Selasa, 28 April 2026

KUPI BEUNGOH

Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV

Di titik inilah, pembahasan perlu bergeser dari struktur ke budaya, dari negara ke masyarakat.

Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Khairul Fajri, S.K.M., M.K.M., Ketua Yayasan Aceh Peduli Sanitasi 

Oleh: Khairul Fajri, SKM, MKM*)

Setelah menelaah pentingnya regulasi, sistem, dan kehadiran negara dalam pengelolaan sampah, kita dihadapkan pada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari: persoalan ini tidak semata-mata berhenti pada kebijakan, tetapi berakar kuat pada perilaku. 

Sistem yang dirancang sebaik apa pun akan selalu menemukan batasnya jika tidak diikuti oleh perubahan kebiasaan masyarakat.

Di titik inilah, pembahasan perlu bergeser dari struktur ke budaya, dari negara ke masyarakat.

Pengelolaan sampah pada akhirnya adalah soal keseharian. Ia hadir dalam tindakan sederhana: memilah, mengurangi, membuang atau justru mengabaikan.

Baca juga: Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh - Bagian I

Karena itu, perubahan tidak akan pernah cukup jika hanya didorong dari atas. Ia harus tumbuh dari dalam dari ruang-ruang sosial yang hidup dan memiliki pengaruh nyata dalam membentuk kebiasaan.

Dalam konteks masyarakat Aceh yang religius, ruang itu sesungguhnya sudah sangat jelas: masjid.

Masjid dan Tanggung Jawab Peradaban

Masjid dalam sejarah Islam tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat peradaban.

Dari masjid, nilai-nilai kehidupan dibangun, kesadaran sosial ditumbuhkan, dan perubahan masyarakat digerakkan.

Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, terutama persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan di berbagai wilayah Aceh, sudah saatnya masjid kembali mengambil peran strategisnya: menjadi pusat perubahan perilaku masyarakat.

Baca juga: Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Keluar dari Paradigma Kumpul, Angkut, Buang - Bagian II

Sampah hari ini bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan, lingkungan, bahkan martabat kota.

Tumpukan sampah di sudut-sudut permukiman, drainase yang tersumbat karena sampah, hingga pencemaran lingkungan adalah potret yang tidak bisa lagi ditutupi.

Ironisnya, di tengah masyarakat yang religius, kesadaran menjaga kebersihan belum sepenuhnya menjadi perilaku kolektif.

Padahal, ajaran Islam sangat tegas menempatkan kebersihan sebagai bagian dari iman. Namun, nilai ini sering berhenti pada tataran wacana, belum menjelma menjadi kebiasaan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum Gerakan Subuh

Dalam beberapa tahun terakhir, Aceh menyaksikan tumbuhnya berbagai komunitas berbasis masjid yang sangat potensial.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved