Kupi Beungoh
Hardiknas dan Ruang Kelas yang Sunyi: Benarkah Anak Sudah Merdeka Belajar?
Namun di balik seremoni dan slogan, ada ruang-ruang kelas yang belum sepenuhnya menjadi tempat aman bagi anak untuk bertumbuh.
Ketika guru tidak memahami fase ini, yang terjadi adalah pemaksaan kedewasaan sebelum waktunya, anak dituntut duduk rapi, menulis cepat, memahami konsep abstrak, tanpa diberikan ruang untuk berproses.
Di tengah kondisi ini, ada anak-anak yang lebih rentan. Anak yang belum mandiri, yang masih bergantung pada orang tua, yang mungkin belum sepenuhnya siap secara emosional untuk bersekolah.
Anak seperti ini sering kali dilabeli “lambat”, “tidak siap”, bahkan “mengganggu”.
Padahal, yang mereka butuhkan bukan label, melainkan pendekatan yang lebih sabar, kolaboratif, dan manusiawi.
Di sinilah pentingnya kerja bersama. Guru tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya. Dan dinas pendidikan tidak cukup hanya membuat kebijakan di atas kertas.
Dibutuhkan kolaborasi nyata: Guru yang mau memahami karakter anak secara individu .
Orang tua yang terlibat aktif dalam proses belajar, Dinas pendidikan yang memastikan pelatihan guru sesuai kebutuhan lapangan
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang kurikulum dan target capaian, tetapi tentang membantu anak mau datang ke sekolah dengan hati yang senang, merasa aman, dan percaya bahwa dirinya mampu belajar.
Hardiknas seharusnya menjadi momentum refleksi yang jujur.
Bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan hanya pada fasilitas atau teknologi, tetapi pada kesiapan manusia yang menjalankannya.
Guru yang memahami anak adalah kunci. Tanpa itu, ruang kelas hanya menjadi tempat mentransfer materi, bukan tempat menumbuhkan kehidupan.
Jika masih ada anak yang enggan ke sekolah, yang diam di sudut kelas, yang belum percaya diri untuk berbicara, maka tugas kita belum selesai.
Pendidikan belum sepenuhnya hadir untuk mereka. Dan mungkin, peringatan Hardiknas tahun ini perlu kita maknai bukan dengan tepuk tangan, tetapi dengan satu pertanyaan sederhana: Sudahkah kita benar-benar melihat pendidikan dari mata anak?
Untuk anak-anak hebat, mari terus bersekolah, mari belajar dan bertumbuh.
*) PENULIS adalah Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah (USM).
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
| Ruang Aman Bagi Anak dalam Sistem Pengasuhan |
|
|---|
| Catatan Kritis Pendidikan Indonesia pada Hardiknas 2026 |
|
|---|
| Kepemimpinan Perempuan dalam Pendidikan: Substansi atau Sekadar Simbol? |
|
|---|
| May Day 2026 Menjadi Momentum Refleksi Bagi Dunia Ketenagakerjaan Indonesia |
|
|---|
| JKA, Politik Anggaran, dan Soliditas PA Sebagai Partai Penguasa di Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Wahyu-Khafidah-Dosen-0101.jpg)