Kupi Beungoh
Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan dunia, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu tanda rusaknya hati manusia adalah ketika jabatan dijadikan alat untuk membanggakan diri dan memperkaya kelompok tertentu. Pemimpin yang baik bukan yang paling banyak dipuji, tetapi yang paling takut menzalimi rakyatnya.
Hari ini masyarakat sering menyaksikan bagaimana kebenaran terkadang kalah oleh kepentingan. Orang yang jujur dianggap ancaman, sementara mereka yang pandai memainkan keadaan justru dipertahankan. Fenomena seperti ini perlahan merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin. Padahal kepercayaan rakyat adalah pondasi utama sebuah pemerintahan.
Aceh memiliki kekayaan alam yang melimpah, budaya yang kuat, dan sejarah perjuangan yang besar. Namun semua itu tidak akan membawa keberkahan apabila amanah dijalankan tanpa keikhlasan. Sebab keberkahan sebuah negeri bukan hanya diukur dari megahnya bangunan atau besarnya anggaran, tetapi dari keadilan yang dirasakan rakyat kecil.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa pemimpin yang zalim akan melahirkan masyarakat yang penuh ketakutan, sedangkan pemimpin yang adil akan melahirkan ketenteraman.
Dalam banyak keadaan, rakyat sebenarnya tidak menuntut kemewahan berlebihan. Mereka hanya ingin diperlakukan dengan jujur, didengar keluhannya, dan tidak dijadikan korban kepentingan.
Rasulullah SAW bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan kemuliaan yang bebas dinikmati, melainkan amanah yang akan dihisab di akhirat. Karena itu, pemimpin yang baik adalah mereka yang lebih takut kepada doa orang yang dizalimi daripada takut kehilangan popularitas.
Aceh membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi teladan, bukan sekadar penguasa.
Pemimpin yang hadir di tengah rakyat, bukan hanya muncul ketika membutuhkan dukungan. Pemimpin yang berani membela kebenaran walaupun pahit, bukan yang sibuk menjaga citra sambil mengorbankan keadilan.
Dalam kehidupan hari ini, masyarakat juga harus menyadari bahwa perubahan tidak hanya dibebankan kepada pemimpin. Rakyat pun memiliki tanggung jawab menjaga nilai kejujuran dan tidak membiasakan budaya pujian berlebihan kepada kekuasaan.
Sebab ketika masyarakat mulai takut berkata benar, maka kerusakan akan tumbuh perlahan tanpa disadari.
Allah SWT berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140)
Ayat ini mengingatkan bahwa kekuasaan tidak akan selamanya berada di tangan seseorang. Jabatan akan berakhir, pujian akan hilang, dan yang tersisa hanyalah amal serta tanggung jawab di hadapan Allah.
Maka nasehat Imam Al-Ghazali sejatinya bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan oleh siapa saja yang memegang amanah di Aceh hari ini. Sebab sebuah negeri tidak akan runtuh karena sedikitnya orang pintar, tetapi karena hilangnya kejujuran, matinya hati nurani, dan pemimpin yang lupa bahwa kekuasaan hanyalah titipan sementara.
Aceh membutuhkan cahaya keteladanan, bukan sekadar janji. Membutuhkan pemimpin yang membangun hati rakyat, bukan hanya membangun pencitraan. Karena sejatinya, negeri yang diberkahi bukan negeri yang paling kaya, tetapi negeri yang masih memiliki rasa takut kepada Allah dan rasa malu untuk berbuat zalim.
Aceh membutuhkan lebih banyak manusia yang lembut hatinya daripada keras lisannya. Lebih banyak orang yang takut kepada Allah daripada takut kehilangan jabatan. Karena negeri tidak akan hancur oleh sedikitnya orang pintar, tetapi oleh hilangnya kejujuran dan rasa malu.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa cinta dunia adalah pangkal banyak kerusakan. Ketika dunia dijadikan tujuan utama, maka manusia mudah mengorbankan kebenaran demi keuntungan sesaat. Inilah penyakit hati yang perlahan merusak masyarakat.
Maka sudah saatnya Aceh kembali menjadikan ilmu, adab, dan akhlak sebagai pondasi utama kehidupan. Sebab kejayaan Aceh dahulu lahir bukan hanya dari kekuatan politik, tetapi dari keberkahan doa ulama dan masyarakat yang menjaga
“Aceh tidak kekurangan orang hebat, tetapi terkadang kekurangan hati yang benar-benar ikhlas untuk negeri. Nasehat ulama bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk menjadi cermin memperbaiki diri.”
#Jangan tuli terhadap kritik. Jangan dekat hanya dengan yang memuji. Jangan gadaikan kepentingan rakyat demi kelompok. Ingat bahwa sejarah mencatat lebih lama daripada masa jabatan.
*) Penulis adalah Dosen Ma'had Aly Darussalam Labuhan haji Aceh Selatan.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Hipertensi Dulu Penyakit Orang Tua, Kini Darurat pada Anak Muda |
|
|---|
| Uang Tidur di Tanah Otsus: Paradoks Aceh Saat Anggaran Mengendap tapi Sibuk Melobi Dana Tambahan |
|
|---|
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pengurus-DPP-Ikatan-Sarjana-Alumni-Dayah-ISAD-Aceh-Tgk-Muhsin-MA.jpg)