Sabtu, 30 Mei 2026

Kupi Beungoh

Menyembelih "Sifat Dan Perilaku kebinatangan" di Hari Raya Kurban

Hari Raya Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga momentum membunuh sifat egois, tamak, dan perilaku kebinatangan.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag, Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Oleh. Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag

Dalam konteks moral dan sifat manusia, "perilaku kebinatangan" (bestialitas) merujuk pada dorongan nafsu atau naluri hewani yang mengesampingkan iman, akal, akhlak yang baik, dan kasih sayang.

"Perilaku kebinatangan" ini kerap disimbolkan sebagai hal negatif yang harus dikendalikan karena berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Sekarang ini, perilaku kebinatangan ikut menyakiti umat Islam di banyak tempat, daerah, dan negara.

Perilaku ini, disadari atau tidak, bisa menghancurkan diri dan sesama umat Islam, baik dalam waktu dekat maupun perlahan-lahan. Dari sinilah umat Islam kehilangan kehormatan, kekuatan, marwah, harga diri, kasih sayang, dan cinta sesama muslim yang menjadi kekuatan utama umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan dan fitnah akhir zaman.

Perilaku ini yang membuat umat Islam kehilangan kekuatan. Perilaku ini pula yang kemudian membuat umat Islam dengan mudah dikuasai oleh orang lain, baik nonmuslim maupun sesama muslim yang munafik; di mulut mengaku beriman, di KTP tertulis Islam, tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai yang diwasiatkan Rasulullah SAW dalam Al-Qur'an dan Hadis.

Perilaku ini membuat umat Islam mudah dijajah dan dihancurkan, karena orang yang memiliki sifat dan perilaku kebinatangan akan mudah dihasut dan diperdaya demi kepentingan tertentu, seperti politik, ekonomi, kekuasaan, atau kepentingan lainnya, lalu akhirnya dihancurkan.

Yang hancur kemudian bukan hanya dirinya sendiri secara personal, tetapi juga umat Islam secara keseluruhan, karena sesama muslim itu bersaudara. Apabila satu yang sakit, maka umat Islam lainnya harus ikut merasakannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

Lebih jauh lagi, syariat Islam pun akan hancur dan tercemar akibat perilaku oknum yang menamakan dirinya beragama Islam, sementara perilakunya justru merusak syariat Islam.

Kepada seluruh umat Islam, para ayah, para istri, anak muda, para pendidik, tenaga medis, abdi negara, rakyat biasa, para hakim, penegak hukum, aparatur pemerintah, para pejabat, pemimpin di negeri ini, dan lainnya, ingatlah bahwa Rasulullah SAW pernah mewasiatkan agar jangan mengikuti sifat dan perilaku kebinatangan, karena itu menghancurkan diri dan umat Islam secara keseluruhan.

Mari menyembelih “sifat dan perilaku kebinatangan” (bestialitas) di Hari Raya Kurban.

Makna Kurban

Kurban adalah ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak tertentu sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian sosial, yang dilaksanakan pada Hari Raya Iduladha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Tujuannya adalah:

Pertama, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kurban berasal dari bahasa Arab “kurban” yang berarti dekat (taqarrub). Ibadah ini bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, untuk saling peduli dan berbagi. Daging hewan kurban dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan masyarakat umum guna mempererat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan.

Ketiga, sebagai refleksi keimanan, yaitu mengenang keteladanan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kepada Allah SWT.

Menyembelih “Sifat dan Perilaku Kebinatangan” (Bestialitas) di Hari Raya Kurban

Kita bisa melihat sifat dan perilaku kebinatangan berikut ini sedang menyakiti umat Islam. Perilaku ini perlu kita “kurbankan”, perlu kita sembelih sebagaimana Nabi Ibrahim AS menyembelih kibas di Hari Raya Kurban.

Adapun perilaku kebinatangan yang harus kita sembelih antara lain adalah:

Pertama, sembelihlah sikap egoisme (mementingkan diri sendiri). Mementingkan diri sendiri secara ekstrem tanpa peduli dengan kondisi atau hak orang lain disebut egois.

Sebagai contoh, sikap egois atau mementingkan diri sendiri dapat kita lihat dari hilangnya kasih sayang antarsesama muslim sehingga mudah difitnah oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan keadaan demi kepentingan diri, kelompok, politik, atau ekonomi, sampai rela mengorbankan sesama muslim.

Tidak adanya kasih sayang antara suami dan istri menyebabkan banyak perceraian yang berdampak pada anak-anak bermasalah secara fisik maupun psikis.

Tidak adanya kasih sayang antara pemimpin dan rakyat menyebabkan banyak pengangguran, kemiskinan, dan kebijakan pemerintah yang menzalimi rakyat.

Tidak adanya kasih sayang antara guru dan murid menyebabkan banyak terjadi kekerasan atau perundungan (bullying).

Tidak adanya kasih sayang antara tenaga medis dan pasien membuat pasien bertambah sakit dan stres melihat perlakuan tenaga medis yang judes dan tidak ramah.

Tidak adanya kasih sayang antara ustaz dan santri di pesantren menyebabkan pesantren sulit melahirkan alim ulama yang menjadi penjaga agama dan syariat dengan ilmu dan keahliannya.

Tidak adanya kasih sayang antara penegak hukum dan masyarakat menyebabkan yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan.

Tidak adanya kasih sayang antara aparat keamanan dan para demonstran yang menuntut hak rakyat menyebabkan terjadinya pemukulan terhadap demonstran, penyemprotan gas air mata yang mengakibatkan mata para demonstran sakit, dan berbagai kasus lainnya yang merupakan gambaran sifat dan perilaku kebinatangan yang harus dikurbankan dan dihilangkan, wahai umat Islam, pada saat Hari Raya Kurban.

