Kupi Beungoh
Rupiah Anjlok: Siapakah yang Paling Rentan?
ketika Rupiah jatuh di lantai bursa, dampaknya justru bangkit paling cepat di meja makan rakyat kecil.
Tekanan rupiah tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal.
Faktor global seperti penguatan dolar AS, suku bunga The Fed, dan ketidakpastian geopolitik memang nyata.
Tetapi menjadikannya satu-satunya alasan adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Akar masalah juga berada di dalam negeri: struktur ekonomi yang belum cukup mandiri.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan strategis seperti gandum, kedelai, dan bawang putih dalam skala besar.
Di sisi energi, ketergantungan pada impor LPG, minyak mentah, dan bahan bakar masih tinggi.
Artinya, setiap fluktuasi kurs langsung berubah menjadi tekanan biaya hidup.
Ketika rupiah melemah, harga produksi naik.
Ketika harga produksi naik lebih cepat dari pendapatan, maka yang terjadi bukan sekadar inflasi, melainkan erosi daya beli yang sistematis.
Masalah lain lebih dalam: pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didorong konsumsi, belum ditopang oleh produktivitas dan industrialisasi bernilai tambah tinggi.
Ekonomi tumbuh, tetapi belum cukup kuat untuk menahan guncangan eksternal.
Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya dibaca bukan sebagai anomali pasar, melainkan alarm struktural bahwa fondasi ekonomi belum sepenuhnya kokoh.
Rupiah di Antara Mata Uang Asia
Dalam beberapa periode terakhir, rupiah termasuk salah satu mata uang yang mengalami tekanan cukup dalam di Asia terhadap dolar AS.
Hampir semua mata uang Asia memang melemah.
Namun perbedaannya terletak pada ketahanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Nasir-dosen-politeknik-lhokseumawe.jpg)