Pojok Budaya
Kenduri dan Hal-hal yang Tidak Ikut Masuk Panggung
Kata "kenduri" sering diterjemahkan ke luar sebagai "selamatan" atau "pesta makan bersama."
Pada 30 April setiap tahun, ada satu jenis kenduri yang hadir tanpa kuah beulangong.
Tikar di halaman diganti kursi, pembagian tugas memasak diganti soundcheck. Tapi struktur sosialnya mengikuti logika yang sama.
Baca juga: Merindukan P Ramlee di Sultan Selim
Khanduri Jazz — festival tahunan yang diselenggarakan oleh Aceh Jazz Community bersama Sekolah Musik Moritza, dengan dukungan Radio Antero 102 FM — memilih nama itu sebagai klaim: bahwa berkumpul untuk mendengarkan jazz bersama bisa bekerja sebagai kenduri, selama fungsi sosialnya dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Dan ada buktinya. Di sela-sela penampilan, percakapan tentang seni tradisi Aceh terjadi di antara para penikmat jazz — percakapan yang urung terjadi di forum resmi mana pun, tapi terjadi di sini karena semua duduk di tempat yang sama.
Baca juga: Parah! Israel Tangkap Aktivis Flotilla di Perairan Internasional, Dunia Mengecam
Agenda kebudayaan yang tertulis di atas kertas kalah oleh kedekatan yang lahir dari kehadiran bersama.
Jazz sendiri adalah tradisi yang tumbuh dari logika serupa: memberi ruang tanpa kehilangan suara sendiri, merespons sebelum mendominasi.
Ia dan kenduri berbagi cara kerja yang sama — keduanya hanya hidup jika semua yang hadir benar-benar hadir.
Yang Tetap Bertahan
Di tengah semua perubahan — urbanisasi, mobilitas, media sosial yang mendokumentasikan lebih dari yang dialami — ada sesuatu dari kenduri yang tampaknya sukar digantikan.
Yang sukar digantikan adalah pengakuan kolektif yang lahir dari kehadiran fisik.
Baca juga: Puitika Tanah Rencong: Kala Taufiq Ismail Menggetarkan Malam di Gunongan
Bahwa orang-orang ini datang. Bahwa mereka duduk bersama.
Bahwa mereka merasakan sesuatu yang sama pada waktu yang sama di tempat yang sama — dan bahwa rekaman sebaik apapun hanya menyimpan bayangannya.
Di kota-kota besar, orang bisa meninggal dan tetangganya baru tahu berhari-hari kemudian.
Di banyak kampung Aceh, kenduri membuat hal semacam itu hampir mustahil — karena ada jaringan yang masih berdenyut.
Baca juga: Polda Aceh Usung Pendekatan Humanis Jelang May Day 2026, Gelar Simulasi Sispamkota
Khanduri Jazz berdiri di persimpangan antara tradisi yang sedang diuji oleh zaman dan bentuk ekspresi yang justru lahir dari pengujian semacam itu.
Bahwa festival ini memilih nama khanduri adalah pertaruhan: ia menolak posisi sebagai hiburan yang hadir lalu pergi, dan memilih untuk dipegang pada standar yang lebih berat — standar praktik yang hidup, bukan acara yang selesai.
Baca juga: Ini Jadwal Pelayaran Kapal ASDP di Aceh Singkil Mulai 1 - 17 Mei 2026
| Ini Jadwal Pelayaran Kapal ASDP di Aceh Singkil Mulai 1 - 17 Mei 2026 |
|
|---|
| Sudah Bertahun Dangkal, Nelayan Sampaikan Keluhan ke Bupati Mirwan, Ini Tanggapannya |
|
|---|
| Amalan Sesudah Sholat Wajib 5 Waktu, Begini Bacaan Zikir dan Tata Caranya |
|
|---|
| RESMI! Ini Daftar Tarif Listrik PLN Terbaru per 1 Mei 2026, Cek Rincian Harga Masing-Masing Daya |
|
|---|
| Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 Mei 2026 di Seluruh Indonesia, Masih Stabil? Ini Daftar Lengkapnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MORITZA-THAHER.jpg)