Rabu, 22 April 2026

Kupi Beungoh

Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian

Putaran kedua pertemuan perdamaian di Islamabad menjadi momentum penting dalam sejarah upaya penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Iran.

Editor: Amirullah
Istimewa
Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan berdomisili di Jakarta. 

Oleh: Yunidar Z.A

Putaran kedua pertemuan perdamaian di Islamabad menjadi momentum penting dalam sejarah upaya penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Iran.

Di tengah eskalasi ketegangan global, pertemuan ini tidak sekadar menjadi ruang diplomasi formal aktor-aktor penting para pihak yang terlibat dalam dialog. 

Tapi juga mencerminkan adanya kehendak baru dari para pihak yang bertikai untuk keluar dari lingkaran kekerasan, menuju perdamaian, dialog yang lebih terbuka, setara, dan berorientasi pada masa depan perdamaian.

Masyarakat dunia hari ini semakin menyadari bahwa perang bukan lagi instrumen penyelesaian kehendak, melainkan sumber penderitaan yang terus meluas, terutama bagi masyarakat sipil dan keamanan manusia.

Pertemuan jilid kedua di Islamabad memang berlangsung dalam suasana yang lebih tegang dibandingkan sebelumnya karena berakhirnya gencatan senjata. Namun, ketegangan tersebut justru mencerminkan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Para pihak mulai memahami posisi, kepentingan, serta batas toleransi masing-masing. Dalam konteks resolusi konflik, kondisi ini penting sebagai bagian dari proses menuju transformasi konflik, bukan sekadar penghentian sementara kekerasan.

Dialog yang dibangun tidak lagi sekadar formalitas, tetapi mulai menyentuh substansi persoalan yang selama ini menjadi akar konflik.

Agresi militer AS yang awalnya diprovokasi oleh Israel ke Iran telah terbukti membawa dampak kemanusiaan yang luar biasa.

Ribuan korban jiwa yang terus bertambah, kehancuran infrastruktur, serta runtuhnya sistem sosial menjadi bukti nyata bahwa tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam peperangan.

Baca juga: Perang dan Damai : Bagian 1

Anak-anak kehilangan masa depan, perempuan menghadapi kerentanan berlapis, dan kelompok lanjut usia menjadi korban yang sering terabaikan.

Dalam konteks perang modern, kehancuran bahkan melampaui apa yang pernah terjadi pada Perang Dunia II, dengan teknologi persenjataan yang semakin canggih dan daya hancur yang jauh lebih besar.

Oleh karena itu, pergeseran paradigma menjadi sangat mendesak. Pertemuan di Islamabad  putaran ke-2 harus dimaknai sebagai pintu masuk menuju pendekatan “jalan tengah” yang mengedepankan kompromi dan saling pengertian.

Dalam negosiasi, tidak ada solusi absolut, yang ada yaitu keseimbangan kepentingan sama-sama menang dan tidak kehilangan muka dan dapat diterima oleh semua pihak. Jika perang terus dilanjutkan, maka pada akhirnya “yang menang menjadi arang, yang kalah menjadi abu”.

Sebuah gambaran bahwa kehancuran akan dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.

Gencatan senjata yang pernah dilakukan sebelumnya memberikan pelajaran berharga. Dalam jeda konflik tersebut, para pihak dapat melihat secara lebih jernih dampak nyata dari peperangan, biaya perang, beban ekonomi yang luar biasa, tekanan sosial dunia yang meningkat, serta ketidakpastian masa depan peradaban dunia.

Pengalaman ini seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat komitmen menuju perdamaian yang berkelanjutan. Namun demikian, tantangan terbesar justru datang dari aktor-aktor yang memiliki kepentingan terhadap keberlanjutan konflik, termasuk jaringan industri persenjataan global yang telah memperoleh keuntungan besar dari perang.

Salah satu isu strategis yang menjadi perhatian dunia dalam konteks konflik ini adalah kawasan Selat Hormuz.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Jalur pelayaran ini merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi global. Ketegangan di kawasan ini, termasuk potensi blokade, telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dunia. Gangguan terhadap distribusi energi tidak hanya berdampak pada negara-negara di kawasan Timur Tengah. 

Celakanya juga menjalar hingga ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan nasional, khususnya di sektor kebutuhan energi dan pengaruh ekonomi global. Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri harus diimbangi dengan upaya serius dalam mengembangkan sumber daya domestik.

Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai negara non-blok memberikan peluang strategis untuk memainkan peran sebagai jembatan perdamaian. 

Dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia memiliki legitimasi untuk mendorong dialog dan menjadi bagian dari solusi global.

Lebih jauh lagi, stabilitas global memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial, budaya dan keagamaan. Menjelang kewajiban rukun Islam, rutinitas tahunan Ibadah Haji, umat Muslim di seluruh dunia berharap situasi internasional tetap kondusif, penghentian konflik untuk perdamaian.

Ibadah haji bukan hanya ritual keagamaan, haji adalah simbol persatuan umat Islam lintas negara. Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan berpotensi mengganggu kelancaran pelaksanaan ibadah ini, baik dari aspek keamanan maupun logistik.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan

Harapan kini dalam perundingan ke dua di Islamabad perdamaian menjadi harapan bersama yang tidak hanya bersifat politis, tetapi juga spiritual.

Pada akhirnya, perdamaian adalah sebuah proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia membutuhkan komitmen, kesabaran, dan keberanian untuk terus memperjuangkannya.

Pertemuan di Islamabad jajaran/agenda perdamaian dan para pihak yang terlibat dalam konflik harus dilihat sebagai langkah awal dari perjalanan panjang menuju rekonsiliasi permanen, sejati.

Transformasi konflik hanya dapat terwujud jika para pihak bersedia menurunkan ego, menggeser kepentingan sempit, sikap, perilaku, tindakan dan omongan di media masa yang lebih positif dapat  membangun kembali rasa saling percaya.

Terkait dengan perundingan lanjutan di Islamabad, dilaporkan bahwa perwakilan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menyampaikan kepada ABC News bahwa ia yakin putaran perundingan berikutnya akan menghasilkan keputusan yang “sangat penting” yang menjadi penentu arah ke depannya bagi kedua negara. (Senin 20 April -.Beritasatu.com). 

Perang Dunia II masa lalu, penderitaan, penyiksaan, kematian, wabah penyakit yang telah ditulis dapat menjadi Pelajaran dan monument penting sehingga manusia sekarang tidak membutuhkan lagi perang dengan mengusangkan konflik.

Dunia kontemporer membutuhkan lebih banyak dialog, kerja sama, keterhubungan, kebersamaan dan kemanusiaan. Jika momentum ini dapat dimanfaatkan dengan baik, maka bukan tidak mungkin perdamaian yang selama ini tertunda akan menemukan jalannya.

Pertemuan Islamabad putaran ke dua, sebuah harapan “negosiasi tidak buntu” perdamaian kembali dinyalakan untuk dunia baru yang lebih damai, adil, dan beradab. Bila ingin perdamaian bersiaplah untuk damai. Semoga.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 4, Pertemuan Islamabad Jalan Menuju Perdamaian

*) PENULIS Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan berdomisili di Jakarta.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved