Selasa, 5 Mei 2026

Kupi Beungoh

Menjaga Api yang Terus Menyala: Kiat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh

Masalah sampah Aceh tak cukup dengan gerakan sesaat. Butuh sistem berkelanjutan, kolaborasi, dan perubahan perilaku agar solusi benar-benar berdampak.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Khairul Fajri, SKM, MKM (Yayasan Aceh Peduli Sanitasi) 

 Di sinilah peran gampong menjadi sangat penting. Program nasional harus “diterjemahkan” dalam konteks lokal:

  • TPS3R dikelola berbasis komunitas
  • Masjid menjadi pusat edukasi dan praktik pemilahan 
  • Pemuda menjadi motor penggerak perubahan perilaku

Jika ini berjalan, maka program nasional tidak lagi terasa sebagai proyek pemerintah, tetapi menjadi milik masyarakat.

Tanggung Jawab Bersama: Pemerintah, Masyarakat, dan Produsen

Keberlanjutan tidak mungkin dicapai jika beban hanya ditanggung oleh satu pihak. Kebijakan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 menegaskan bahwa produsen juga harus bertanggung jawab atas kemasan produknya.

Aceh perlu mendorong implementasi kebijakan ini dengan:

  • Kemitraan antara pemerintah daerah dan dunia usaha
  • Sistem pengumpulan kemasan pascakonsumsi
  • Dukungan terhadap inovasi pengurangan kemasan

Dengan demikian, pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya urusan pemerintah atau masyarakat.

Budaya Pilah Sampah sebagai Fondasi

Tidak ada sistem yang berhasil tanpa perubahan perilaku. Negara-negara maju berhasil karena masyarakatnya disiplin memilah sampah dari sumber. Aceh memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah lain: nilai agama dan jaringan sosial yang kuat. Masjid, balai-balai pengajian, dan komunitas lainnya dapat menjadi pusat edukasi lingkungan yang efektif.

Gerakan seperti Subuh Berkah Bersaudara, Komunitas Pemuda Subuh dapat memainkan peran strategis dalam membangun budaya ini. Jika pemilahan sampah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka separuh masalah telah terselesaikan.

Integrasi dengan Kesehatan dan Lingkungan

Pengelolaan sampah tidak bisa dipisahkan dari kesehatan masyarakat. Lingkungan yang kotor menjadi sumber berbagai penyakit, mulai dari diare hingga DBD. Dalam konteks ini, pengelolaan sampah harus diintegrasikan dengan program kesehatan lingkungan:

  • Pengendalian vektor penyakit
  • Sanitasi berbasis masyarakat
  • Sistem surveilans lingkungan

Dengan pendekatan ini, pengelolaan sampah bukan hanya menjaga kebersihan, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Konsistensi dan Pendanaan Berkelanjutan

Banyak program gagal bukan karena konsepnya salah, tetapi karena tidak konsisten. Program berjalan baik di awal, lalu melemah karena tidak ada dukungan lanjutan. Aceh harus memastikan bahwa setiap inisiatif memiliki:

  • Sistem monitoring yang jelas
  • Dukungan anggaran berkelanjutan
  • Kelembagaan yang kuat

Pemanfaatan dana nasional seperti DAK lingkungan serta kemitraan dengan sektor swasta harus dioptimalkan. Di sisi lain, inovasi lokal seperti iuran berbasis layanan dan ekonomi sirkular dapat menjadi sumber pembiayaan tambahan.

Dari Gerakan ke Peradaban

Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan sekadar soal teknis, tetapi soal peradaban. Negara-negara maju menjadi bersih bukan karena teknologi semata, tetapi karena mereka berhasil membangun sistem, budaya, dan kesadaran kolektif.

Aceh telah memulai langkah penting melalui berbagai gerakan komunitas. Namun, perjalanan ini belum selesai. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa semua upaya ini terus hidup, berkembang, dan berkelanjutan.

Kita tidak bisa lagi bergantung pada gerakan sesaat. Pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari sistem kehidupan sehari-hari di rumah, di masjid, di sekolah, dan di ruang publik.

Sebagai penutup dari rangkaian tulisan ini, satu hal yang perlu ditegaskan: Aceh yang bersih dan sehat bukanlah mimpi yang jauh. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved