Kupi Beugoh
Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa, Meniti Asa di Alue Canang Aceh Timur
Embun menetes perlahan dari ujung daun sawit, membasahi tanah merah yang sejak lama menjadi saksi perjalanan hidup masyarakat Desa Alue Canang
Hari itu bukan sekadar pembukaan sebuah program pembangunan. Hari itu adalah awal tumbuhnya keyakinan baru bahwa negara benar-benar hadir di tengah masyarakat pedalaman.
Prajurit TNI datang bukan hanya membawa alat kerja dan perlengkapan lapangan. Mereka datang membawa semangat pengabdian.
Mereka datang membawa tangan yang siap bekerja dan hati yang siap mendengar keluhan rakyat.
Tangan-tangan bersalaman. Senyum-senyum bertukar hangat. Tidak ada jarak antara prajurit dan warga.
Baca juga: Satgas TMMD Wujudkan Sarana Ibadah di TPA Desa Alue Canang, Aceh Timur
Tidak ada sekat antara loreng dan masyarakat. Yang ada hanyalah satu tujuan bersama, membangun desa demi masa depan yang lebih baik.
TMMD sejatinya bukan hanya program pembangunan fisik. Ia adalah bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Sebuah jembatan pengabdian yang mempertemukan negara dengan masyarakat di wilayah-wilayah yang selama ini mungkin jarang tersentuh pembangunan secara maksimal.
Di Alue Canang, TMMD hadir bukan sekadar memperbaiki jalan atau membangun rumah. Ia hadir untuk membangun harapan.
Sejak hari pertama pelaksanaan, denyut kehidupan desa mulai berubah. Suara alat berat memecah kesunyian pagi.
Denting palu terdengar bersahutan dari rumah-rumah warga. Prajurit TNI bekerja bersama masyarakat tanpa mengenal panas maupun hujan.
Baca juga: Pembangunan RTLH Program TMMD Milik Mariana di Alue Canang Aceh Timur Masuki Tahap Akhir
Mereka mengangkat batu, mencampur semen, menggali tanah, dan membangun desa dengan tangan sendiri.
Semangat gotong royong tumbuh kembali di setiap sudut kampung.
Warga yang sebelumnya hanya menjadi penonton pembangunan, kini ikut terlibat langsung.
Para pemuda membantu mengangkut material. Para orang tua menyediakan kopi dan makanan seadanya untuk prajurit yang bekerja sejak pagi.
Anak-anak kecil memandangi para tentara dengan tatapan kagum, seolah melihat sosok saudara yang datang membawa perubahan.
| Dua Model Kritik, Satu Pertanyaan yang Tak Dijawab |
|
|---|
| Hadirnya Negara dalam Tradisi Meugang |
|
|---|
| Abu di Lheue, Ulama dengan Pribadi Santun dan Mustajab Doa---Bagian 2 Habis |
|
|---|
| Kisah Abu di Lheue, Dirikan Dayah sebagai Benteng Melawan Paham Sesat---Bagian 1 |
|
|---|
| Kolegium di Persimpangan: Antara Regulasi Negara dan Otonomi Profesi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/serah-kunci-25052025.jpg)