Kupi Beugoh
Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa, Meniti Asa di Alue Canang Aceh Timur
Embun menetes perlahan dari ujung daun sawit, membasahi tanah merah yang sejak lama menjadi saksi perjalanan hidup masyarakat Desa Alue Canang
Selama tiga puluh hari pelaksanaan TMMD, perlahan wajah Alue Canang mulai berubah.
Baca juga: Dansatgas TMMD Beri Dukungan Moril Lewat Sembako kepada Warga Alue Canang Aceh Timur
Jalan desa yang menghubungkan Desa Alue Canang menuju Desa Jamur Labu sepanjang 2.200 meter diperkeras.
Jalan yang dulunya sulit dilalui ketika hujan kini mulai terbuka dan lebih mudah diakses kendaraan.
Bagi masyarakat kota, mungkin jalan hanyalah sarana transportasi biasa. Namun bagi warga Alue Canang, jalan adalah urat nadi kehidupan.
Dari jalan itulah hasil kebun dibawa ke luar desa. Dari jalan itu anak-anak menuju sekolah. Dari jalan itu akses kesehatan dan kebutuhan pokok masuk ke perkampungan.
Kini, ketika jalan mulai membaik, masyarakat merasa masa depan mereka pun ikut terbuka.
Tiga gorong-gorong dibangun untuk mengatasi aliran air yang selama ini sering merusak badan jalan.
Saat hujan deras turun, warga tidak lagi cemas jalan akan terputus atau kendaraan terjebak lumpur. Infrastruktur sederhana itu mungkin tampak kecil, tetapi manfaatnya begitu besar bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baca juga: Sinergi TNI dan Warga Alue Canang Aceh Timur Wujudkan Hunian Layak Warga Kurang Mampu
Juga Rehabilitasi Empat Rumah
TMMD juga merehabilitasi empat unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah-rumah yang sebelumnya rapuh, bocor, dan nyaris roboh kini berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan manusiawi.
Di antara seluruh pembangunan itu, ada satu kisah yang paling membekas di hati banyak orang. Kisah tentang seorang ibu tua bernama Mariana.
Usianya kini 62 tahun. Tubuhnya mulai renta, namun matanya masih menyimpan keteguhan seorang perempuan yang bertahun-tahun bertahan dalam keterbatasan hidup.
Selama puluhan tahun Mariana tinggal di sebuah rumah kecil yang hampir roboh dimakan usia.
Atap rumahnya bocor di banyak sisi. Ketika hujan turun, air menetes dari sela-sela seng yang lapuk.
Baca juga: Wujudkan Sanitasi Layak, Satgas TMMD Bangun MCK di Alue Canang Aceh Timur
Dinding kayu mulai keropos. Angin malam masuk tanpa bisa dibendung. Lantai rumah yang dingin membuatnya sering kesulitan beristirahat.
Setiap kali malam hujan datang, Mariana harus berpindah-pindah sudut rumah mencari tempat yang tidak bocor. Ia hidup dalam kesunyian dan keterbatasan yang nyaris tak pernah diketahui banyak orang.
| Dua Model Kritik, Satu Pertanyaan yang Tak Dijawab |
|
|---|
| Hadirnya Negara dalam Tradisi Meugang |
|
|---|
| Abu di Lheue, Ulama dengan Pribadi Santun dan Mustajab Doa---Bagian 2 Habis |
|
|---|
| Kisah Abu di Lheue, Dirikan Dayah sebagai Benteng Melawan Paham Sesat---Bagian 1 |
|
|---|
| Kolegium di Persimpangan: Antara Regulasi Negara dan Otonomi Profesi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/serah-kunci-25052025.jpg)