Kupi Beungoh
Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Seorang pejabat tidak boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan syariat, meski hal itu sesuai dengan kehendak sebagian rakyat. Segala yang menyelisihi syariat pasti batil dan akan menjerumuskan kepemimpinan pada kebinasaan.
Maka Nasihat ulama kepada pemimpin adalah bentuk kasih sayang sekaligus tanggung jawab moral terhadap umat. Pemimpin yang mau mendengar akan lebih mudah menjaga integritas, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya urusan politik dan kekuasaan, melainkan jalan menuju keberkahan serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Aceh adalah negeri yang memiliki sejarah panjang tentang perjuangan, ilmu, dan kemuliaan agama. Tanah ini pernah melahirkan ulama-ulama besar, menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara, serta dikenal sebagai daerah yang kuat memegang nilai syariat dan adat.
Karena itu, kepemimpinan di Aceh sejatinya bukan hanya soal kekuasaan, jabatan, atau kemampuan mengatur pemerintahan, melainkan tentang amanah, akhlak, dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Dalam banyak karya beliau, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa pemimpin bukan sekadar orang yang berkuasa, tetapi orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Kekuasaan menurut beliau adalah ujian yang sangat berat.
Jabatan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan apabila digunakan untuk menegakkan keadilan, namun dapat pula menjadi sebab kehancuran apabila dipenuhi kerakusan dan cinta dunia.
Hari ini, nasehat-nasehat Imam Al-Ghazali terasa sangat dekat dengan keadaan masyarakat, termasuk di Aceh. Banyak orang berbicara tentang perubahan, pembangunan, dan kesejahteraan, tetapi terkadang lupa bahwa pondasi utama sebuah negeri adalah kejujuran dan moral para pemimpinnya.
Negeri tidak hanya rusak karena kurangnya kekayaan, tetapi karena hilangnya rasa malu, matinya amanah, dan pudarnya rasa takut kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)
Ayat ini bukan hanya ditujukan kepada rakyat biasa, tetapi terutama kepada mereka yang memegang kekuasaan. Sebab semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula amanah yang dipikulnya.
Aceh sejak dahulu dikenal dengan ungkapan: “Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala.”
Ungkapan ini mengandung makna mendalam bahwa pemerintahan dan agama tidak boleh dipisahkan. Kekuasaan harus berjalan seiring dengan tuntunan ulama dan nilai-nilai syariat. Ketika pemimpin kehilangan arah spiritual, maka keputusan-keputusan yang lahir sering kali hanya dipenuhi kepentingan sesaat.
| Hipertensi Dulu Penyakit Orang Tua, Kini Darurat pada Anak Muda |
|
|---|
| Uang Tidur di Tanah Otsus: Paradoks Aceh Saat Anggaran Mengendap tapi Sibuk Melobi Dana Tambahan |
|
|---|
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pengurus-DPP-Ikatan-Sarjana-Alumni-Dayah-ISAD-Aceh-Tgk-Muhsin-MA.jpg)