurus BPW Pemuda ICMI Provinsi Aceh. Email: hussainiyussuf85@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved