Minggu, 17 Mei 2026

Kupi beungoh

Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ   

Kritik tajam soal “mafia sitasi” dan ilusi Scopusisasi di kampus Aceh. Reputasi ilmiah dipertanyakan: mutu atau sekadar gema sendiri?

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Tabel 1 membandingkan jurnal kampus Aceh dengan jurnal nasional dan global yang disebut Prof. TMJ: UGM, UI, Oxford, dan Harvard.

Tujuannya bukan memajang kuartil, melainkan menelusuri asal-usul wibawa: apakah reputasi itu tumbuh dari pengakuan luas, atau hanya gema yang berputar di ruang sendiri.

Dalam ilmu, sitasi bukan sekadar angka. Ia adalah jejak pengakuan. Karena itu, yang penting bukan hanya berapa banyak yang mengutip, tetapi siapa yang mengutip dan dari mana suara itu datang.

Baca juga: Rupiah Melemah, Haruskah Tabungan Dipindah ke Dollar AS atau Emas?

Gema dari Rumah Sendiri

Secara bibliometrik, tidak ada batas universal untuk self-citation. Namun, rambu kehati-hatian cukup jelas: 10–30 Persen masih dapat diterima lintas disiplin, 10–15 Persen sering muncul sebagai zona relatif wajar, sedangkan di atas 25 Persen dipakai untuk menandai jurnal dengan high self-citation rate (Hussein et al., 2025; Szomszor et al., 2020; Taşkın et al., 2021).

Dengan dasar itu, 15 Persen layak menjadi alarm awal, dan di atas 25 Persen menjadi zona risiko yang menuntut audit serius. Maka tudingan Prof. TMJ tidak bisa disapu dengan bahasa protokoler; ada indikasi yang perlu dibaca jernih. 

Petita berdiri di titik paling rawan (51,9 Persen), disusul Jurnal Ilmiah Islam Futura (36,1 Persen), El-Usrah (31,7 Persen), dan Samarah (29,0 Persen). Jurnal Ilmiah Peuradeun mencatat 22,2 Persen jika afiliasi UIN Ar-Raniry dihitung karena pengelolanya berasal dari sana, sedangkan SiELE dari USK tampak paling sehat (10,9 Persen).

Pembanding nasional dan global membuat ironi itu makin terang: UGM (19,7 Persen), UI (17,3 Persen), Oxford (18,1 Persen), dan Harvard (17,9 Persen).

Jurnal-jurnal itu jauh lebih tua, hidup dalam ekosistem akademik panjang, tetapi sitasi kampus sendirinya masih bergerak di sekitar batas kewajaran. 

Sebaliknya, beberapa jurnal Aceh melampaui ambang risiko. Di sinilah satire akademik itu mengiris: jika reputasi tumbuh begitu cepat, sementara napas sitasinya deras dari rumah sendiri, apakah itu pengakuan ilmiah yang luas, atau pantulan cermin yang terlalu rajin diarahkan ke wajah sendiri?

Angka-angka ini belum menjadi vonis rekayasa. Tetapi ia sudah cukup sebagai alarm reputasi. Mungkin ini bukti keunggulan lokal yang luar biasa.

Namun ketika sitasi internal terlalu dominan, publik berhak bertanya: apakah ini wibawa ilmiah yang lahir dari komunitas luas, atau reputasi yang terlalu banyak disusui oleh rumah sendiri?

Persoalannya bukan menolak kehebatan jurnal Aceh. Persoalannya lebih mendasar: jangan sampai martabat ilmu dibangun dari tepuk tangan yang diproduksi di ruang sendiri.

Mutu, Bukan Muslihat

Di sini kita tetap harus adil. Sitasi internal tidak otomatis kotor. Ia sah jika relevan, tersebar, dan lahir dari kepakaran lembaga. Tetapi ketika terlalu dominan dan berulang, ia berubah dari fondasi menjadi bayang-bayang: bukan lagi suara pengakuan, melainkan gema dari ruangan sendiri. 

UI dan UGM tidak perlu diperlakukan seolah tak mungkin dilampaui. Dalam isu tertentu, Aceh punya laboratorium sosial yang tak tergantikan: tsunami, konflik GAM-RI, syariat Islam, qanun, dayah, ekonomi syariah lokal, hukum Islam kontemporer, dan peradaban maritim. Jurnal Aceh bisa menjadi rujukan dunia, tetapi harus unggul karena mutu, bukan muslihat.

Scopus tidak salah. Yang keliru adalah cara kita menyembahnya. “Sudah Scopus” bukan akhir mutu, melainkan awal pertanyaan: jurnal apa, kuartil berapa, siapa yang membaca, siapa yang mengutip, dan apa sumbangannya bagi ilmu?

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved