Jumat, 1 Mei 2026

Pojok Budaya

Kenduri dan Hal-hal yang Tidak Ikut Masuk Panggung

Kata "kenduri" sering diterjemahkan ke luar sebagai "selamatan" atau "pesta makan bersama."

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

Oleh: Moritza Thaher*)

Aroma kuah beulangong hanya bisa diiklankan lewat pengalaman langsung — dan itu bukan kebetulan.

Setiap kali ada kenduri di kampung, yang datang pertama adalah tetangga yang membawa beras, atau kayu bakar, atau sekadar tangan kosong yang siap bekerja. 

Kuali besar sudah berdiri di halaman sejak subuh. 

Baca juga: Sebelum Kampus Sempat Bicara!

Baca juga: JKA, Politik Anggaran, dan Soliditas PA Sebagai Partai Penguasa di Aceh

Perempuan-perempuan di dapur sudah saling bertukar posisi tanpa briefing. Lelaki mengangkat kursi, menggelar tikar, memotong dan mengantar. 

Semua sudah tahu perannya — karena sudah ratusan kali menyaksikan.

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian

Itulah kenduri: praktik sosial yang berjalan di atas hafalan kolektif. 

Dan di balik hafalan itu tersimpan fungsi yang lebih dalam — kenduri adalah cara sebuah komunitas memeriksa apakah ikatan di antara mereka masih hidup.

Lebih dari Makan Bersama

Kata "kenduri" sering diterjemahkan ke luar sebagai "selamatan" atau "pesta makan bersama."

Keduanya tepat, tapi keduanya terlalu sempit. Kenduri di Aceh — meski praktiknya berbeda di setiap wilayah, kampung, bahkan keluarga — adalah mekanisme sosial yang jauh lebih kompleks dari sekadar penyajian makanan.

Baca juga: Mahfud MD Soroti Kinerja Komnas HAM, Dinilai Kurang Aktif dalam Kasus Andrie Yunus

Kenduri adalah cara komunitas memverifikasi bahwa seseorang masih ada di dalam jaringannya.
Ketika seseorang meninggal, ada kenduri. Ketika anak lahir, ada kenduri. 

Ketika rumah baru ditempati, ketika anak khatam Quran, ketika seseorang sembuh dari sakit panjang — ada kenduri. 

Setiap kenduri menandai momen transisi: seseorang atau sesuatu berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain, dan komunitas hadir untuk menjadi saksi, sekaligus untuk memastikan bahwa transisi itu sah, diakui, dan jauh dari sepi.

Baca juga: Uji Kualitatif Tuntas, Berkas Pertimbangan Kandidat Rektor UIN Ar-Raniry Menuju Meja Menteri Agama

Yang dijaga dalam kenduri adalah ikatan — dan peristiwa hanya menjadi alasannya.

Doa, Tapi Lebih dari Doa

Kenduri di Aceh selalu hadir bersama dimensi spiritual. 

Doa bersama — yang dipimpin oleh teungku atau orang yang dituakan — adalah inti acara, bukan pembuka seremonial. 

Ada pembacaan Yasin, ada doa qunut, ada pula prosesi yang berbeda tergantung hajat: kenduri sunat rasul berbeda dengan kenduri kematian, kenduri turun sawah berbeda dengan kenduri naik haji.

Baca juga: FIFA Ungkap Rencana ASEAN Cup 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah Divisi Utama

Tapi ada sesuatu yang bergerak di luar liturgi itu.

Di sela-sela doa, ada percakapan tentang sawah yang kekeringan. Ada informasi bahwa si Fulan baru pulang dari perantauan. 

Ada konflik kecil antara dua keluarga yang — secara perlahan — cair karena keduanya duduk di tikar yang sama, makan dari nasi yang sama. 

Baca juga: Hari Ke-10 Operasional Haji 2026: 5 Jemaah Indonesia Wafat, Ribuan Jemaah Sudah Tiba di Tanah Suci

Kenduri adalah ruang di mana hal-hal yang sulit disampaikan secara langsung menemukan jalan lain.

Dalam tradisi Aceh, ada istilah meusambot — menyambut, tapi juga menerima beban orang lain.

Kenduri adalah meusambot yang dilembagakan: kesediaan komunitas untuk hadir sebagai penyangga, bukan sekadar penonton.

Siapa yang Bekerja

Ada pertanyaan yang jarang diajukan dalam tulisan tentang kenduri: siapa yang sebenarnya bekerja?

Yang bekerja adalah lapisan tak terlihat: perempuan di dapur yang datang sejak pagi dan pulang paling akhir, pemuda yang mengangkat tanpa diminta, tetangga yang meminjamkan piring dengan kerelaan penuh.

