Jurnalisme Warga
Menyemai Ide Pendidikan Sehat, Berkelanjutan, dan Berakar pada Sejarah Aceh
Aceh tidak pernah miskin pangan. Yang mulai hilang justru kesadaran generasinya. Di tengah derasnya arus makanan instan
GUNAWAN, Guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe dan Anggota FAMe Chapter Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
Aceh tidak pernah miskin pangan. Yang mulai hilang justru kesadaran generasinya. Di tengah derasnya arus makanan instan dan pembelajaran yang semakin jauh dari realitas, sekolah perlahan menjauh dari akar kehidupan: tanah. Dalam situasi itulah, selama lima hari,
20–24 April 2026, saya mengikuti pelatihan pengembangan modul ajar hasil kolaborasi Yayasan Sukma Bangsa bersama Yayasan Empu Sendok Art Science (ESAS) yang dilaksanakan di Sekolah Sukma Bangsa Bireun.
Acara ini dihadiri oleh Co-Founder ESAS, Ibu Felia Salim beserta tim.
Pelatihan ini tidak sekadar menyusun perangkat pembelajaran, tetapi juga merancang ulang arah pendidikan. Termasuk upaya mengintegrasikan asupan sehat dan Bumi sehat bagi siswa SD, SMP, hingga SMA, sekaligus mengaitkannya kembali dengan sejarah dan kebudayaan Aceh sebagai wilayah yang sejak dahulu kaya akan sumber pangan.
Pelatihan ini membuka kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh terlepas dari konteks lokal. Dalam sejarahnya, Aceh tidak hanya dikenal sebagai Serambi Makkah dalam aspek keagamaan, tetapi juga sebagai daerah agraris dan maritim yang kuat.
Tanah Aceh sejak masa kesultanan telah menjadi pusat produksi pangan, baik dari sektor pertanian maupun hasil laut (Reid, 1993). Padi, rempah-rempah, kelapa, hingga hasil laut seperti ikan dan udang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga membentuk budaya makan yang sehat dan beragam.
Jejak yang terpinggirkan
Dalam berbagai literatur sejarah, Aceh pernah menjadi salah satu wilayah penting dalam jalur perdagangan dunia. Komoditas seperti lada dan hasil bumi lainnya menjadikan Aceh dikenal luas hingga ke mancanegara (Lombard, 2006). Ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, masyarakat Aceh memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sumber daya alam secara produktif.
Sayangnya, kesadaran akan kekayaan ini mulai memudar di tengah arus modernisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat (FAO, 2019).
Melalui pelatihan ini, kami diajak untuk “menghidupkan kembali” nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran. Hari pertama dimulai dengan refleksi tentang makanan: apa yang kita konsumsi, dari mana asalnya, dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan serta lingkungan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24).
Ayat ini mengajak manusia untuk tidak sekadar makan, tetapi juga berpikir dan merenungkan proses di baliknya.
Diskusi ini kemudian mengarah pada kesadaran bahwa banyak makanan lokal Aceh sebenarnya memiliki kandungan gizi yang tinggi, bahkan lebih sehat dibandingkan makanan
instan yang kini semakin mendominasi (Kemenkes RI, 2020).
Singkong, ubi, daun kelor, ikan segar, hingga aneka sayur lokal adalah contoh nyata kekayaan pangan Aceh.
Dalam perspektif sejarah, makanan-makanan ini tidak sekadar untuk dikonsumsi, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Pola makan masyarakat Aceh dahulu cenderung alami, berbasis hasil kebun dan laut, serta minim proses industri (Geertz, 1983). Ini yang kemudian kami coba integrasikan ke dalam modul ajar: mengajak siswa mengenal kembali pangan lokal sebagai sumber gizi yang sehat dan berkelanjutan.
Dari kelas ke kebun
Memasuki hari kedua dan ketiga, fokus pelatihan kami beralih pada penyusunan modul ajar berbasis integrasi. Di sinilah kami coba mengaitkan pelajaran dengan realitas lokal dan sejarah. Misalnya, dalam mata pelajaran IPA, siswa tidak hanya belajar tentang zat gizi,
tetapi juga meneliti kandungan nutrisi pada makanan tradisional Aceh. Dalam pelajaran IPS, mereka diajak memahami bagaimana sistem pertanian dan perdagangan pangan Aceh berkembang sejak dahulu.
Sementara itu, dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat menulis refkleksi pembelajaran, teks prosedur atau laporan hasil pengamatan tentang makanan lokal dan proses pengolahannya (Kemendikbud, 2022).
Salah satu poin penting yang sangat ditekankan adalah pemanfaatan tanah sebagai media pembelajaran. Dalam sejarah Aceh, tanah bukan sekadar lahan, melainkan juga sumber kehidupan. Hal ini sejalan dengan konsep manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di Bumi), sebagaimana firman Allah Swt, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah
di Bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30). Artinya, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola Bumi dengan bijak.
Setelah kami menyusun modul ajar, siswa diajak untuk memanfaatkan lahan kosong di sekolah sebagai kebun kecil. Mereka bisa menanam sayuran, tanaman obat, atau tanaman pangan lokal lainnya. Aktivitas ini tidak hanya mengajarkan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini memiliki makna simbolis: menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka. Ketika siswa menanam dan merawat tanaman, mereka sebenarnya sedang belajar tentang sejarah panjang masyarakat Aceh yang hidup berdampingan dengan alam. Mereka memahami bahwa pangan tidak datang begitu saja, tetapi melalui proses panjang yang melibatkan kerja keras dan kearifan lokal.
Pada hari terakhir pelatihan, setiap kelompok mempresentasikan modul yang telah disusun. Beragam ide muncul, tetapi semuanya memiliki satu benang merah: menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, bermakna, dan berakar pada nilai lokal. Integrasi antara asupan sehat dan Bumi sehat bukan lagi sekadar konsep, melainkan juga menjadi strategi nyata dalam membangun pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman (OECD, 2018).
Pelatihan ini memberikan pelajaran penting bahwa masa depan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari masa lalu. Sejarah dan kebudayaan Aceh menyimpan banyak nilai yang
masih relevan hingga hari ini, terutama dalam hal pengelolaan pangan dan hubungan dengan alam. Tugas kita sebagai pendidik adalah menjembatani nilai-nilai tersebut dengan kebutuhan generasi sekarang yang kita ajarkan.
Lima hari ini mungkin singkat, tetapi ia menyisakan kesadaran panjang: bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas, dari halaman sekolah, dan dari keberanian untuk kembali ke akar. Pendidikan yang baik tidak hanya yang modern, tetapi juga yang mampu merangkul tradisi dan menjadikannya kekuatan.
Aceh telah membuktikan dalam sejarahnya bahwa ia mampu menjadi wilayah yang kuat melalui kekayaan pangannya. Kini, melalui pendidikan yang terintegrasi dan kontekstual, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman, kita memiliki kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat itu: menjadikan generasi muda tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman, berkarakter, dan sadar akan tanggung jawabnya terhadap planet Bumi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/GUNAWAN-GURU-SUKA-BANGSA.jpg)