Senin, 4 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 4, Pertemuan Islamabad Jalan Menuju Perdamaian

Perdamaian tidak semata - mata lahir dari kesepakatan formal, melainkan dari keberanian politik untuk membuka ruang dialog ...

Tayang:
Editor: Subur Dani
Serambinews.com/HO
Yunidar ZA, Anggota Asosiasi Analis Kebijkan Indonesia (AAKI). 

Oleh: Yunidar Z.A. M. Si. C.L.D.A*)

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, menyatakan bahwa Pakistan siap menjadi tuan rumah dialog antara ke dua negara yang sedang bertikai. 

Harapan baru pertemuan Islamabad menjadi salah satu titik penting dalam upaya meredakan eskalasi konflik kekerasan yang kian meluas di kawasan Timur Tengah

Sebagaimana diberitakan oleh Al Jazeera, proses diplomasi ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kelanjutan dari pertemuan awal yang diselenggarakan di Riyadh pada awal Maret lalu. 

Pertemuan tersebut melibatkan negara-negara Muslim dan Arab di Kawasan Timur Tengah yang berupaya mencari titik temu dalam meredakan ketegangan, dengan salah satu fokus awal pada pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz untuk kepentingan pelayaran global. 

Baca juga: Perang dan Damai : Bagian 1

Kemudian pertemuan menjadi fokus ke jalur diplomatik empat negara, Pakistan sebagai perantara utama Iran- AS. (Kompas, 31 Maret 2026, hal 4).

Selanjutnya, dinamika perundingan berkembang menjadi jalur diplomatik yang lebih terbatas, melibatkan aktor - aktor kunci dengan kepentingan langsung dalam konflik kekerasan, termasuk Pakistan yang tampil sebagai mediator utama antara Iran dan Amerika Serikat. 

Perang ini bukan tanpa alasan.

Pakistan memiliki posisi strategis, baik secara geopolitik maupun diplomatik dengan akses komunikasi yang relatif terbuka ke Washington, hubungan erat dengan Arab Saudi, dapat berkomunikasi dengan Iran, serta jaringan yang kuat dengan negara-negara Teluk lainnya.

Dalam konteks ini, membangun kepercayaan menjadi tantangan utama.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Perdamaian tidak semata - mata lahir dari kesepakatan formal, melainkan dari keberanian politik untuk membuka ruang dialog di tengah ketidakpercayaan yang telah lama mengakar. 

Islamabad menjadi simbol bahwa diplomasi masih memiliki ruang.

Bahkan ketika suara dentuman senjata masih terdengar di berbagai penjuru konflik dengan kekerasan.

Ancaman untuk Keamanan dan Perekonomian Dunia

Perang yang telah berlangsung selama satu bulan penuh ini membawa dampak yang sangat mengkhawatirkan masyarakat dunia.

Tidak hanya bagi stabilitas kawasan, akan tetapi juga terhadap peradaban kemanusian  global, keamanan manusia dan perekonomian dunia. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved