Jurnalisme Warga
Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda
26 April 2026 pagi, saya pergi menuju Gampong Cot Buklat, Blang Bintang, Aceh Besar, untuk mengembalikan naskah asli Hikayat Hasan Husein
Pembimbing perang
Hikayat Hasan Husein inilah yang telah membimbing semangat juang tiga pimpinan perang dalam membangkitkan “semangat syahid” kepada tentara Allah, para pengikutnya.
Ketiga beliau itu adalah:
1) Teungku Di Meukek alias Teungku Di Rundeng.
Tokoh yang bernama asli Teungku Abdullah asal Pidie ini tidak pernah bosan-bosannya melawan Belanda. Ketika beliau mengasuh dayah/pesantren di wilayah Meukek, hingga beliau bergelar Teungku Di Meukek, juga melawan Belanda di sana. Di saat ia membangun dayah baru di Rundeng—dekat kota Meulaboh—lagi-lagi beliau memimpin perang melawan Belanda.
2) Raja Tampok
Raja Tampok, puluhan tahun melawan Belanda sampai datang Jepang dan Indonesia merdeka.
Menurut info yang saya peroleh ketika saya berobat patah di Rumoh Teungoh itu, pada saat terakhir menjelang ajal, beliau berjuang sendirian tanpa pernah menyerah.
Salah satu hal yang membuat pasukan Marsose Belanda kewalahan untuk mengalahkan Raja Tampok adalah karena beliau banyak memiliki “senjata gaib”. Yakni, berupa ilmu ‘peurabon’ (ilmu menghilangkan diri, tak terlihat), ‘ileumei dise aneuk beude’ (ilmu yang membuat peluru menjauh dari sasaran tembak), ilmu kebal (tak mempan senjata tajam ataupun peluru), ilmu ‘peuceungong’ (membuat musuh tak sadar diri), yang semuanya itu untuk mempertahankan diri.
Sampai belasan tahun lalu, ilmu-ilmu sejenis itu masih berperan di wilayah Nagan Raya. Saya mengenal beberapa tokohnya. Malah, saya nyaris ditempeleng Pang Jafa (Panglima, anak buah Raja Tampok), ketika sedang mengarahkan tustel membidik beliau.
Hari itu, sedang berlangsung ‘khanduri thon’ (kenduri tahunan setiap tanggal 17 Jumadil Akhir) di Rumoh Teungoh (tahun 1989). Pang Jafa membentak saya: Ku tampaaaa... eunteukkah! (Saya tempeleng kamu nanti!) dengan suara menggelegar, yang membuat kaget semua hadirin di Rumoh Teungoh, mulai di ruang tamu sampai ke dapur.
Hari sebelumnya, saya dan Prof Dr Teuku Ibrahim Alfian MA selesai “ Seminar Peran Pemuda dalam Pembangunan” di Universitas Jabal Ghafur, Pidie, yang diresmikan oleh Ir Akbar Tandjung selaku Menteri Pemuda dan Olahraga.
Selepas seminar, kami meluncur (tapi di jalan banyak lumpur) menuju Rumoh Teungoh, Nagan Raya.
Meskipun saya gagal mengambil foto Pang Jafa (r), tapi kemudian Teuku Ibrahim Alfian, yang Dekan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM),Yogyakarta, saat itu, sempat pula memfoto Pang Jafar secara diam-diam.
3) Habib Muda Seunagan alias Teungku Puteh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)