Opini
Sisi Gelap Tren Live Command TikTok
DI era digital saat ini perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga, batas antara hiburan dan eksploitasi semakin kabur.
Platform harus bertanggung jawab secara algoritma. Konten yang menunjukkan tanda-tanda eksploitasi atau perintah yang merendahkan martabat harus segera dideteksi oleh AI dan moderator manusia sebelum mencapai audien yang lebih luas. Di balik layar ponsel yang menyala, seringkali ada seorang anak yang sebenarnya tidak sedang mencari uang semata, tetapi sedang mencari perhatian, penerimaan, dan rasa berharga yang mungkin tidak ia temukan di rumahnya sendiri.
Di sinilah keluarga menjadi bagian yang paling menentukan bukan sekadar sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai tempat pulang secara emosional. Ketika seorang anak merasa didengar, dipeluk dalam pengertian, dan dihargai tanpa syarat, ia tidak akan mudah menukar martabatnya demi sorakan orang asing di dunia digital. Namun ketika rumah terasa sunyi dari kasih sayang, ketika komunikasi terasa dingin atau penuh tuntutan, maka ruang digital bisa menjadi pelarian yang tampak hangat, meski sebenarnya penuh jebakan.
Karena itu, mencegah dan menghentikan fenomena ini tidak cukup hanya dengan aturan atau larangan, tetapi dengan menghadirkan kembali kehangatan dalam keluarga meluangkan waktu untuk benar-benar hadir, mendengar tanpa menghakimi, dan memastikan setiap anggota keluarga merasa cukup, berharga, dan tidak perlu “membuktikan diri” kepada dunia luar dengan cara yang melukai dirinya sendiri.
Fenomena “live command” di TikTok adalah cerminan dari bagaimana teknologi bisa memengaruhi perilaku manusia positif maupun negatif. Di balik setiap gift yang diberikan, ada manusia yang mungkin sedang berjuang dengan harga dirinya. Di balik setiap tontonan, ada dampak yang bisa membekas lama setelah layar dimatikan. Karena itu, kita perlu lebih bijak sebagai pengguna media sosial. Tidak semua yang menghibur itu sehat, dan tidak semua yang viral itu layak didukung.
Dengan kesadaran, empati, dan tanggung jawab bersama, kita bisa menciptakan ruang digital yang lebih aman, manusiawi, dan bermartabat. Mari kita mulai dari diri sendiri, memilih untuk tidak ikut serta dalam eksploitasi, dan berani mengatakan bahwa martabat manusia tidak seharusnya menjadi bahan hiburan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Profesional-Konselor-dari-Universitas-Syiah-Kuala-USK-Hetti-Zuliani-PhD.jpg)