Rabu, 13 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Saatnya Aceh Berani: Membangun Pendidikan yang Berdaya Saing

inilah momentum bagi Aceh untuk berani melakukan lompatan besar dalam pembangunan pendidikan.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dr. Jalaluddin, S.Pd., M.Pd, Wakil Rektor Universitas Serambi Mekkah 

Namun, realitas pendidikan di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan. Kualitas tenaga pendidik yang belum merata, keterbatasan infrastruktur, serta lemahnya budaya akademik menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. 

Banyak peserta didik masih berorientasi pada nilai angka, bukan pada kedalaman pemahaman. Ini menunjukkan bahwa reformasi pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan tambal sulam.

Di titik inilah, refleksi Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 menjadi sangat penting. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum evaluasi kolektif. 

Kita diingatkan pada sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, yang meletakkan dasar filosofi pendidikan Indonesia: “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Sebuah prinsip yang menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia merdeka—merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka menentukan masa depan.

Pendidikan prioritas utama

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi alarm bagi Aceh untuk tidak lagi berjalan biasa-biasa saja. Dunia bergerak cepat, sementara pendidikan yang stagnan hanya akan melahirkan ketertinggalan.

 Jika Aceh ingin bangkit, maka momentum ini harus dimanfaatkan untuk melakukan refleksi kritis: apa yang sudah dicapai, apa yang masih kurang, dan apa yang harus segera diperbaiki.

Pertama, reformasi kurikulum harus dilakukan secara berani dan visioner. Kurikulum tidak boleh kaku, tetapi harus fleksibel dan relevan dengan kebutuhan zaman.

 Integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai keislaman harus menjadi ciri khas pendidikan Aceh.

Kedua, peningkatan kualitas guru harus menjadi prioritas. Guru adalah jantung pendidikan. Tanpa guru yang berkualitas, mustahil pendidikan menghasilkan output yang unggul. 

Pelatihan berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan kompetensi pedagogik harus menjadi agenda utama.

Ketiga, pemanfaatan teknologi harus diperluas. Digitalisasi pendidikan bukan lagi pilihan, tetapi keniscayaan. Aceh harus berani berinvestasi dalam infrastruktur digital agar tidak tertinggal dalam kompetisi global.

Baca juga: Sekolah Rakyat, Pendidikan Siapa?

Keempat, membangun budaya akademik yang kuat. Tradisi membaca, menulis, dan meneliti harus dihidupkan kembali. Sekolah, kampus, dan pesantren harus menjadi pusat lahirnya gagasan dan inovasi.

Kelima, memperkuat kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, akademisi, ulama, dan masyarakat harus bersinergi dalam membangun ekosistem pendidikan yang kokoh. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja bersama.

Aceh sebenarnya memiliki modal besar: nilai-nilai Islam yang kuat, tradisi keilmuan yang panjang, serta semangat kolektif masyarakat. 

Ketika dunia modern mulai mencari kembali keseimbangan antara ilmu dan moral, Aceh justru telah memiliki fondasi tersebut. Tinggal bagaimana mengelolanya secara modern dan strategis.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved