Kupi beungoh
Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ
Kritik tajam soal “mafia sitasi” dan ilusi Scopusisasi di kampus Aceh. Reputasi ilmiah dipertanyakan: mutu atau sekadar gema sendiri?
Oleh: M. Shabri Abd. Majid*
Menarik membaca kolom Kupi Beungoh, Kamis, 14 Mei 2026, oleh Prof. Teuku Muhammad Jamil (Prof. TMJ), berjudul “Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh: Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi”.
Tulisan “beungoh” beraroma “beungeh” itu menusuk luka lama: kampus makin fasih memuja angka, indeks, sitasi, dan ranking, tetapi kerap gagap menjawab pertanyaan paling dasar: semua itu melahirkan ilmu, atau sekadar ilusi kemajuan?
Kegelisahan Prof. TMJ adalah kegelisahan kita. Rekayasa sitasi, saling kutip tidak wajar, dan pemujaan Scopus bukan hanya penyakit Aceh, melainkan wabah pendidikan tinggi Indonesia.
Namun di Aceh, negeri yang menjunjung syariat dan etika keislaman, lukanya lebih dalam: yang tercoreng bukan hanya jurnal, tetapi martabat moral ilmu. Di sinilah ironi itu mengiris.
Kita ingin diakui dunia, tetapi kadang menempuh jalan yang melukai kehormatan ilmu. Ilmu tidak tumbuh dari statistik palsu. Jika akarnya disiram manipulasi, yang lahir bukan peradaban, melainkan rimbun angka yang rapuh.
Rekayasa sitasi bukan dongeng. Ia hidup dalam lingkaran saling kutip, paksaan rujukan oleh editor atau reviewer, self-citation berlebihan, dan pasar gelap “bayar per sitasi”.
Maka kritik harus tajam sekaligus adil: tidak semua sitasi tinggi berarti curang, tetapi pola self-citation, citation ring, journal stacking, dan konsentrasi sitasi abnormal wajib dilacak. Sitasi yang elegan adalah pengakuan ilmiah; sitasi yang direkayasa hanyalah bedak tebal di wajah akademik yang pucat.
Baca juga: Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi
Scopus Bukan Kitab Suci
Scopus hanyalah database abstrak dan sitasi, bukan kitab suci akademik. Per Maret 2026, terdapat lebih dari 29.554 jurnal terindeks Scopus secara global; Indonesia hanya menyumbang 252 (0,85 persen) dari total dunia, dengan sebaran Q1 (22,6 persen), Q2 (17,1 persen), Q3 (33,7 persen), Q4 (24,6 persen), dan 2 persen non-kuartil.
Artinya, Indonesia memang sudah masuk gelanggang Scopus, tetapi belum menjadi pemain utama. “Sudah Scopus” bukan stempel kesempurnaan; ia hanya pintu masuk ke percakapan global, bukan mahkota terakhir keilmuan.
Q1, Tetapi Dari Mana?
Yang menarik, Aceh tampil mencolok. Dalam Tabel 1, enam jurnal Aceh berada pada Q1: empat dari UIN Ar-Raniry yaitu Samarah, El-Usrah, Jurnal Ilmiah Islam Futura, dan Petita; Jurnal Ilmiah Peuradeun dari SCAD Independent yang dikelola civitas UIN Ar-Raniry; serta Studies in English Language and Education (SiELE) dari USK. Artinya, lima dari enam berada dalam orbit UIN Ar-Raniry.
Aceh memang kecil dalam jumlah, tetapi tajam dalam posisi. Pertanyaannya: apakah reputasi itu lahir dari pengakuan luas, atau terlalu banyak dipantulkan oleh dinding rumah sendiri?
Table 1. Reputasi dan Pola Sitasi Jurnal Aceh, Nasional, dan Dunia
| No. | Nama Jurnal (Penerbit) | Periode Terbit | Kuartil (SJR) | Total Artikel | Total Sitasi | Sitasi Luar Negeri | Sitasi Dalam Negeri | Sitasi Kampus Sendiri |
| 1. | Samarah (UIN Ar-Raniry) | 2017-2026 | Q1(0.758) | 492 | 2.982 | 328 (11,0 Persen) | 2.888 (96,8 Persen) | 865 (29,0 Persen) |
| 2. | El-Usrah (UIN Ar-Raniry) | 2020-2025 | Q1 (0.830) | 218 | 923 | 130 (14,1 Persen) | 885 (95,9 Persen) | 293 (31,7 Persen) |
| 3. | Jurnal Ilmiah Islam Futura (UIN Ar-Raniry) | 2019-2026 | Q1 (0.386) | 135 | 463 | 141 (30,5 Persen) | 456 (98,5 Persen) | 167 (36,1 Persen) |
| 4. | Petita: Jurnal Kajian Ilmu Hukum dan Syariah (UIN Ar-Raniry) | 2023-2025 | Q1 (0.340) | 121 | 455 | 100 (22,0 Persen) | 433 (95,2 Persen) | 236 (51,9 Persen) |
| 5. | Jurnal Ilmiah Peuradeun (SCAD Independent) | 2019-2026 | Q1 (0.421) | 404 | 1.919 | 558 (29,1 Persen) | 1.703 (88,7 Persen) | 426 (22,2 Persen) |
| 6. | Studies in English Language and Education (USK) | 2019-2026 | Q1 (0.314) | 541 | 2.372 | 961 (40,5 Persen) | 1.734 (73,1 Persen) | 259 (10,9 Persen) |
| 7. | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (UGM) | 2019-2026 | Q3 (0.230) | 145 | 471 | 58 (12,3 Persen) | 436 (92,6 Persen) | 93 (19,7 Persen) |
| 8. | Indonesian Journal of International Law (Universitas Indonesia) | 2019-2025 | Q3 (0.220) | 178 | 342 | 165 (48,2 Persen) | 193 (56,4 Persen) | 59 (17,3 Persen) |
| 9. | Journal of Legal Analysis (Oxford University) | 2013-2026 | Q1 (0.758) | 108 | 1.795 | 1.756 (97,8 Persen) | 0 (0,0 Persen) | 324 (18,1 Persen) |
|
10. |
Harvard Environmental Law Review (Harvard University) |
1979-2025 | Q2 (0.262) | 428 | 6.813 | 5.226 (76,7 Persen) | 0 (0,0 Persen) | 1.219 (17,9 Persen) |
Catatan: Data Scopus per 15 Mei 2026. Sitasi luar negeri, dalam negeri, dan kampus sendiri dihitung berdasarkan afiliasi artikel yang menerima sitasi dengan pendekatan full counting. Angka dapat tumpang tindih pada artikel kolaborasi lintas negara atau lintas institusi. Untuk Jurnal Ilmiah Peuradeun, “sitasi kampus sendiri” dihitung berdasarkan afiliasi UIN Ar-Raniry karena pengelolanya berasal dari UIN Ar-Raniry.
| Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna |
|
|---|
| Mahasiswa, JKA, Tukin, dan Pokir: Mengapa Rakyat Harus Membayar dengan Kesehatan? |
|
|---|
| Dampak Bencana Banjir Bandang Belum Pulih, Pergub Aceh No 2 Tahun 2026 Berlaku |
|
|---|
| Penjajahan Akademik Berbaju Saintifik |
|
|---|
| Mengetuk Pintu Hati Serambi Mekkah dan Normalisasikan Kesehatan Mental di Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)