Contoh lainnya, kita melihat aroma saling membenci sesama muslim terjadi di berbagai tempat. Persaingan yang tidak sehat itu semua disebabkan oleh kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok yang lebih diutamakan dibandingkan perintah Allah dan Rasul-Nya yang menyuruh umat Islam agar saling berkasih sayang, membantu, peduli, membela, berkorban, dan menolong.

Akhlak baik seperti ini sekarang mulai hilang di kalangan umat Islam, sementara justru diamalkan oleh nonmuslim. Kita melihat orang-orang di luar Islam saling bekerja sama, membantu, dan menguatkan untuk menghancurkan umat Islam di berbagai belahan bumi, seperti yang terjadi di Palestina, Bosnia, dan berbagai tempat lainnya.

Mereka menghancurkan umat Islam, sementara sebagian umat Islam sendiri lalai, sibuk mengumpulkan harta dengan segala cara. Cara haram pun digemari, menindas orang dianggap biasa, menjual aset negara dilakukan, mengizinkan alam dieksploitasi orang luar sementara rakyat sendiri hidup miskin, dan berbagai cara lainnya demi memperkaya diri, keluarga, atau kelompok sendiri tanpa peduli rakyat yang semakin miskin dan tertindas.

Mereka lupa bahwa tanpa rakyat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam berbagai pelajaran sejarah, ketika perang, krisis, dan berbagai persoalan terjadi, rakyatlah modal utama. Tentunya rakyat yang kaya, cerdas, dan sejahtera merupakan kekuatan utama dalam membantu negara.

Kalau rakyat miskin, bagaimana bisa membantu negara? Menghidupi diri sendiri saja sekarang banyak yang tidak mampu, bahkan ada yang putus asa, stres, dan depresi.

Sadarlah wahai pemimpin muslim dan pejabat muslim, dari pusat sampai daerah, kalian memiliki kewajiban menjaga ukhuwah dan menyejahterakan rakyat. Bukankah jika rakyat miskin, negara ini akan hancur? Apakah itu yang kita inginkan?

Contoh lain, kita melihat pemimpin dan pejabat muslim sibuk dengan wanita, tahta, dan jabatan, yang semua itu merupakan jebakan dan fitnah untuk menghancurkan umat Islam. Sebagian besar pemimpin dan pejabat muslim meletakkan harta, tahta, dan wanita di hati mereka, sementara agama dan syariat tidak lagi dianggap penting.

Ini menjadi pertanda besar bahwa kehancuran nyata akan datang bagi umat Islam, sampai suatu hari nanti umat Islam menjadi budak di negeri sendiri.

Sadarlah wahai pejabat, wahai pemimpin di negeri ini, wahai umat Islam, kalian sedang dihancurkan.

Kembalilah kepada syariat Islam wahai umat Islam. Kalian sedang dihancurkan secara terang-terangan maupun diam-diam. Belajarlah dan ajarkan kepada diri serta keturunanmu Al-Qur'an, Sunnah Nabi, dan segala kandungan di dalamnya, karena itulah penyelamat dan kekuatan. Ingatlah, Al-Qur'an dan Sunnah Nabi adalah teropong masa depan bagi umat Islam.

Kedua, sembelihlah sikap keserakahan dan ketamakan, yaitu keinginan menguasai segala hal dan menimbun harta demi kepuasan pribadi, terutama di kalangan pemimpin ketika berkuasa. Dengan kekuasaannya, mudah baginya mendapatkan apa pun dari negeri ini.

Hal ini dapat dilihat dari:

Penyalahgunaan wewenang seperti korupsi anggaran publik dan pemanfaatan jabatan untuk memperkaya diri sendiri maupun kroni.
Merusak lingkungan dengan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan atau mengeluarkan izin pemanfaatan SDA kepada pihak luar yang memicu bencana ekologis seperti banjir bandang dan tanah longsor, sebagaimana yang terjadi di Aceh.

Sampai sekarang, setiap hujan turun, banjir bandang terus terjadi hingga menimbulkan trauma, stres, dan depresi mendalam bagi rakyat Aceh yang terkena dampaknya.

Adakah yang benar-benar peduli kepada korban banjir bandang ini? Saya melihat belum maksimal. Korban banjir bandang kehilangan harapan hidup, stres, bahkan hampir depresi karena penanganan dan bantuan yang diberikan masih setengah hati.

Ketiga, sembelihlah kesenjangan sosial dalam bentuk kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin.

Contohnya adalah agresivitas dan kekerasan, yaitu bersikap bengis atau menggunakan kekuatan secara semena-mena untuk menindas yang lebih lemah, serta membuat kebijakan yang menzalimi dan merugikan rakyat.

Sejatinya, pemimpin, pejabat, dan pemerintah yang benar hadir untuk menyejahterakan rakyat dan memikirkan kebutuhan rakyat. Itu merupakan amanah jabatan sekaligus janji politik yang pernah mereka sampaikan saat kampanye.

Contoh lainnya adalah arogansi atau kesombongan, yaitu menganggap diri atau golongannya paling benar dan meremehkan pihak lain.

Hikmah Hari Raya Iduladha adalah pelajaran spiritual tentang ketaatan dan keikhlasan total kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Momen ini juga menjadi wujud nyata kepedulian sosial melalui ibadah kurban untuk mempererat persaudaraan umat Islam.

Di Hari Raya Iduladha diharapkan umat Islam tidak hanya menyembelih hewan kurban, tetapi juga mampu menyembelih “sifat dan perilaku kebinatangan” (bestialitas) apabila masih melekat dalam diri masing-masing.

 

Penulis adalah Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved