KUPI BEUNGOH
Laut yang Indah, Kesadaran yang Masih Rendah
Pada akhirnya, laut tidak pernah berubah. Laut tetap indah dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh.
Karena itu, pendekatan pendidikan menjadi sangat penting. Wilayah pesisir seperti Aceh Barat membutuhkan model pendidikan yang lebih kontekstual dengan realitas lingkungan masyarakatnya.
Sekolah tidak seharusnya hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi perlu membangun literasi keselamatan dan kesiapsiagaan peserta didik terhadap lingkungan sekitar.
Pengetahuan tentang arus laut, tanda cuaca ekstrem, zona berbahaya di pantai, hingga keterampilan dasar penyelamatan diri seharusnya mulai diperkenalkan melalui pembelajaran kontekstual di sekolah.
Pendidikan mitigasi bencana tidak cukup hanya dipahami sebagai teori, akan tetapi perlu dibentuk melalui simulasi, praktik, dan pembiasaan sosial.
Pemerintah daerah juga perlu menjadikan keselamatan wilayah pesisir sebagai prioritas kebijakan publik.
Kehadiran rambu keselamatan, petugas penjaga pantai, pos pemantauan, hingga sistem informasi cuaca di kawasan wisata pantai bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak.
Tanpa langkah preventif yang serius, tragedi serupa akan terus berulang dan hanya meninggalkan berita duka yang datang silih berganti.
Pada akhirnya, laut tidak pernah berubah. Laut tetap indah dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh.
Yang harus berubah adalah cara manusia memahaminya. Laut tidak cukup hanya dinikmati, tetapi juga harus dipahami dengan kesadaran risiko dan sikap kehati-hatian.
Membangun budaya keselamatan di wilayah pesisir tidak dapat dilakukan secara insidental setelah tragedi terjadi.
Kesadaran tersebut harus tumbuh dari keluarga, diperkuat melalui pendidikan, dan ditegakkan melalui kebijakan publik yang konsisten. Sebab sejatinya, laut tidak pernah meminta untuk dijauhi. Laut hanya meminta untuk dipahami. (*)
PENULIS adalah Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel dalam rubrik ini tidak mencerminkan pandangan Redaksi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
| Ketika Negara “Beribadah” Pakai Pajak Rakyat |
|
|---|
| Ngopi Sambil Nonton Bola: Tren Baru yang Mengubah Wajah Malam Kota |
|
|---|
| Arafah, Tempat Manusia Kembali Menatap Diri dan Sang Pencipta |
|
|---|
| Amarah Bukan Takdir: Menelusuri Akar Temperamen dari Sudut Pandang Psikologi |
|
|---|
| Polemik JKA dan Jalan Aceh Menuju Pemerintahan Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sri-Hardianty-SIP-MPd.jpg)