KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian
Selat Hormuz kini menjadi fenomena global dalam perebutan jalur pelayaran vital dunia.
Oleh: Yunidar dan Masykur*)
Perkembangan di kawasan Teluk kembali mengalami peningkatan eskalasi setelah Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS).
Teheran menegaskan bahwa keterlibatan Washington dalam pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menyatakan penolakan tegas terhadap setiap bentuk intervensi asing di jalur perairan strategis tersebut.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian
Selat Hormuz, menurutnya, adalah simbol kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan.
Selat Hormuz kini menjadi fenomena global dalam perebutan jalur pelayaran vital dunia.
Kebebasan navigasi yang seharusnya menjadi hak bersama justru terjebak dalam bayang-bayang blokade dan ketegangan geopolitik.
Kapal-kapal melintas dengan kehati-hatian ekstrem, seolah setiap gelombang menyimpan potensi konflik baru.
Namun di balik ketegangan tersebut, muncul sinyal-sinyal kecil menuju perdamaian. Iran telah membuka peluang dengan memberi isyarat kesiapan untuk melonggarkan ketegangan.
Baca juga: VIDEO Kapal Kargo Korea Selatan Terbakar saat Iran Tembaki Kapal AS di Selat Hormuz
Ini bukan sekadar langkah taktis, tetapi juga strategi politik untuk membangun narasi bahwa pintu damai telah dibuka.
Sayangnya, respons dari Amerika Serikat belum menunjukkan langkah timbal balik yang setara.
Ketegangan kini bergeser ke bentuk yang lebih lunak, bukan lagi perang terbuka, melainkan “perang dingin” yang membeku dalam diam.
Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian
Situasi ini mengingatkan dunia pada pola konflik berkepanjangan seperti di Semenanjung Korea, tanpa perang aktif, tetapi juga tanpa perdamaian yang diharapkan.
Di ruang digital, konflik terus berlangsung. Opini, propaganda, dan narasi saling bertabrakan.
Media sosial menjadi medan baru, sementara di Washington, berbagai laporan disusun sebagai bagian dari pertanggungjawaban kebijakan luar negeri kepada Kongres Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/YUNIDAR-DAN-MASYKUR.jpg)