Kupi Beungoh
PR untuk Rektor dan MPA: Menyoal Peringkat Pendidikan Aceh 2026
Peringkat kampus Aceh anjlok dari 10 besar, jadi alarm serius. Perlu pembenahan mutu pendidikan, kepemimpinan kampus, dan peran MPA.
Oleh: Redha R. Thogam, S.Sos.I, Sp.PSM
SERAMBINEWS.COM - Dalam pekan ini, media nasional detik.com mengangkat dua berita kependidikan yang “menyayat hati” orang Aceh, yaitu rangking PTN (umum dan keagamaan) di Aceh tidak masuk dalam daftar atas.
Dua kampus “jantong hate” rakyat Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah/USK) dan UIN Ar-Raniry tidak masuk dalam 10 besar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di Indonesia, versi Webometrics 2026.
Sungguh fenomena di atas bagaikan hantaman godam di siang bolong bagi pelaku pendidikan, khususnya dua rektor “jantong hate” dan Majelis Pendidikan Aceh (MPA).
Pada 25 April 2026, media nasional merilis 10 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Nasional (PTKIN) yang terdiri dari UIN Bandung, UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Lampung, UIN Malang Jawa Timur, UIN Makassar, UIN Jambi, UIN Palembang, UIN Surabaya Jawa Timur dan UIN Banten. (https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8460660/10-ptkin-terbaik-di-indonesia-tahun-2026-uin-bandung-hingga-uin-yogyakarta).
Selanjutnya, pada 27 April 2026, media yang sama merilis 20 PTN terbaik di Indonesia, yang didominasi PTN dari Pulau Jawa seperti UI, UGM, ITB, IPB, Unibraw, Undip, ITS, Unpad dan lain-lain. Dari Sumatera terdapat USU Medan, Unand Padang, Unsri Palembang dan Unila Lampung.
Pilu bercampur tangis, nama PTN dari Aceh, terutama Unsyiah, tidak masuk dalam daftar 20 besar PTN terbaik di Indonesia. Padahal 5-10 tahun lalu, Unsyiah rutin masuk 10 PTS terbaik di Indonesia (https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8462338/20-ptn-terbaik-di-indonesia-versi-webometrics-2026-ada-kampus-tujuanmu-di-utbk-snbt).
Revitalisasi Keistimewaan Aceh
Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menyandang predikat istimewa dan khusus. Salah satu keistimewaan Aceh adalah dalam bidang pendidikan.
Keistimewaan bidang pendidikan tertuang dalam UU Nomor 44/1999 tentang Penyelenggaran Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. UU Nomor 44/1999 lahir sebagai resolusi konflik DI/TII (1953-1962) dengan pemerintah RI.
Implementasi keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan adalah dengan didirikan Kampus Darussalam yang di dalamnya terdapat tiga kampus, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah/USK), UIN Ar-Raniry dan Kampus Dayah Teungku Chik Pante Kulu.
Namun, ironisnya, data terbaru pada April 2026 adalah posisi pendidikan tinggi di Aceh tidak berada pada peringkat 10 besar, baik Unsyiah maupun UIN Ar-Raniry. Ini adalah tamparan keras dan menjadi PR bagi rektor Unsyiah dan UIN Ar-Raniry.
Unsyiah baru saja menyelesaikan pemilihan rektor dan terpilih Prof Mirza Tabarani. Besar harapan digantungkan pada Rektor Unsyiah yang baru dalam mewujudkan pendidikan bermutu.
Sementara UIN Ar-Raniry masih dalam proses suksesi rektor baru. Dari pemberitaan di Serambi Indonesia, terdapat terdapat empat orang guru besar mencalonkan diri untuk jabatan Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030.
Mereka adalah Prof Muhammad Siddiq Armia PhD. Ia adalah lulusan S2 Universitas Indonesia, S3 di Cambridge Inggris, Lemhanas, dan visiting lecturer (dosen tamu) di sejumlah kampus ternama di dunia.
Siddiq Armia masuk daftar dosen paling berpengaruh di dunia (top 2 persen scientist worldwide 2025). Faktor ini berkontribusi besar dalam menempatkan UIN Ar-Raniry sebagai kampus riset terbaik di Indonesia yang dibangga-bangakan oleh elite UIN Ar-Raniry.
Selanjutnya adalah Prof Dr Saifullah MAg, tamatan S2/S3 dari UIN Yogyakarta, disusul Prof Dr Inayatillah MAg, tamatan S2 UIN Ar-Raniry dan S3 UM Malaysia, serta Prof Dr Mujiburrahman MAg, tamatan S2 UIN Bandung, S3 UUM Malaysia (Lihat: Sosok 4 Guru Besar yang Daftar Bakal Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030, Serambi Indonesia, edisi 3 April 2026).
Menteri Agama RI akan menetapkan satu dari empat nama tersebut di atas sebagai Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030. Tentu banyak pihak yang mengharapkan agar terpilih sosok yang mampu mengangkat mutu pendidikan tinggi Aceh agar masuk dalam 5 atau 10 besar PTKIN terbaik di Indonesia dan “jantong hate” yang sedang sakit akan sembuh.
Rektor UIN Ar-Raniry ke depan, selain harus mampu mengangkat mutu pendidikan agar masuk dalam Top 5 atau Top 10, juga perlu menjadikan kampus memiliki daya pikat di tinggat regional.
Rektor UIN Ar-Raniry ke depan mesti memiliki jaringan global (international and regional networking) sehingga mampu melibatkan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan internasional, baik di LN maupun di Indonesia, dan Aceh.
Kelas internasional dan pembelajaran dengan bahasa pengantar Inggris (English) dan Arab (Arabic) perlu digalakkan di lingkungan UIN Ar-Raniry. Rektor harus mengajak mahasiswa S1 untuk tidak grogi tampil dalam forum-forum regional dan internasional.
Jika tahun 2025, di UIN Ar-Raniry tampil dua akademisi yang mendapat pengakuan global (top 2 % scientist worldwide), yaitu Prof Muhammad Siddiq Armia dan Prof Mursyid Djawas, maka ke depan perlu dibuka jalan yang sama untuk mahasiswa (https://literatif.com/dua-dosen-uin-ar-raniry-masuk-daftar-top-2-persen-ilmuwan-dunia).
Muhammad Siddiq Armia dan Mursyid Djawasa dapat dijadikan model terbaik akademisi di lingkungan UIN Ar-Raniry dalam proses kaderisasi atau “penularan” kesuksesan kepada mahasiswa.
Aceh Pusat Studi Islam Dunia
Selain itu, reputasi Banda Aceh sebagai pusat kajian keislaman bagi dunia Melayu (Asia Tenggara) seperti era Kesultanan Aceh Darussalam perlu dikembalikan. Representasi kantor Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) perlu dibuka di UIN Ar-Raniry dalam upaya mendorong animo mahasiswa asal Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina hingga Kamboja dan Vietnam datang untuk belajar ke Aceh.
Selama ini, mahasiswa asal Thailand Selatan (Pattani, Yala, Narathiwat, Satun, Songkla) lebih banyak memilih belajar di Unsyiah, dan beberapa PTS seperti Universitas Serambi Mekkah, Unida, UBBG, atau Unaya. Sejatinya, Rektor UIN Ar-Raniry mampu menarik minat mereka juga.
Menyorot Peran MPA
Majelis Pendidikan Aceh (MPA) adalah lembaga keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan. Lembaga ini lahir dalam rangka mewujudkan pendidikan Aceh yang memiliki ciri khas dan unggul dari provinsi manapun.
Kantor MPA terletak dalam Kompleks Keistimewaan Aceh, satu kompleks dengan Dinas Syariat Islam, Mahkamah Syar’iyyah, Majelis Adat Aceh (MAA), dan lembaga keistimewaan lain.
Sudah lebih 20 tahun MPA berdiri, namun kondisi pendidikan Aceh masih jalan di tempat. Padahal lembaga ini diisi oleh banyak ilmuwan, bahkan bertabur professor.
Bisa jadi, tidak transparannya dalam perekrutan komesioner menjadi salah satu sebab MPA tak pernah bekerja on the track.
Pada 24 Mei 2024 lalu, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) pernah mempersoalkan adanya komesioner dan calon komesioner MPA yang rangkap jabatan, padahal itu tidak dibenarkan (https://nukilan.id/pertanyakan-rangkap-jabatan-akademisi-di-mpa-yara-surati-rektor-uin-ar-raniry).
Mengacu pada rata-rata nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) masuk PTN yang dilaksanakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), didapati mutu pendidikan level SMA/MA/SMK di Aceh rendah. Ini dibuktikan dari perolehan nilai rata-rata siswa asal SMA di Aceh bidang Sosial Humaniora (Soshum) dan Sainstek.
Nilai rata-rata siswa asal Aceh pada UTBK 2021, contohnya, berada peringkat 25, tidak masuk dalam 10 besar (Lihat wawancara Prof Syamsul Rizal, https://www.youtube.com/watch?v=HFErbooD5C0). Nilai UTBK 2026 belum diumumkan, mudah-mudahan saja nilai rata-rata anak-anak Aceh meningkat.
Evaluasi dari Kegagalan
Belum membaiknya mutu pendidikan Aceh, baik universitas maupun SMA/MA, menjadi PR bagi rektor dan MPA. MPA perlu berbenah dalam rangka mencari obat agar mutu pendidikan Aceh membaik dan bukan hanya menghabiskan dana rutin dalam APBA.
Sementara bagi rektor di Aceh dan calon rektor UIN Ar-Raniry harus memiliki agenda dalam rangka mengangkat mutu pendidikan sehingga lulusannya diperhitungkan di level nasional, regional dunia Melayu, dan internasional.
Jika hari ini, UIN Ar-Raniry dan Unsyiah tidak masuk dalam 10 besar PTKIN dan PTN terbaik, maka ke depan nama kedua kampus “jantong hate” rakyat Aceh ini harus terukir dalam jajaran top PTN di Indonesia. Insya Allah.
Banda Aceh, 29 April 2026
Penulis adalah Redha R. Thogam, S.Sos.I, Sp.PSM, Alumnus S2 Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung dan Ketua Samarata Aceh Center. Samarata adalah lembaga bergerak di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. email: thogam14@gmail.com
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Membaca Meritokrasi UTBK dan Daya Saing Lulusan Aceh dalam Seleksi Masuk PTN |
|
|---|
| Day Care, Kualifikasi Pengasuh, dan Urgensi Perlindungan Anak |
|
|---|
| Senjakala Ruang Aman Anak |
|
|---|
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Redha-R-Thogam-SSosI-SpPSMAlumnus-S2-Sekolah.jpg)