Baca juga: VIDEO Putin Telepon Trump Bahas Perang Iran dan Ukraina

Kenduri berjalan di atas ekonomi gotong royong yang tak tercatat. Tidak ada invoice. Tidak ada honor. 

Yang ada adalah hutang sosial yang dilunasi di kenduri berikutnya — ketika yang tadi membantu kini giliran mengadakan, dan yang tadi mengadakan kini giliran datang membawa tangan.

Sistem ini bekerja selama semua pihak masih percaya bahwa mereka adalah bagian dari jaringan yang sama. 

Baca juga: Kasus Daycare Banda Aceh, Akademisi USM: Kekerasan di Daycare Picu PTSD dan Gangguan Kognitif Anak

Begitu kepercayaan itu retak — karena urbanisasi, karena mobilitas, karena orang kehilangan keakraban dengan tetangga di kampung yang sama — sistem ini mengendur perlahan. 

Ia digantikan oleh sesuatu yang lebih efisien tapi lebih dingin.

Khanduri yang Bermain Jazz

Pada 30 April setiap tahun, ada satu jenis kenduri yang hadir tanpa kuah beulangong. 

Tikar di halaman diganti kursi, pembagian tugas memasak diganti soundcheck. Tapi struktur sosialnya mengikuti logika yang sama.

Baca juga: Merindukan P Ramlee di Sultan Selim

Khanduri Jazz — festival tahunan yang diselenggarakan oleh Aceh Jazz Community bersama Sekolah Musik Moritza, dengan dukungan Radio Antero 102 FM — memilih nama itu sebagai klaim: bahwa berkumpul untuk mendengarkan jazz bersama bisa bekerja sebagai kenduri, selama fungsi sosialnya dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Dan ada buktinya. Di sela-sela penampilan, percakapan tentang seni tradisi Aceh terjadi di antara para penikmat jazz — percakapan yang urung terjadi di forum resmi mana pun, tapi terjadi di sini karena semua duduk di tempat yang sama. 

Baca juga: Parah! Israel Tangkap Aktivis Flotilla di Perairan Internasional, Dunia Mengecam

Agenda kebudayaan yang tertulis di atas kertas kalah oleh kedekatan yang lahir dari kehadiran bersama.

Jazz sendiri adalah tradisi yang tumbuh dari logika serupa: memberi ruang tanpa kehilangan suara sendiri, merespons sebelum mendominasi. 

Ia dan kenduri berbagi cara kerja yang sama — keduanya hanya hidup jika semua yang hadir benar-benar hadir.

Yang Tetap Bertahan

Di tengah semua perubahan — urbanisasi, mobilitas, media sosial yang mendokumentasikan lebih dari yang dialami — ada sesuatu dari kenduri yang tampaknya sukar digantikan.

Yang sukar digantikan adalah pengakuan kolektif yang lahir dari kehadiran fisik. 

Baca juga: Puitika Tanah Rencong: Kala Taufiq Ismail Menggetarkan Malam di Gunongan

Bahwa orang-orang ini datang. Bahwa mereka duduk bersama. 

Bahwa mereka merasakan sesuatu yang sama pada waktu yang sama di tempat yang sama — dan bahwa rekaman sebaik apapun hanya menyimpan bayangannya.

Di kota-kota besar, orang bisa meninggal dan tetangganya baru tahu berhari-hari kemudian. 

Di banyak kampung Aceh, kenduri membuat hal semacam itu hampir mustahil — karena ada jaringan yang masih berdenyut.

Baca juga: Polda Aceh Usung Pendekatan Humanis Jelang May Day 2026, Gelar Simulasi Sispamkota

Khanduri Jazz berdiri di persimpangan antara tradisi yang sedang diuji oleh zaman dan bentuk ekspresi yang justru lahir dari pengujian semacam itu. 

Bahwa festival ini memilih nama khanduri adalah pertaruhan: ia menolak posisi sebagai hiburan yang hadir lalu pergi, dan memilih untuk dipegang pada standar yang lebih berat — standar praktik yang hidup, bukan acara yang selesai.

Baca juga: Ini Jadwal Pelayaran Kapal ASDP di Aceh Singkil Mulai 1 - 17 Mei 2026

Khanduri Jazz adalah pertanyaan yang diajukan setiap 30 April: apakah bukti itu masih bisa dibuat dari nada, bukan dari nasi?

Kenduri adalah bukti bahwa komunitas itu ada. Bukan klaim, tapi bukti.(*)

*) Penulis adalah musisi yang berbasis di Banda Aceh. Tulisannya berfokus pada ekosistem seni, budaya, dan pendidikan — khususnya jarak antara cara sistem itu diklaim bekerja dan cara ia benar-benar bekerja. Ia mendirikan Sekolah Musik Moritza pada 1991 dan masih aktif mengajar hingga hari ini.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved