Minggu, 17 Mei 2026

Kupi beungoh

Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ   

Kritik tajam soal “mafia sitasi” dan ilusi Scopusisasi di kampus Aceh. Reputasi ilmiah dipertanyakan: mutu atau sekadar gema sendiri?

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Angka membuka pintu, tetapi hanya mutu yang membuat ilmu bertahan. 

Jika peringkat jurnal bisa naik karena sitasi yang berputar di rumah sendiri, reputasi individu pun bisa dipoles dengan cara serupa: publikasi di jurnal sendiri, jejaring sendiri, lalu disangga peer yang saling mengutip.

Di titik itu, “saintis top dunia” bisa menjadi permainan cermin: angkanya menjulang, wibawanya belum tentu tinggi.

Kita juga perlu jujur soal profesor. Di Indonesia, gelar profesor masih sering terlalu administratif, sementara tradisi akademik besar menuntut reputasi riset, H-index, research grant, pembimbingan doktor, kepemimpinan ilmiah, dan dampak kebijakan. Namun negara juga tidak adil jika menuntut profesor kelas dunia dengan ekosistem riset kelas seadanya.

Kita pun tidak perlu bersujud pada Harvard, Oxford, atau Sorbonne sebagai satu-satunya kiblat ilmu. Dunia Islam pernah menyalakan Bayt al-Hikmah, Al-Qarawiyyin, Al-Azhar, Nizamiyah, Cordoba, Bukhara, Samarkand, Damaskus, dan Istanbul.

Aceh boleh bermimpi menjadi pusat kajian Islam, syariah, perdamaian, dan maritim dunia. Tetapi pusat ilmu tidak lahir dari trik indeksasi; ia lahir dari keberanian berpikir, disiplin metodologi, dan kejujuran moral.

Tulisan Prof. TMJ penting karena mengguncang kesadaran. Tetapi guncangan harus diikuti pembersihan: audit pola sitasi, transparansi editorial, pembatasan self-citation tidak wajar, evaluasi etika reviewer, reformasi syarat guru besar, dan penghargaan pada riset yang benar-benar menyelesaikan masalah masyarakat.

Aceh tidak boleh menjadi korban ilusi Scopusisasi. Di negeri syariat, ilmu harus berdiri lebih jujur, bukan lebih lihai memoles angka. Jika ingin tinggi, tinggilah dengan mutu. Jika ingin diakui dunia, biarlah dunia mengakui karena gagasan.

Sebab peradaban besar tidak lahir dari sitasi yang dipaksa berputar di lingkaran sendiri, tetapi dari keberanian menulis kebenaran, sekalipun kebenaran itu melukai kesombongan kita sendiri.

 

*Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved