Jumat, 1 Mei 2026

Pojok Budaya

Kenduri dan Hal-hal yang Tidak Ikut Masuk Panggung

Kata "kenduri" sering diterjemahkan ke luar sebagai "selamatan" atau "pesta makan bersama."

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

Doa bersama — yang dipimpin oleh teungku atau orang yang dituakan — adalah inti acara, bukan pembuka seremonial. 

Ada pembacaan Yasin, ada doa qunut, ada pula prosesi yang berbeda tergantung hajat: kenduri sunat rasul berbeda dengan kenduri kematian, kenduri turun sawah berbeda dengan kenduri naik haji.

Baca juga: FIFA Ungkap Rencana ASEAN Cup 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah Divisi Utama

Tapi ada sesuatu yang bergerak di luar liturgi itu.

Di sela-sela doa, ada percakapan tentang sawah yang kekeringan. Ada informasi bahwa si Fulan baru pulang dari perantauan. 

Ada konflik kecil antara dua keluarga yang — secara perlahan — cair karena keduanya duduk di tikar yang sama, makan dari nasi yang sama. 

Baca juga: Hari Ke-10 Operasional Haji 2026: 5 Jemaah Indonesia Wafat, Ribuan Jemaah Sudah Tiba di Tanah Suci

Kenduri adalah ruang di mana hal-hal yang sulit disampaikan secara langsung menemukan jalan lain.

Dalam tradisi Aceh, ada istilah meusambot — menyambut, tapi juga menerima beban orang lain.

Kenduri adalah meusambot yang dilembagakan: kesediaan komunitas untuk hadir sebagai penyangga, bukan sekadar penonton.

Siapa yang Bekerja

Ada pertanyaan yang jarang diajukan dalam tulisan tentang kenduri: siapa yang sebenarnya bekerja?

Yang bekerja adalah lapisan tak terlihat: perempuan di dapur yang datang sejak pagi dan pulang paling akhir, pemuda yang mengangkat tanpa diminta, tetangga yang meminjamkan piring dengan kerelaan penuh.

Baca juga: VIDEO Putin Telepon Trump Bahas Perang Iran dan Ukraina

Kenduri berjalan di atas ekonomi gotong royong yang tak tercatat. Tidak ada invoice. Tidak ada honor. 

Yang ada adalah hutang sosial yang dilunasi di kenduri berikutnya — ketika yang tadi membantu kini giliran mengadakan, dan yang tadi mengadakan kini giliran datang membawa tangan.

Sistem ini bekerja selama semua pihak masih percaya bahwa mereka adalah bagian dari jaringan yang sama. 

Baca juga: Kasus Daycare Banda Aceh, Akademisi USM: Kekerasan di Daycare Picu PTSD dan Gangguan Kognitif Anak

Begitu kepercayaan itu retak — karena urbanisasi, karena mobilitas, karena orang kehilangan keakraban dengan tetangga di kampung yang sama — sistem ini mengendur perlahan. 

Ia digantikan oleh sesuatu yang lebih efisien tapi lebih dingin.

Khanduri yang Bermain Jazz

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved