KUPI BEUNGOH
Laut yang Indah, Kesadaran yang Masih Rendah
Pada akhirnya, laut tidak pernah berubah. Laut tetap indah dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh.
Persoalan ini tidak dapat hanya dilihat sebagai kelalaian individu.
Ada masalah yang lebih besar terkait budaya keselamatan dan tata kelola wilayah pesisir yang belum berjalan optimal. Hingga hari ini, banyak kawasan wisata pantai di Aceh belum memiliki sistem mitigasi yang memadai.
Rambu peringatan zona berbahaya masih terbatas, informasi kondisi gelombang belum tersedia secara konsisten, dan keberadaan petugas penjaga pantai juga masih sangat minim, terutama pada hari libur ketika aktivitas wisata meningkat tajam.
Dalam banyak kasus, pengelolaan wisata pantai masih lebih berorientasi pada aspek kunjungan dan ekonomi dibanding perlindungan keselamatan pengunjung.
Padahal, keselamatan publik seharusnya menjadi fondasi utama dalam tata kelola wisata pesisir.
Pantai tidak cukup hanya dibangun sebagai ruang rekreasi yang indah, namun harus dirancang sebagai ruang publik yang aman dan memiliki sistem mitigasi yang jelas.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga masih terlihat lemah.
Pengelolaan kawasan pesisir sering berjalan sendiri-sendiri antara sektor pariwisata, kebencanaan, pendidikan, dan pemerintah desa.
Akibatnya, edukasi keselamatan laut belum menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara berkesinambungan.
Sosialisasi biasanya hanya dilakukan setelah adanya korban, bukan sebagai pendidikan preventif yang terus dibangun sejak awal.
Di sisi masyarakat, budaya keselamatan juga belum tumbuh secara kuat. Masih banyak pengunjung pantai yang berenang di area berbahaya, bermain saat ombak tinggi, atau mengabaikan perubahan cuaca.
Tidak sedikit pula orang tua yang membiarkan anak-anak bermain di bibir pantai tanpa pengawasan memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran risiko belum menjadi bagian dari perilaku sosial masyarakat pesisir.
Yang lebih mengkhawatirkan, peristiwa tenggelam masih sering dianggap sebagai musibah biasa yang tidak dapat dicegah.
Pandangan seperti ini membuat masyarakat kurang terdorong untuk membangun budaya reflektif terhadap keselamatan.
Faktanya, sebagian besar kecelakaan laut sebenarnya dapat diminimalkan melalui edukasi, pengawasan, dan sistem mitigasi yang baik.
| Ketika Negara “Beribadah” Pakai Pajak Rakyat |
|
|---|
| Ngopi Sambil Nonton Bola: Tren Baru yang Mengubah Wajah Malam Kota |
|
|---|
| Arafah, Tempat Manusia Kembali Menatap Diri dan Sang Pencipta |
|
|---|
| Amarah Bukan Takdir: Menelusuri Akar Temperamen dari Sudut Pandang Psikologi |
|
|---|
| Polemik JKA dan Jalan Aceh Menuju Pemerintahan Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sri-Hardianty-SIP-MPd.jpg)