Selasa, 19 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Antrean di Jembatan Kutablang dan Rumah Sakit yang Siap Melayani

Jembatan adalah penghubung dua wilayah yang terpisah oleh rintangan fisik seperti sungai, lembah, atau rel kereta api yang berfungsi memperlancar

Tayang:
Editor: mufti
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen LLDikti Wilayah XIII Dpk Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Lhoksukon, Aceh Utara 

CHAIRUL BARIAH, Dosen LLDikti Wilayah XIII Dpk Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Lhoksukon, Aceh Utara

Jembatan adalah penghubung dua wilayah yang terpisah oleh rintangan fisik seperti sungai, lembah, atau rel kereta api, yang berfungsi memperlancar mobilitas manusia dan distribusi barang.

Infrastruktur ini penting untuk meningkatkan konektivitas dan memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, ketika jembatan rusak atau terputus, akses jalan pun jadi terhambat.

Di Kabupaten Bireuen, lima bulan pascabencana banjir bandang dan lumpur melanda, jalur jalan nasional Banda Aceh-Medan masih saja terganggu karena proses perbaikan jembatan sedang berlangsung.

Jembatan penghubung jalan nasional dari Banda Aceh ke Medan atau sebaliknya adalah Jembatan Kutablang, Kabupaten Bireuen. Kendaraan harus melintasi jalur alternatif melalui jembatan kecil yang berada di Gampong Teupin Reudep untuk menyeberang ke Desa Awe Geutah, kemudian baru menuju jalan nasional di Kutablang. Namun, saat ini sudah dapat dilalui dengan sistem “buka tutup”.

Pagi itu hari libur, udara dingin, sesuai dengan rencana saya dan keluarga kecil, kami

berkunjung ke tempat suami kakak sepupu yang meninggal di Geudong, Aceh Utara. Namun, karena akses jalan melalui Jembatan Kutablang belum normal, kami putuskan untuk berangkat lebih cepat agar tidak macet dan antre di jalan.

Tepat pukul 07.00 WIB kami tinggalkan rumah dan bergerak menuju Jembatan Kutablang.

Jalan dari Matangglumpang Dua menuju Kutablang saat itu masih lengang, belum banyak kendaraan yang lewat. Mobil kami melaju dengan tenang tanpa hambatan.

Namun, setiba di pintu masuk jembatan kami harus menunggu ± 10 menit baru dapat kita lewat. Hati tenang, perjalanan pun lancar.

Kami akhirnya tiba di rumah duka, tempat suami kakak sepupu yang meninggal di Geudong,  Aceh Utara.  Setiba di rumah duka, kami bertemu saudara-saudara yang sudah puluhan tahun tak berjumpa karena keadaan dan tempat tinggal yang berjauhan. Pertemuan ini ibarat reuni masa kecil, saat kami masih lugu, ceria, dan penuh kasih sayang.

Keluarga kami masih berpegang pada nilai-nilai kasih sayang dengan penyebutan “nyak” sejak kecil sampai sekarang.

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Kak Dedek, sepupu kami, karena kepergian suaminya dengan meninggalkan sepasang putra- putri yang sudah tumbuh dewasa dengan keluarga kecilnya masing-masing.

Kehadiran kami bersama saudara yang lain mampu memberikan semangat dan keceriaan, terlihat dari tawa dan senyum lepas Kak Dedek. Kami pun mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Lhoksukon, ibu kota Kabupaten Aceh Utara.

Kami melewati jembatan Desa Peunteut yang juga putus akibat banjir bandang pada 26 November 2025.

Sistem “buka tutup” juga diberlakukan di jembatan ini, karena sedang dalam proses perbaikan. Hanya satu kendaraan yang dapat melintas, sehingga kami harus antre lebih kurang 15 menit.

Sejauh pantauan saya, lalu lalang kendaraan di sini

lebih tertib dibandingkan dengan di Jembatan Kutablang.

Tujuan perjalanan kami ke Lhoksukon adalah mengunjungi abang sepupu di Rumah Sakit Zahra Lhoksukon. Bukan untuk membesuk lantaran ia sakit, melainkan untuk melihat langsung unit usaha yang dikembangkannya, yaitu Rumah Sakit Zahra dengan owner-nya H Almuzakkir bersama istri, Hj Nuraini dan H Jailani dan istri, Hj Nurmalawati.

Rumah sakit ini terletak di Jalan Raya Banda Aceh–Medan, Gampong Meunasah

Reudeup, Kecamatan Lhoksukon, diresmikan pada 16 November 2023 oleh Sekretaris Daerah Aceh Utara, A. Murtala. Ini rumah sakit swasta pertama yang didirikan di wilayah tengah dan timur Kabupaten Aceh Utara.

Aceh Utara dengan wilayah mulai dari Kecamatan Langkahan di ujung timur

hingga Kecamatan Sawang di ujung barat, memiliki lebih dari 600.000 jiwa penduduk. Mereka tersebar di 852 gampong (desa) dalam 27 kecamatan.

Khadiran Rumah Sakit Zahra tentu sangat membatu masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan mudah diakses karena berada di sisi jalan Banda Aceh-Medan.

Kami berkesempatan mengeliling rumah sakit tersebut, mulai dari UGD hingga ruang rawat inap yang

terdiri atas kelas I, II, dan III. Tersedia juga ruang VIP dengan fasilitas layaknya kamar hotel.

Selain itu, ada juga ruang persalinan, ruang isolasi untuk penyakit menular, ruang operasi, ruang ICU, dan laboratorium.

Rumah sakit ini juga dilengkapi dengan beberapa ruang medis (dokter, perawat, laboran, dan teknisi). Di bagian belakang ada musala, dapur masak, dan laundry.

Di bawah kepemimpinan Direktur Rumah Sakit Zahra, dr Yudi Harosonoza, saat ini

jumlah pasien terus bertambah sehingga membutuhkan perluasan gedung baru.

Pada saat kami kunjungi, ‘owner’ rumah sakit ini Almuzakkir memperlihatkan lahan di bagian belakang yang

sudah ditimbun dan akan dibangun gedung baru untuk kebutuhan pelayanan kesehatan bagi

masyarakat.

Standar pelayanan kesehatan sudah dipenuhi oleh rumah sakit ini sehingga diberikan

kepercayaan untuk melayani pasien dengan menggunakan BPJS Kesehatan sejak Juli tahun 2025. Sejak saat itu pasien pun mulai ramai, bahkan terkadang melebihi dari jumlah 56 ranjang yang tersedia.

Untuk memberikan layanan kesehatan yang prima, Rumah

Sakit Zahra didukung oleh 121 karyawan, termasuk 13 dokter spesialis, yaitu dua spesialis penyakit dalam, dua spesialis bedah, dua spesialis paru, dan dua spesialis anak.

Kemudian, masing-masing satu orang spesialis THT, spesialis kandungan, spesialis patologi klinik, spesialis radiologi, dan spesialis anastesi.

Palayanan yang diberikan tidak hanya pada saat jam kerja, tetapi juga pada hari libur tetap ada tenaga medis yang bertugas, seperti pada saat kunjungan kami hari Minggu yang lalu. Saat itu, petugas mulai dari satpam, tenaga kebersihan, perawat, hingga dokter siap melayani pasien, termasuk juga menerima kunjungan kami. Dokter Yudi, sang direktur bersama ‘owner’ rumah sakit ini menyambut kami dengan ramah.

Setelah selesai berbincang-bincang dengan manejemen rumah sakit, kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Alue Ie Puteh, hanya berjarak 10 km dari Lhoksukon. Tujuannya untuk bersilaturahmi ke kediaman adik ipar yang sudah menetap hampir 32 tahun di gampong ini.

Alue Ie Puteh termasuk gampong yang terdampak banjir pada akhir November tahun lalu. Derasnya air

menghanyutkan barang-barang, termasuk juga surat-surat berharga milik warga, seperti sertifikat tanah dan surat kendaraan.

Padahal, beberapa tahun lalu kawasan ini hijau oleh aneka tanaman dan bunga. Namun, saat ini terasa gersang.

Hari menjelang sore, kami pun bergegas pulang, karena khawatir terjebak antrean panjang di Jembatan Kutablang.

Seperti biasa, menjelang sore di hari libur, mobilitas kendaraan selalu padat, baik dari arah barat maupun timur. Seperti dugaan kami, ternyata antrean panjang pun terjadi. Kami terpaksa menunggu dengan penuh kebosanan. Hampir dua jam baru dapat melewati Jembatan Kutablang. Semoga jembatan yang sudah dua kali diterjang banjir bandang ini cepat selesai dibangun baru.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved