Sabtu, 30 Mei 2026

Kupi Beugoh

Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa, Meniti Asa di Alue Canang Aceh Timur

Embun menetes perlahan dari ujung daun sawit, membasahi tanah merah yang sejak lama menjadi saksi perjalanan hidup masyarakat Desa Alue Canang

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
Dokumen Letkol Inf Novi Widyanto
SERAHKAN KUNCI RUMAH - Dandim 0104/Atim Letkol Inf Novi Widyanto, SE, Dansatgas TMMD Ke-128 TA. 2026 Kodim 0104/Aceh Timur, saat menyerahkan kunci rumah layak huni kepada penerima yang dibangun pada program TMMD di Desa Alue Canang, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Tiimur, baru-baru ini.  

Namun hidup ternyata masih menyimpan harapan.

Melalui program RTLH TMMD Ke-128, rumah Mariana direnovasi menjadi tempat tinggal yang layak huni. Dinding baru berdiri kokoh.

Atap rumah tak lagi bocor. Lantai yang dulu dingin dan rapuh kini berubah menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Saat rumah itu sedang dibangun, Mariana berdiri memandang rumahnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Bukan Bangunan Fisik Saja, Personel TMMD dan Warga Juga Tanam Pohon di Alue Canang Aceh Timur

Tangannya gemetar ketika menyentuh dinding baru yang kini melindunginya dari panas dan hujan.

“Terasa macam mimpi… tiga puluh tahun saya menunggu. Dulu kalau hujan, bocor sana sini. Sekarang Alhamdulillah… rumah saya sudah bagus berkat bapak-bapak TNI,” ucapnya lirih sambil menahan haru.

Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya tentang angka dan laporan. Pembangunan adalah tentang menghadirkan kebahagiaan bagi manusia.

Bagi Mariana, rumah itu bukan sekadar bangunan dari semen dan kayu. Rumah itu adalah simbol kepedulian. Simbol bahwa negara tidak membiarkan rakyatnya berjalan sendiri menghadapi kehidupan.

Kisah Mariana hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang lahir dari TMMD Ke-128 di Desa Alue Canang.

Ada wajah-wajah anak sekolah yang kini lebih ceria karena jalan menuju sekolah tidak lagi penuh lumpur.

Baca juga: TMMD Wujudkan Akses Air Bersih di Alue Canang Aceh Timur, "Setetes Air, Sejuta Manfaat untuk Warga"

Ada senyum para ibu yang kini memiliki akses MCK yang lebih layak. Ada rasa syukur warga yang kini bisa mendapatkan air bersih lebih mudah.

Lima titik sumber air bersih dibangun untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Selama bertahun-tahun, sebagian warga kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.

Saat musim kemarau tiba, mereka harus berjalan jauh untuk memperoleh air bersih.

Kini, air mulai mengalir lebih dekat ke rumah-rumah warga.

Bagi masyarakat perkotaan, air bersih mungkin hal biasa. Namun bagi warga pedalaman, air bersih adalah harapan tentang hidup yang lebih sehat dan lebih manusiawi.

TMMD juga menghadirkan tiga fasilitas MCK yang membantu meningkatkan sanitasi masyarakat.

Perlahan, kualitas hidup warga mulai berubah. Desa yang sebelumnya tertinggal kini mulai bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun TMMD tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.

Di balik pembangunan infrastruktur, hadir pula kepedulian sosial yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.

Pelayanan administrasi kependudukan dilakukan untuk membantu masyarakat memperoleh hak identitas mereka.

Banyak warga yang selama ini belum memiliki dokumen penting seperti KTP dan akta kelahiran akhirnya mendapatkan pelayanan langsung di desa mereka sendiri.

Program pengobatan massal dan KB Kes Terpadu juga dilaksanakan demi meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat pedalaman.

Warga yang sebelumnya kesulitan mengakses fasilitas kesehatan kini dapat memperoleh pemeriksaan dan pengobatan secara gratis.

Sosialisasi Bahaya Narkoba

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, TMMD juga menggelar sosialisasi bahaya narkoba bagi masyarakat dan generasi muda.

Karena membangun desa bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga masa depan generasi penerus bangsa.

Pembagian sembako dan pasar murah menjadi wujud kepedulian terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, bantuan itu menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi warga desa.

TMMD menghadirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pembangunan.

Ia menghadirkan rasa bahwa negara benar-benar hadir di tengah rakyatnya.

Hari-hari pelaksanaan TMMD dipenuhi cerita kebersamaan yang sulit dilupakan. Prajurit TNI tinggal bersama masyarakat.

Mereka makan bersama, bercanda bersama, bahkan ikut membantu aktivitas warga setelah pekerjaan pembangunan selesai.

Di malam hari, suasana desa menjadi lebih hangat. Anak-anak berkumpul mendengarkan cerita para prajurit.

Warga bercengkerama sambil menikmati kopi sederhana di teras rumah. Tidak ada perbedaan antara tentara dan rakyat. Semua larut dalam suasana kekeluargaan yang tulus.

Dari kebersamaan itulah lahir kemanunggalan yang sesungguhnya.

TMMD mengajarkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada senjata atau kekuasaan, tetapi pada persatuan dan kepedulian antar sesama anak bangsa.

Dan ketika waktu tiga puluh hari itu perlahan mendekati akhir, masyarakat mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Desa mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Jalan mulai terbuka. Rumah-rumah menjadi lebih layak. Air bersih mulai mengalir. Semangat gotong royong kembali hidup. Harapan yang dulu terasa jauh kini perlahan menjadi nyata.

Pada Kamis, 21 Mei 2026, TMMD Reguler Ke-128 resmi ditutup dalam sebuah upacara di Lapangan Bolakaki Desa Alue Canang.

Upacara berlangsung khidmat dan penuh haru.

Hadir dalam kegiatan tersebut Irdam Iskandar Muda Brigjen TNI Heri Purwanto, S.E., unsur Forkopimda, TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta warga Desa Alue Canang.


Di bawah langit Alue Canang yang cerah, deretan prajurit berdiri tegap. Sementara masyarakat memandangi mereka dengan rasa bangga dan haru yang sulit diungkapkan.

Dalam amanatnya, Brigjen TNI Heri Purwanto, S.E. menegaskan bahwa TMMD merupakan bentuk nyata sinergi antara TNI, pemerintah daerah, Polri, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan desa serta memperkuat semangat gotong royong dan wawasan kebangsaan.


“Program ini tidak hanya membangun fisik desa, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, cinta tanah air, dan bela negara.

Pembangunan ini diharapkan memberi manfaat nyata dan mendorong kemajuan desa secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Kalimat itu bukan sekadar sambutan seremonial. Ia adalah refleksi dari apa yang benar-benar terjadi selama TMMD berlangsung di Alue Canang.

Sebagai Dansatgas TMMD Ke-128 Kodim 0104/Aceh Timur, saya menyadari bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu pihak semata.

Keberhasilan TMMD lahir dari kebersamaan.

Ia lahir dari ketulusan masyarakat yang rela bergotong royong demi kemajuan desanya.

Ia lahir dari dukungan pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait yang bekerja tanpa mengenal batas kewenangan. Ia lahir dari pengabdian prajurit TNI yang bekerja dengan hati demi rakyat.

TMMD telah mengajarkan bahwa membangun negeri tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Kadang, perubahan justru tumbuh dari desa kecil yang jauh di pedalaman.

Dari jalan yang diperkeras.
Dari rumah yang dibangun kembali.
Dari air bersih yang mulai mengalir.
Dari senyum warga yang kembali merekah.

Dan yang paling penting, dari harapan yang kembali hidup di hati masyarakat.

Desa Alue Canang hari ini mungkin masih sederhana. Namun di desa inilah kita melihat bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang beton dan bangunan. 

Pembangunan sejati adalah tentang menghadirkan harapan bagi manusia.

TMMD Ke-128 memang telah selesai. Prajurit akan kembali ke satuan masing-masing. Alat berat akan meninggalkan desa. Lapangan yang dulu ramai akan kembali tenang.

Namun jejak pengabdian itu akan tetap tinggal.

Ia tinggal di jalan-jalan desa yang kini terbuka.
Ia tinggal di rumah-rumah yang kembali menghadirkan kehangatan.
Ia tinggal di sumber air yang mengalir membawa kehidupan.
Ia tinggal di senyum anak-anak yang kini berjalan lebih mudah menuju sekolah.
Dan ia tinggal di hati masyarakat Alue Canang yang kini meniti asa menuju masa depan yang lebih baik.

Karena sejatinya, membangun negeri bukan hanya tentang mendirikan bangunan.

Membangun negeri adalah tentang menumbuhkan harapan, menjaga kebersamaan, dan memastikan bahwa tidak ada rakyat yang berjalan sendirian.

Dan di sudut kecil pedalaman Aceh Timur bernama Alue Canang, harapan itu hari ini tumbuh dengan nyata.

Di tanah yang dulu sunyi, kini masa depan perlahan mulai berbicara. (*)

*) PENULIS adalah Dansatgas TMMD Ke-128 TA 2026 Kodim 0104/Aceh Timur.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

 

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved