KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian
Selat Hormuz kini menjadi fenomena global dalam perebutan jalur pelayaran vital dunia.
Ketegangan yang terjadi lebih banyak dipicu oleh rivalitas geopolitik dan persepsi keamanan, bukan ancaman langsung yang tidak dapat dihindari.
Menuju Perdamaian Sebuah Harapan
Gencatan senjata tanpa batas waktu mungkin bukan solusi final, tapi merupakan langkah awal yang realistis, harapan baru untuk perdamaian.
Baca juga: Kisah Muhammad Yunus, Remaja 16 Tahun yang Ditangkap Otoritas Thailand saat Cari Ikan
Dari jeda tersebut, ruang dialog dapat dibuka. Kepercayaan yang selama ini terkikis bisa mulai dibangun kembali melalui komunikasi kesetaraan antar pihak yang konsisten dan terbuka.
Dunia internasional pada dasarnya mendambakan stabilitas dan keamanan manusia. Tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan dari konflik berkepanjangan ini.
Bahkan negara-negara yang tidak terlibat langsung pun merasakan dampaknya.
Perdamaian bukan sekadar pilihan idealis, namun kebutuhan strategis global untuk kedamaian dunia.
Langkah pemimpin dunia yang paling berani dalam situasi ini bukanlah melanjutkan perang, melainkan kebijaksanaan dialog untuk menghentikannya.
Di sinilah kita berharap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk kembali mengambil peran strategis sebagaimana mandatnya untuk menjadikan dunia aman, damai dan Sejahtera.
Karena pada akhirnya, kekuatan sejati sebuah negara adidaya tidak hanya diukur dari kemampuannya berperang, Tapi, dari keberaniannya memilih keuntungan dari Perdamaian Dunia. Semoga.(*)
*) Penulis masing-masing adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Analis Intelijen
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com
Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/YUNIDAR-DAN-MASYKUR.jpg)