Kamis, 7 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Aceh di Persimpangan: Mengikuti Reformasi atau Mempertahankan Cara Lama?

Data resmi menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Aceh masih berada di atas rata-rata nasional. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Muhammad Fajri (Edo), Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (UNAS) 

Bukan semata penambahan kelembagaan, melainkan instrumen untuk memastikan keselarasan antara data, program, dan anggaran.

Dalam kerangka ini, badan tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi strategis: mengintegrasikan data kemiskinan berbasis individu, menyelaraskan intervensi lintas sektor, serta mengarahkan alokasi sumber daya agar berorientasi pada hasil.

Baca juga: UBBG Perkuat Kesiapan Karier Mahasiswa Lewat Workshop Bertaraf Internasional

Tentu, efektivitasnya sangat bergantung pada desain kewenangan dan komitmen implementasi. 

Tanpa otoritas yang memadai, ia berisiko menjadi lapisan birokrasi tambahan. Sebaliknya, dengan mandat yang jelas, ia dapat menjadi titik konsolidasi kebijakan yang selama ini terfragmentasi.

Tantangan utamanya bukan pada konsep, melainkan pada transisi. 

Integrasi kebijakan hampir selalu berhadapan dengan resistensi sektoral dan kebutuhan penyesuaian kelembagaan. 

Baca juga: Kementerian Kelautan akan Keruk 13 Pelabuhan Dangkal di Aceh

Namun, di titik inilah kepemimpinan menemukan relevansinya—bukan sekadar menjaga kesinambungan, tetapi mengarahkan perubahan.

Di Persimpangan

Aceh saat ini berada di persimpangan. Di satu sisi, tersedia kerangka regulasi nasional yang semakin menekankan integrasi. 

Di sisi lain, praktik kebijakan daerah masih cenderung mempertahankan pola lama.

Baca juga: Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda

Pilihan yang dihadapi bukan sekadar teknis, melainkan strategis: mengikuti arah reformasi, atau tetap berjalan dalam fragmentasi yang terbukti membatasi hasil.

Pada akhirnya, efektivitas kebijakan publik tidak ditentukan oleh banyaknya program, melainkan oleh kemampuannya bekerja dalam satu arah yang terukur.

Dan dalam konteks itu, pertanyaan bagi Aceh menjadi sederhana: apakah integrasi akan dijadikan pijakan, atau sekadar wacana.(*)

*) Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (UNAS)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved