KUPI BEUNGOH
Saatnya Aceh Berani: Membangun Pendidikan yang Berdaya Saing
inilah momentum bagi Aceh untuk berani melakukan lompatan besar dalam pembangunan pendidikan.
Oleh: Dr. Jalaluddin, S.Pd., M.Pd*)
Aceh adalah tanah yang tidak pernah kekurangan sejarah dan identitas. Dari masa keemasan Kesultanan hingga era modern, Aceh dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.
Namun di tengah arus globalisasi yang semakin kompetitif, muncul pertanyaan mendasar: apakah sistem pendidikan Aceh hari ini sudah cukup kuat untuk melahirkan generasi yang mampu bersaing secara nasional dan global?
Jika jawabannya belum, maka inilah momentum bagi Aceh untuk berani melakukan lompatan besar dalam pembangunan pendidikan.
Keberanian yang dimaksud bukan sekadar retorika, melainkan keberanian untuk mengubah paradigma. Pendidikan tidak boleh lagi dipandang sebagai rutinitas administratif atau sekadar formalitas mendapatkan ijazah. Pendidikan harus menjadi proyek peradaban.
Dalam perspektif teori pendidikan modern, pendekatan konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan tidak ditransfer secara pasif, tetapi dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui pengalaman dan interaksi. Ini berarti ruang kelas harus berubah menjadi ruang dialog, eksplorasi, dan inovasi.
Lebih jauh, konsep empat pilar pendidikan yang diperkenalkan oleh UNESCO—learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together—memberikan arah bahwa pendidikan harus menghasilkan manusia yang utuh.
Tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan hidup, karakter kuat, serta kemampuan beradaptasi dalam masyarakat yang majemuk. Dalam konteks Aceh, nilai “learning to live together” sangat relevan untuk memperkuat harmoni sosial berbasis nilai-nilai Islam yang inklusif dan berkeadaban.
Namun, membangun pendidikan berdaya saing di Aceh tidak berarti menanggalkan identitas. Justru sebaliknya, kekuatan utama Aceh terletak pada integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan khazanah keilmuan Islam.
Dalam tradisi pendidikan Islam, tujuan utama pendidikan bukan hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga manusia yang berakhlak mulia.
Al-Ghazali menegaskan bahwa pendidikan adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membentuk akhlak yang luhur. Dalam pandangannya, ilmu tanpa moral hanya akan melahirkan kerusakan, bukan kemajuan.
Baca juga: Paradoks Pendidikan Indonesia: Antara Link and Match dan Realitas Lapangan
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun yang menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu rasional dan wahyu. Ia melihat pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban yang kokoh.
Jika pendidikan lemah, maka peradaban pun akan rapuh. Dalam konteks Aceh hari ini, pemikiran ini menjadi sangat relevan. Tantangan bukan hanya soal akses pendidikan, tetapi juga kualitas dan relevansinya dengan kebutuhan zaman.
Di era digital dan revolusi industri 4.0 menuju society 5.0, pendidikan dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. Teori pembelajaran abad ke-21 menekankan pentingnya keterampilan 4C: critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.
Generasi muda Aceh harus dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak dalam disinformasi, kreativitas agar mampu menciptakan solusi, kemampuan kolaborasi untuk bekerja lintas sektor, serta komunikasi yang efektif dalam berbagai konteks global.
| Menata JKA, Melindungi Hak Rakyat Aceh |
|
|---|
| Diet Ekstrem Demi Penampilan Lebih Berbahaya daripada Obesitas Ringan |
|
|---|
| Manajer Koperasi Merah Putih: Mampukah Menjaga Amanah Syariah? |
|
|---|
| Paradoks Layar 15 Detik: Menjinakkan 'Algoritma Liar' di Bumi Serambi Mekkah |
|
|---|
| Energi Global Kacau, Indonesia Jangan Terjebak Ilusi “Aman” |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Jalaluddin-SPd-MPd-Wakil-Rektor-Universitas-Serambi-Mekkah_2026.jpg)