Selasa, 5 Mei 2026

Citizen Reporter

Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan

Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Brunei

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara. 

Muhammad Rafis Khalis, mahasiswa UIN Ar-Raniry melaporkan dari Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam 

***

Brunei Darussalam itu memang negara kecil. Tapi jangan remehkan. Sistemnya besar. Kuasanya absolut. Dan yang menarik: keteraturan sosialnya justru lahir dari sistem yang terpusat kuat pada satu orang.

Brunei adalah satu dari dua monarki absolut yang tersisa di Asia selain Negara Bhutan. 

Sultan Hassanal Bolkiah bertindak sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Raja, Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Keuangan sekaligus. 

Intinya: beliau segalanya. Dan rakyatnya? Makmur dan Sejahtera.

Saya, Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. 

Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara.

mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara.
mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara. (Serambinews.com/HO)

Selama dua pekan di Brunei, saya dan kawan-kawan tidak hanya belajar di kelas. Kami melihat langsung bagaimana Negara kecil ini mengelola agama, budaya, publik, bahkan alamnya.

Religius yang Terjaga Negara

Brunei menerapkan hukum Syariat Islam secara resmi sejak 2014. Meski dikecam dunia internasional, mereka tidak peduli dan goyah. 

Hukuman rajam, cambuk, hingga amputasi bagi pencuri, pelaku zina, dan hubungan sesama jenis diberlakukan secara kaffah, Kontroversial? Jelas. Tapi itulah konsistensi Negara Brunei Darussalam.

Saya merasakan sendiri bagaimana atmosfer religius itu sendiri, Adzan berkumandang tepat waktu. 

Semua aktivitas berhenti saat masuk waktu shalat. Toko tutup. Masjid langsung penuh. Bahkan pemerintah mewajibkan tutup setiap hari Jumat.

Baca juga: Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam

"Religiusnya kerasa banget, dan itu semua dijaga sama negara," begitu yang saya tulis dalam catatan harian.

Wanita Brunei sebagian besar memakai baju kurung dan hijab sesuai penerapan syariat. 

Tidak pernah terlihat pakaian terbuka di ruang publik. Bagi kami rasanya nyaman seperti di Aceh sehari-hari.

Tertib Membudaya, Bukan Dipaksa

Saya terkesan bukan karena Brunei rapi dan sangat bersih,  tapi karena kerapian itu terasa sangat alami.

Pejalan kaki benar-benar diutamakan. Lalu lintas damai, nyaris tanpa suara klakson, tanpa knalpot brong dan sebagainya, jalan raya mulus, bersih, minim sampah. 

Fasilitas publik seperti taman, halte, dan masjid terawat sekali.

Pelayanan publiknya sangat ramah. Dari petugas bandara hingga staf kampus, semua murah senyum dan sabar melayani. Budaya bermufakat (musyawarah) masih hidup dalam keseharian mereka.

Ini bukan sekadar disiplin. Ini akhlak yang sudah membudaya bagi warga Brunei.

Hutan yang Diselamatkan dari Modernisasi

Yang paling mengejutkan: di tengah kekayaan minyak dan gaya hidup modern, Brunei berhasil melestarikan hampir 80 persen wilayahnya sebagai hutan hujan yang sangat asri.

Sebagai karya Sultan dalam melestarikan tanaman membuat Brunei seperti Kota di tengah hutan,
Taman Jerudong yang dibangun dengan dana US$ 1 miliar (sekitar Rp14 triliun) memang sangat megah. 

Baca juga: UIN Ar-Raniry Perpanjang MoU dengan UNISSA, Buka Akses Riset dan Mobilitas Mahasiswa ke Brunei

Tapi kemegahannya yang tak merusak. Di balik taman hiburan termahal se-Asia Tenggara itu, hutan tropis tetap dijaga. Sehingga flora dan fauna masih ada rumahnya masing-masing.

Brunei membuktikan bahwa modernitas dan kelestarian bisa berjalan berdampingan untuk keseimbangan hidup dengan alam, 

Warisan Serumpun yang Membanggakan

Tapi yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah ketika menelusuri jejak hubungan sejarah Aceh dan Brunei, dimana sejumlah aturan yang termuat dalam Qanun Brunei persis seperti Qanun Al-Asyi (Qanun Meukuta Alam) produk intelektual Aceh pada Kesultanan Aceh Darussalam.

Kemudian kami berziarah ke makam Sultan Bolkiah dan sultan-sultan lain. Batu nisannya, tulisan Jawi di kompleks makam mirip sekali dengan makam kuno di Aceh.

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Muhammad Rafis Khalis menerima Cendera Mata Dari Ustadz Ahmad di Penborneo (pusat pengkajian borneo) Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Muhammad Rafis Khalis menerima Cendera Mata Dari Ustadz Ahmad di Penborneo (pusat pengkajian borneo) Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam (Serambinews.com/HO)

Di Penberneo (Pusat Sejarah Brunei) dan perpustakaan UNISSA, saya melihat manuskrip kuno Melayu-Jawi tentang hukum dalam Qanun, sastra hikayat, sampai surat-surat diplomatik antara Kesultanan Brunei dengan kerajaan-kerajaan Nusantara, termasuk Aceh.

Konsep Melayu Islam Beraja bukan sekadar jargon. Hidup budaya bertitah, penghormatan pada Sultan, hingga kebijakan negara menjaga khazanah keilmuan dan makam leluhur semuanya nyata.

Khazanah Manuskrip dan Kesadaran yang Terkuak

Tapi ada satu hal yang benar-benar menggetarkan saya saat berdiri di depan lemari-lemari kaca berisi manuskrip kuno itu. Bukan sekadar kagum. Tapi rasa dikenal.

Sebab Aceh, tanah kelahiran saya, dulu adalah pusat tradisi penulisan manuskrip dalam dunia Melayu-Islam. Bukan cerita lebay. Fakta sejarah.

Aceh dikenal sebagai pusat intelektual Nusantara pada masanya. Puluhan abad lalu, ulama-ulama Aceh menulis dalam berbagai kategori ilmu: fiqih, tasawuf, tafsir, hadis, sejarah, sastra, hingga ilmu pemerintahan. 

Naskah-naskah itu kemudian disebarkan ke seluruh pelosok Nusantara, terutama ke kerajaan-kerajaan Melayu-Islam lainnya, termasuk Bumi Berneo ini.

Aceh adalah gurunya. Brunei adalah murid yang setia menjaga ilmu. Saya tidak asing dengan pemandangan itu.

"Sebelum saya menginjak kaki ke kampus, kedua orang tua saya selalu menyarankan supaya saya bisa memanfaatkan manuskrip ini sebagai gudang ilmu," kenang saya.

Orang tua saya bahkan menyarankan saya untuk mengambil ilmu khusus tentang manuskrip: Filologi. Tapi masalahnya, di UIN Ar-Raniry kampus saya sendiri tidak ada program studi Filologi. 

Maka dengan segala pertimbangan, saya akhirnya terpikat masuk ke Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Jalur lain, tapi akar yang sama: tetap ingin menyuarakan ilmu.

Namun, minat pada manuskrip tidak pernah benar-benar pergi dari hidup saya.

"Saya terus melihat suasana di rumah. Hampir setiap hari ada tamu. Peneliti, pemerintah, mahasiswa—dalam negeri maupun luar negeri—datang ke rumah orang tua saya," cerita saya.

Baca juga: Rumoh Manuskrip Aceh Dikunjungi Ribuan Orang Selama PKA 8, Ketua MPU Aceh Puji Cek Midi

Rumah saya seperti perpustakaan hidup. Koleksi manuskrip kuno Aceh yang dimiliki orang tua saya menjadi destinasi studi bagi mereka yang haus akan naskah-naskah tua. 

Saya tumbuh di tengah hiruk-pikuk keilmuan itu. Tapi anehnya, kesadaran penuh belum datang. Masih samar.

Baru setelah saya berdiri di Brunei, melihat sendiri bagaimana negara ini menjaga, merawat, dan membanggakan manuskripnya sebagai warisan peradaban sesuatu berubah dalam jiwa saya.

"Setelah saya melihat penjagaan dan pemeliharaan manuskrip di luar negeri, saya sadar. Saya harus lanjutkan ini. Kesadaran saya terkuak sekarang."

Saya tidak lagi sekadar bangga punya koleksi manuskrip di rumah. Saya sekarang paham: manuskrip bukan barang usang. Ia adalah gudang akal, dokumen peradaban, dan mungkin bagi saya panggilan yang selama ini saya hindari.

Bersama Ustadz Muhammad dan Ustadz Fatahillah dan rombongan Mahasiswa UIN Ar-Raniry di Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam
Bersama Ustadz Muhammad dan Ustadz Fatahillah dan rombongan Mahasiswa UIN Ar-Raniry di Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam (Serambinews.com/HO)

"Filologi itu ilmu tentang manuskrip. Di Aceh kita punya banyak. Tapi kita belum serius menjaganya karena banyak keterbatasan fasilitas dan minimnya SDM kalangan muda.  Brunei mengajarkan saya bahwa menjaga naskah tua sama pentingnya dengan menulis naskah baru."

Didukung Diaspora Aceh di Brunei

Selama di Brunei, saya tidak sendiri. Ada Ustadz Hilmi, warga Negara Brunei dan sanak familynya ada Ustadz Jufri, Ustadz Fahmi, dan Tgk Ahyar yang sedang menjalani S2 di sana. Mereka  membantu kami mengakses berbagai tempat sejarah Brunei.

Mereka juga memperkenalkan kami dengan Ustadz Muhammad, orang yang dituakan oleh diaspora Aceh di Brunei.

"Beliau semua sudah seperti ayah kami di sini," selama dua pekan.

Kami juga diperkenalkan dengan Ustadz Fatahillah dan dosen pembimbing kami selama di UNISSA, Dr. Efna Durani.

Pulang dengan Cerita, Bawa Pelajaran

Dua pekan di Brunei membuka mata saya.

Brunei mengajarkan bahwa negara kecil pun bisa besar jika sistemnya utuh. Bahwa hukum yang tegas bukan musuh kenyamanan. 

mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara
mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara (Serambinews.com/HO)

Bahwa modernitas tak harus membunuh alam. Bahwa manuskrip bukan sekadar kertas tua, tapi sesungguhnya dia jantung peradaban.

Dan yang paling penting: bahwa Aceh dan Brunei, kita serumpun. Bukan hanya secara budaya dan syariat, tapi juga dalam cara memuliakan leluhur, ilmu, dan agama.

Baca juga: Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam

Saya pulang sebagai orang Aceh yang lebih bangga. Dan sedikit lebih paham: menjadi serumpun itu bukan hanya soal sejarah yang sama, tapi juga soal keberanian dalam komitmen mempertahankan identitas.

"Kita dan Brunei serumpun. Dari cara berpakaian, infrastruktur rapi, ziarah makam Sultan, sampai cara negara menjaga agama, ilmu, dan manuskrip sebagai tulang punggung produk budaya masa lalu, semuanya pelajaran penting. Bikin saya makin bangga jadi orang Aceh."

Dari Brunei, Rafis pulang bukan dengan tangan kosong. Saya pulang dengan kesadaran yang terkuak: bahwa menjadi sarjana tidak harus selalu tentang hal-hal baru. 

Kadang, menjaga yang lama adalah bentuk keberanian yang paling langka.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved