Jumat, 8 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Potret Koper Jemaah Calon Haji Perempuan Menuju Baitullah

Perjalanan ibadah haji merupakan dimensi perjalanan spiritual yang panjang dan menuntut kesiapan fisik, mental, maupun spiritual secara seimbang

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
Dra. EVI SRI RAHAYU, M.Sos., Ketua PW Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

rasa tanggung jawab dan kewaspadaan yang melekat pada fitrahnya perempuan, yaitu sebagai pengurus dan perawat keluarga.

Secara umum, kebutuhan jemaah haji perempuan Indonesia cenderung lebih beragam dan kompleks, sebagai upaya menciptakan kenyamanan dan menjaga fokus dalam beribadah.

Kesiapan tersebut mengantisipasi berbagai kondisi selama perjalanan, sehingga potensi kendala yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah bisa diminimalkan sejak awal. Adapun ragam kebutuhan seperti pakaian dalam dan luar, yang tentunya dengan berbagai jenis situasi pemakaiannya, baju untuk ihram, baju sehari-hari, daster, dan tentu semua jenis tersebut diusahakann yang menutupi aurat secara sempurna.

Mukena, perlengkapan wajib yang digunakan saat menunaikan shalat, kerudung atau hijab, juga disesuaikan dengan berbagai jenis kegiatan

dalam pelaksanaan ibadah haji.

Sajadah berukuran kecil lebih mudah masuk dalam tas jinjing khusus jemaah, sandal, dan sepatu dengan ukuran yang pas, menjaga kenyamanan

agar tidak mudah terlepas saat berdesakan.

Tas kecil juga dirasa sangat bermanfaat penggunaannya untuk membawa dokumen penting, seperti paspor, visa, nomor kursi penerbangan, identitas diri, uang, obat-obatan, dan kartu kesehatan.

Tidak kalah pentingnya adalah membawa perlengkapan mandi dalam versi ‘travel size’, agar menghemat ruang dan menjaga kepraktisan selama perjalanan. Demikian pula kaus kaki dan manset, meskipun terlihat sederhana dan dianggap sepele, justru menjadi sangat

dibutuhkan dalam menjaga kenyaman aurat saat pelaksanaan ibadah.

Masih ada barang yang penting lainnya, seperti paying. Ini sangat berguna meredam terik matahari,

terutama saat berjalan kaki menuju Masjidilharam, Masjid Nabawi, juga saat berada di Arafah dan Mina untuk melontar jamrah.

Kacamata hitam menjadi perlengkapan yang tidak boleh dilupakan, bukan karena ingin bergaya, melainkan karena paparan matahari yang sangat

intens, angin kering, serta debu, yang sangat tidak nyaman tentunya bagi penglihatan saat

berada di area terbuka. Demikian juga dengan masker, jemaah wajib memakainya saat

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved