KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 18, Berhaji dengan Tenang dalam Perdamaian
Kesepakatan damai para pihak sebagai hadiah bagi tamu Allah yang berhaji ke Baitullan dengan aman dan damai.
Karena itu, dunia membutuhkan cara pandang yang lebih bijaksana terhadap bangsa lain, dengan menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan konflik dan kebencian.
Dengan memahami sejarah, peradaban, dan realitas yang lebih luas, harapan tentang dunia yang damai tidak lagi menjadi slogan kosong, melainkan tujuan bersama yang terus diperjuangkan oleh umat manusia.
Baca juga: USK Kembali Buka Pendaftaran Prodi Pendidikan Profesi Psikologi, Catat Tanggalnya!
Bagi umat muslimin seluruh dunia, saat menanti bulan haji yang segera tiba, jamaah yang telah berdatangan ke Baitullah memenuhi panggilan Allah Subhanawata’ala.
Sebagai hamba dan umat besar tentu saja berharap perdamaian suatu solusi yang bermartabat dan kedamaian di Timur Tengah suatu keniscayan sehingga dapat menjalan ibadah mahdah dengan tenang dan damai. Semoga.(*)
*) Kedua Penulis adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Mahasiswi Pascasarjana Ahlulbayt University Hukum Pidana dan Kriminologi – Iran
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com
Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| S1 hingga S3 Menganggur: Menyoal Arah Kebijakan Pembangunan Aceh |
|
|---|
| Aceh di Persimpangan: Mengikuti Reformasi atau Mempertahankan Cara Lama? |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian |
|
|---|
| Tradisi, Patriarki, dan Hak Individu di Aceh |
|
|---|
| Trust Issue: Sinyal Darurat Kesehatan Mental atau Sekedar Drama Remaja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/YUNIDAR-DAN-LAINI.jpg)