Minggu, 24 Mei 2026

Kupi Beungoh

Ketika Balai Pengajian Mulai Tergeser oleh Dunia Digital

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebiasaan anak-anak dan remaja di Aceh mulai mengalami perubahan.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Nurul Amalia, Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry. Email: nuramaliatj168@gmail.com 

Oleh: Nurul Amalia

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebiasaan anak-anak dan remaja di Aceh mulai mengalami perubahan.

Kehadiran smartphone membuat waktu yang dulu dihabiskan di meunasah, balai pengajian, atau rumah teungku perlahan tergeser oleh media sosial, game, dan hiburan digital.

Aktivitas pengajian yang dahulu ramai setiap sore hingga malam hari kini tidak lagi seramai sebelumnya, terutama di wilayah perkotaan.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola kehidupan generasi muda. Jika dulu anak-anak selepas magrib berbondong-bondong pergi mengaji, sekarang sebagian besar lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget mereka.

Perubahan tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh berkurangnya kebiasaan dan dorongan untuk menghadiri pengajian secara rutin.

Perubahan Pola Kehidupan Remaja

Berdasarkan hasil wawancara dengan Tgk. H. Fakhruddin Lahmuddin, M.Pd selaku akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi sekaligus pimpinan umum Pesantren Modern Al-Manar,

Menurunnya minat remaja mengikuti pengajian dipengaruhi oleh perubahan pola kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi digital.

“Dulu anak-anak lebih dekat dengan lingkungan pengajian karena aktivitas hiburan masih sangat terbatas dan hampir setiap kampung memiliki balee beut yang aktif pada sore hingga malam hari. Namun sekarang semuanya bisa diakses dari HP,” ujarnya.

Menurutnya, dahulu hampir setiap kampung memiliki balai pengajian yang aktif pada sore dan malam hari. Anak-anak hadir secara rutin tanpa harus dipaksa. Namun sekarang, perhatian remaja lebih banyak tersita pada dunia digital.

Gadget sebenarnya bukan musuh utama. Namun, perubahan ini juga tidak terlepas dari berkurangnya peran orang tua dalam mengarahkan kebiasaan anak di rumah. Jika dahulu orang tua aktif menyuruh dan mengantar anak ke balai pengajian, kini sebagian mulai memberikan kebebasan penggunaan gadget tanpa pengawasan yang cukup. 
Akibatnya, remaja lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan menghadiri pengajian atau halaqah di masjid.

Pergeseran Balee Beut ke TPA

Seiring perkembangan waktu, fungsi balee beut atau balai pengajian mulai bergeser ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang biasanya hanya berlangsung dari sore hari hingga menjelang magrib. Banyak masyarakat menganggap pendidikan agama dasar sudah cukup sampai tahap tersebut, terutama pada kemampuan membaca Al-Qur’an.

Fakhruddin menjelaskan bahwa anak-anak yang telah tamat TPA tetap membutuhkan pengajian lanjutan agar memiliki pemahaman agama yang lebih luas, termasuk tentang akhlak dan nilai kehidupan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengajian sore masih didominasi anak-anak usia sekolah dasar. Ketika memasuki usia SMP dan SMA, banyak remaja mulai meninggalkan lingkungan pengajian karena merasa sudah tidak cocok lagi belajar bersama anak-anak yang usianya di bawah mereka.

Kondisi ini menjadi tanda bahwa ruang pengajian remaja mulai hilang di tengah masyarakat. Padahal, pengajian malam di masjid, mushalla, atau balee beut menjadi tempat penting untuk membentuk karakter dan kedisiplinan generasi muda Aceh.

Pragmatisme Akademik dan Pendidikan Agama

Melihat kondisi saat ini, banyak orang tua lebih memprioritaskan pencapaian akademik anak demi prospek kerja dibandingkan pendidikan agama. Padahal, dalam Islam ilmu dasar ibadah merupakan kewajiban fardhu ‘ain yang tidak boleh diabaikan.

Fakhruddin menilai sebagian orang tua kini lebih memprioritaskan pendidikan akademik karena dianggap memiliki peluang kerja yang lebih besar. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama pendidikan agama dasar atau ilmu fardhu ‘ain tetap diberikan kepada anak.

Pola pikir seperti ini perlahan membuat pendidikan agama kehilangan prioritas. Anak dituntut unggul dalam pelajaran sekolah, tetapi minim pembinaan akhlak dan pemahaman agama. Akibatnya, remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh budaya digital tanpa filter nilai yang kuat.

Balai Pengajian Juga Harus Beradaptasi

Di sisi lain, balai pengajian juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sebagian remaja merasa metode pembelajaran yang digunakan masih monoton dan kurang menarik.

“Ada anak datang mengaji tetapi tidak paham karena cara mengajarnya kurang menarik,” kata Fakhruddin.

Menurutnya, pengajian tidak cukup hanya mempertahankan cara lama, tetapi juga perlu menghadirkan metode belajar yang lebih menarik, kreatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.

Dengan begitu, balai pengajian tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar agama, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman bagi generasi muda untuk berkembang dan berinteraksi.

Menjaga Masa Depan Generasi Aceh

Aceh dikenal sebagai daerah dengan identitas Islam yang kuat. Karena itu, menjaga keberadaan balai pengajian bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga jati diri masyarakat Aceh.

Menjaga minat remaja terhadap pengajian bukan hanya tanggung jawab teungku atau lembaga agama saja, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Orang tua memiliki peran penting dalam menjaga kedekatan anak dengan lingkungan pengajian. Bukan hanya membatasi penggunaan gadget, tetapi juga memberikan dorongan agar anak tetap dekat dengan pendidikan agama di tengah derasnya arus digital.

Karena itu, pendidikan akademik dan agama harus berjalan seimbang agar generasi muda Aceh tidak hanya unggul secara ilmu, tetapi juga kuat dalam nilai dan moral.

Banda Aceh, 23 Mei 2026

 

Penulis, Nurul Amalia (Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry. Email: nuramaliatj168@gmail.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved