Kamis, 23 April 2026

Jurnalisme Warga

Serunya Naik Bus Rute Lampung–BSD Tangerang

Perjalanan kali ini saya tempuh dari Lampung menuju Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, Banten, menggunakan Travel Lintas Shuttle

Editor: mufti
for serambinews/IST
AULIA RIZQULLAH AZWIR, Mahasiswa Prodi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung dan alumnus SMA Sukma Bangsa Bireuen, melaporkan dari BSD Tangerang, Banten 

AULIA RIZQULLAH AZWIR, Mahasiswa Prodi Pariwisata Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung dan alumnus SMA Sukma Bangsa Bireuen, melaporkan dari BSD Tangerang, Banten

Perjalanan kali ini saya tempuh dari Lampung menuju Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, Banten, menggunakan Travel Lintas Shuttle.

Lintas Shuttle merupakan salah satu penyedia jasa transportasi darat (shuttle bus) yang sangat populer, khususnya untuk rute yang menghubungkan Bandung dengan wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Saat ini, Lintas Shuttle telah melebarkan sayapnya ke Pulau Sumatra, tepatnya ke Lampung hingga Palembang, Sumatera Selatan.

Untuk pemesanan tiket dapat dilakukan melalui Online Travel Agent (OTA), seperti

Traveloka, RedBus, dan lain-lain, juga melalui agen Lintas Shuttle setempat, serta melalui website resmi mereka, yaitu https://www.mylintas.co.id/.

Cerita dimulai

Cerita dimulai dari sini. Pada malam itu, tepatnya pada hari Jumat, 3 April 2026, saya berangkat menuju BSD pukul 21.28 WIB dikarenakan pada pukul 17.00 WIB bus tersebut masih berada di Pelabuhan Merak dan tertahan karena kapal rusak. Yang seharusnya berangkat pada pukul 18.50 WIB, jadinya berangkat pukul 21.28 WIB. Masih dapat dimaklumi penundaan jadwal keberangkatannya, karena bukan salah perusahaan, melainkan juga karena menyesuaikan kondisi kapal dan pelabuhan penyeberangan pada saat itu.

Armada baru tiba di Lampung dari Bekasi, Jawa Barat, langsung putar kepala (tektok) lagi menuju ke Bekasi dari Lampung.

Kantor Perwakilan Lintas Shuttle Cabang Lampung berada di Tanjung Karang, dekat Stasiun Tanjung Karang.

Pada malam itu driver yang

bertugas hanya satu orang, yaitu Bang Rico. Beliau juga merangkap sebagai kernet karena kru yang bertugas hanya satu orang.

Armada yang digunakan adalah armada Hiace Commuter dengan kapasitas total seat-nya itu 11. Konfigurasi seat-nya masih menggunakan konfigurasi seat ori bawaan dari pabrik Toyota.

Pada malam itu penumpang hanya terisi tujuh orang dari total sebelas seat.

Selama dalam perjalanan dari Way Halim menuju Bakauheni via tol, driver juga menyempatkan mampir di Rest Area untuk mengisi bahan bakar. Namun, setelah mampir di beberapa ‘rest area’ di Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, bahan bakar, khususnya solar, tidak tersedia, lalu driver memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Tiba di Pelabuhan Bakauheni dan masuk di Dermaga Eksekutif pada pukul 22.36

WIB. Kemudian kami menunggu kapal sekitar satu jam 11 menit. Sembari menunggu, cuaca di pelabuhan pada malam itu sedang hujan deras dan badai. Pukul 23.47 kami masuk ke dalam

Kapal KMP Sebuku. Semua armada Lintas Shuttle yang melayani rute Sumatra ke Pulau Jawa maupun sebaliknya, menggunakan kapal express atau kapal cepat. Berangkat menuju Pelabuhan Merak di Banten dari Pelabuhan Bakauheni di Lampung pada pukul

00.24 WIB dan hari sudah berganti menjadi Sabtu, 4 April 2026.

Kapal KMP Sebuku adalah kapal feri penumpang yang beroperasi di Indonesia,

dengan panjang 50-55,5 meter dan lebar 12-80 meter. Kapal ini memiliki kapasitas deadweight (sering disebut bobot mati) adalah ukuran kapasitas angkut sebuah kapal)

1.157 ton dan dibangun pada tahun 2014.

KMP Sebuku biasanya beroperasi di rute Merak-

Bakauheni. Kapal ini merupakan kapal cepat yang bersandar di Dermaga Eksekutif.

Kapal buatan tahun 2014 ini dikenal dengan fasilitas ruang penumpang ber-AC, kantin, musala, klinik, serta area VIP.

Kapal ini adalah kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry. Perbedaan kapal cepat

dengan kapal lambat dapat dilihat dari waktu tempuhnya. Kapal lambat biasanya akan

bersandar di dermaga reguler, bukan eksekutif.

Kemudian, waktu tempuh kapal lambat sekitar 1-2 jam pelayaran. Sedangkan kapal cepat hanya butuh waktu 1-

1,5 jam saja. Hal ini otomatis dapat memangkas waktu perjalanan.

Namun, harga setiap kendaraan maupun orang itu sudah pasti berbeda, dan juga menyesuaikan dengan golongan kendaraannya. Kapal lambat biasanya berhenti sejenak di sekitar pelabuhan tujuan sebelum bersandar. Hal ini terjadi karena kapal tersebut menunggu gilliran sandar di dermaga reguler karena masih terdapat kapal lain yang masih muat barang penumpang di dermaga tersebut.

Pukul 02.00 WIB KMP Sebuku sandar di dermaga eksekutiff di Pelabuhan

Merak, Banten. Keluar dari pelabuhan, mobil langsung menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar, setelah keluar dari Pelabuhan Merak. Sekaligus juga pada saat itu ada penumpang yang izin ke toilet. Pukul 02.32 WIB, mobil berangkat kembali untuk masuk Tol Merak menuju ke arah Jakarta.

Tepat 48 menit perjalanan, mobil masuk Tol Cikupa dan langsung menuju BSD.

Pukul 03.45 WIB, saya tiba di BSD dan turun di WTC Mall Matahari, Serpong.

Mobil melanjutkan perjalanan menuju ke ‘dropping points’ selanjutnya. Mobil yang saya naiki tersebut adalah unit dengan tujuan akhir ke Bekasi dan ‘dropping points’-nya itu mulai dari BSD, Mayestik, Cikini, Slipi, Jakarta, dan berakhir di Bekasi, Jawa Barat.

Kantor Lintas Shuttle Cabang Bekasi terletak di Sentra Niaga Kalimalang, Kayuringin Jaya, Kota Bekasi.

Alhamdulillah, pada pukul 03.45 WIB pagi hari, saya tiba dengan selamat di WTC

Mall Matahari, Serpong. Yang seharusnya di jadwal kami tiba itu pada pukul 02.20 WIB, tetapi karena kita telat berangkat, kita juga telat tiba di BSD. Total waktu tempuh perjalanannya adalah 6 jam 17 menit.

Menurut pengalaman saya, dengan harga Rp315.000 dari Lampung menuju BSD Tangerang sangatlah ‘worth it’. Sesuai dengan harga yang ditawarkan kita mendapatkan armada yang nyaman, free snack, s air mineral, dan waktu tempuh yang bisa diandalkan. Namun, seat yang tersedia pada armada tersebut tidak memiliki legrest, tidak ada bantal, tidak ada selimut, tidak ada ‘reclining seat’ karena seat kita menyatu dengan seat

penumpang lain, dan seatnya standar, hanya diganti kulit joknya saja.

Penyebrangan dari Bakauheni menuju Merak maupun sebaliknya juga menjadi

faktor waktu tempuh perjananan, kadang dari faktor cuaca, kapal yang tidak stand by, pelabuhan membeludak, dan lain-lain.

Ternyata, naik bus itu asyik, pengalaman yang seru

dan menarik. Ingin rasanya saya mencoba kembali di lain kesempatan, semoga sukses dan jaya selalu Lintas Shuttle. Insyaallah kita akan bertemu kembali.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved