Rabu, 6 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian

Selat Hormuz kini menjadi fenomena global dalam perebutan jalur pelayaran vital dunia. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yunidar dan Masykur, adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Analis Intelijen 

Oleh: Yunidar dan Masykur*)

Perkembangan di kawasan Teluk kembali mengalami peningkatan eskalasi setelah Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS). 

Teheran menegaskan bahwa keterlibatan Washington dalam pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menyatakan penolakan tegas terhadap setiap bentuk intervensi asing di jalur perairan strategis tersebut. 

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian

Selat Hormuz, menurutnya, adalah simbol kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan.

Selat Hormuz kini menjadi fenomena global dalam perebutan jalur pelayaran vital dunia. 

Kebebasan navigasi yang seharusnya menjadi hak bersama justru terjebak dalam bayang-bayang blokade dan ketegangan geopolitik. 

Kapal-kapal melintas dengan kehati-hatian ekstrem, seolah setiap gelombang menyimpan potensi konflik baru.

Namun di balik ketegangan tersebut, muncul sinyal-sinyal kecil menuju perdamaian. Iran telah membuka peluang dengan memberi isyarat kesiapan untuk melonggarkan ketegangan. 

Baca juga: VIDEO Kapal Kargo Korea Selatan Terbakar saat Iran Tembaki Kapal AS di Selat Hormuz

Ini bukan sekadar langkah taktis, tetapi juga strategi politik untuk membangun narasi bahwa pintu damai telah dibuka.

Sayangnya, respons dari Amerika Serikat belum menunjukkan langkah timbal balik yang setara. 

Ketegangan kini bergeser ke bentuk yang lebih lunak, bukan lagi perang terbuka, melainkan “perang dingin” yang membeku dalam diam. 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian

Situasi ini mengingatkan dunia pada pola konflik berkepanjangan seperti di Semenanjung Korea, tanpa perang aktif, tetapi juga tanpa perdamaian yang diharapkan.

Di ruang digital, konflik terus berlangsung. Opini, propaganda, dan narasi saling bertabrakan. 

Media sosial menjadi medan baru, sementara di Washington, berbagai laporan disusun sebagai bagian dari pertanggungjawaban kebijakan luar negeri kepada Kongres Amerika Serikat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved