Kamis, 7 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda

26 April 2026 pagi, saya pergi menuju Gampong Cot Buklat, Blang Bintang, Aceh Besar, untuk mengembalikan naskah asli Hikayat Hasan Husein

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T.A. SAKTI, peminat naskah lama dan sastra  Aceh, melaporkan dari Rumoh Teungoh,  Gampong Ujong Blang, Mukim Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya 

Tokoh ini juga cukup lama memimpin perang melawan Belanda. Saya memiliki dua buah buku tebal mengenai riwayat perjuangan beliau.

Obor pengompor

Hikayat Hasan-Husein yang ditulis ulang sekaligus dirombak oleh pengarang (yang belum dikenal) ini, betul-betul menjadi “obor pengompor” semangat juang rakyat Aceh melawan Belanda.

Derajat keagungan Hikayat Hasan-Husein ini nyaris  setara dan semartabat dengan Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu.

Hikayat Hasan-Husen telah menggugah semangat juang rakyat Aceh, baik yang dipimpin oleh Teuku Umar-Cut Nyak Dhien, Teuku Ben Mahmud, Teuku Peukan, Pocut Baren, Teuku Angkasah, Teku Cut Ali, Raja Ubit, dan lain-lain.

Snouck Hurgronje

Kita kembali ke pokok pembahasan bahwa memperbarui “pesan utama” sebuah hikayat merupakan suatu tindakan biasa oleh seorang pengarang.

Ketika Snouck Hurgronje mengkaji 98 judul hikayat untuk menggali “karakter perang” orang Aceh, dia juga menjumpai hal serupa, seperti yang dikandungi isi Hikayat Hasan Husein.

Hikayat Malem Dagang adalah sebuah hikayat yang ditulis abad17,  yang amat kental-serius  dibuat pembelokan fakta sejarah oleh sang penyalin hikayat lama itu.

“Hampir di setiap halaman saya jumpai sebutan Belanda dalam Hikayat Malem Dagang,” sentil Haji Abdul Ghafur, nama lain C. Snouck Hurgronje, dalam laporannya kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia-Jakarta.

Siapa pengarangnya?

Saya yang pernah tinggal setahun di Nagan Raya,  menduga penulis hikayat ini berasal dari Kabupaten Nagan Raya.

Selama setahun di sana, saya sering kali mendengar beberapa ungkapan berbau “sufi” yang  biasa diucapkan para tokoh masyarakat di sana terkandung dalam hikayat ini, seperti ‘autad’, ‘tuboeh ihsan lam rahsiya’, ‘tapandang Allah ngon cita se’, dan lain-lain.

Dalam hal ini, saya menduga Raja Tampoek atau Teungku Puteh-lah yang menulis Hikayat Prang Sabi versi Barsela ini.

Saya tidak menampik pendapat lain tentang siapa pengarang hikayat ini. Semoga titik terang benderang segera memancar.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved