Sabtu, 16 Mei 2026

Pojok Budaya

Pustaka yang Kekurangan Mulut

Buku tetap penting. Tapi di Aceh, pustaka yang paling terancam punah justru yang masih berlimpah halaman — dan justru kehabisan mulut.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

Oleh: Moritza Thaher*)

Lelaki tua itu duduk sendirian di kedai Peunayong — earphone terpasang, kepala sedikit mengangguk mengikuti irama hikayat yang mengalir pelan. 

Di meja sebelahnya, dua anak muda berdebat soal novel baru dari Jakarta yang covernya sudah berseliweran di linimasa sejak minggu lalu.

Dua meja. Dua dunia. Masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri.

Ini soal kualitas yang berbeda — dan yang satu makin sunyi sementara yang lain makin ramai. Kesenjangan itu tumbuh, pelan-pelan, tanpa ada yang sungguh-sungguh peduli.

Sejak 2012, saya menyusun lirik berbentuk hikayat, bekerja berdampingan dengan M. Yusuf Bombang (Apa Kaoy), penutur dan penulis hikayat, dan Thayeb Loh Angen, penulis novel.

Baca juga: Sebelum Kampus Sempat Bicara!

Soal siapa yang masih menuturkan hikayat adalah pertanyaan yang hidup bagi saya — ia muncul setiap kali proyek selesai dan ruang kembali sepi. Teks sudah rampung.

Penutur yang akan menghidupkannya makin sukar ditemukan.

Itu yang membuat saya kesulitan merayakan Hari Buku Nasional dengan terlalu banyak semangat.

Buku tetap penting. Tapi di Aceh, pustaka yang paling terancam punah justru yang masih berlimpah halaman — dan justru kehabisan mulut.

Pengetahuan yang Hidup di Mulut

Hikayat adalah sistem pengetahuan yang masih bernapas — jauh dari lemari arsip.

Ia sistem pengetahuan — cara Aceh membaca dirinya sendiri, mewariskan nilai, mencatat sejarah, menegakkan moral komunal tanpa perlu kurikulum formal.

Hamzah Fansuri menulis untuk ruang bersama.

Baca juga: Kenduri dan Hal-hal yang Tidak Ikut Masuk Panggung

Teks-teks itu hidup karena dituturkan, diulang, dipertanyakan bersama di meunasah atau teras rumah — dalam suasana yang merawat ingatan kolektif sekaligus memutuskan perkara.

Hikayat adalah pustaka dalam pengertian yang paling utuh: ia menyimpan cara berpikir, dan cara berpikir itu jauh melampaui kata.

Kini, penuturnya makin sunyi. Cinta yang hanya didengarkan lewat earphone sendirian di tengah keramaian adalah cinta yang urung mewariskan. Indah, tapi mati.

Kalah di Medan Kemudahan

Hikayat tergeser oleh yang lebih mudah diakses — bukan oleh yang lebih dalam.

Ia hadir tanpa kemasan: membutuhkan waktu luang yang lapang, ruang komunal yang tenang, dan yang paling sukar dicari sekarang, seseorang yang mau menuturkannya dengan serius.

Baca juga: Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda

Di era ketika perhatian adalah mata uang paling berharga, keunggulan kemudahan menjadi penentu.

Yang tersisa kemudian adalah fragmen: rekaman di ponsel yang didengarkan sendirian, bait-bait yang dikutip di caption tanpa tahu dari hikayat mana asalnya, atau pelajaran sekolah yang menyebut hikayat sebagai "karya sastra klasik Aceh" — seolah kata klasik adalah pujian.

Itu cara halus untuk mengumumkan kematian.

Paradoksnya jelas. Kita merawat museum tapi membiarkan bahasa untuk membaca koleksinya pelan-pelan lenyap.

Kehilangan Tempat Tumbuh

Generasi yang tumbuh pasca-tsunami 2004 mewarisi Aceh yang sudah berbeda: lebih urban, lebih terhubung ke luar, lebih terbiasa dengan narasi yang cepat.

Mereka tumbuh di lingkungan yang tak lagi menyediakan ruang bagi hikayat untuk bernafas — dan lingkungan itu terbentuk dari pilihan kebijakan, kurikulum, dan prioritas budaya yang selama dua dekade lebih memilih yang mudah diukur daripada yang sulit tapi bermakna.

Baca juga: JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”?

Tanyakan kepada guru-guru SMA di Banda Aceh berapa banyak murid mereka yang pernah mendengar hikayat dituturkan secara langsung — sungguh didengar, dari mulut penutur yang tahu cara menghidupkan irama dan jeda di setiap baitnya.

Jawabannya hampir pasti akan membuat kita diam sejenak.

Ketika penutur hikayat wafat satu per satu tanpa sempat mewariskan keduanya sekaligus — teks dan cara menuturkannya — yang hilang adalah satu cara Aceh memahami dirinya sendiri — sesuatu yang jauh lebih besar dari karya sastra.

Malam itu di Peunayong, lelaki tua itu mencabut earphone-nya, memesan kopi tambahan, menatap langit-langit sebentar, lalu pergi.

Semua orang sibuk dengan layar masing-masing.(*)

Baca juga: 13 Tahun Bungkam, Santriwati Senior Korban Kiai AS Pati Buka Suara, Ngaku Alami Kejadian Sejak 2013

*) Moritza Thaher adalah penulis dan musisi yang berbasis di Banda Aceh.

Tulisannya berfokus pada ekosistem seni, budaya, dan pendidikan — khususnya jarak antara cara sistem itu diklaim bekerja dan cara ia benar-benar bekerja. Ia mendirikan Sekolah Musik Moritza pada 1991 dan masih aktif mengajar hingga hari ini.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved