Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Wabah Ebola: Kesiapan Uganda lebih cepat dari Indonesia

Uganda mampu publikasikan genom Ebola hanya 4 hari. Sudahkah Indonesia siap hadapi wabah mematikan dengan UU baru dan teknologi genom?

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh 

Pengalaman Uganda menjadi cermin penting bahwa kecepatan respons lebih menentukan dibanding besarnya sumber daya. Indonesia sebenarnya telah mengalami kemajuan besar pasca-COVID, termasuk kemampuan deteksi dalam waktu 5 hari. Namun, untuk menghadapi virus seperti Ebola, standar tersebut belum memadai. Target idealnya adalah kurang dari 48 jam.

UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023 telah menyediakan fondasi hukum yang kuat, diperkuat PP No. 28 Tahun 2024. Tantangan berikutnya adalah implementasi nyata: memperkuat latihan kesiapsiagaan, membangun kapasitas laboratorium berkeamanan tinggi, serta mengubah budaya birokrasi dari silo data menjadi berbagi data. Artinya, data kesehatan masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terintegrasi secara real-time.

Keberhasilan Uganda dalam melaporkan genom Ebola hanya dalam 4 hari dan data yang sudah terintegrasi secara real-time menunjukkan bahwa kecepatan bukan monopoli negara maju. Dengan populasi besar dan posisi strategis dalam arus lalu lintas global, Indonesia tidak boleh lambat. 

Regulasi sudah tersedia, kini yang dibutuhkan adalah kemampuan menjalankannya secara cepat dan terkoordinasi saat kedaruratan benar-benar terjadi. Sebab dalam wabah seperti Ebola, keterlambatan 1 hari saja dapat menyebabkan banyak nyawa rakyat hilang. (email:rajuddin@usk.ac.id)

 

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved