Kupi Beungoh
Menyembelih "Sifat Dan Perilaku kebinatangan" di Hari Raya Kurban
Hari Raya Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga momentum membunuh sifat egois, tamak, dan perilaku kebinatangan.
Oleh. Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Dalam konteks moral dan sifat manusia, "perilaku kebinatangan" (bestialitas) merujuk pada dorongan nafsu atau naluri hewani yang mengesampingkan iman, akal, akhlak yang baik, dan kasih sayang.
"Perilaku kebinatangan" ini kerap disimbolkan sebagai hal negatif yang harus dikendalikan karena berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Sekarang ini, perilaku kebinatangan ikut menyakiti umat Islam di banyak tempat, daerah, dan negara.
Perilaku ini, disadari atau tidak, bisa menghancurkan diri dan sesama umat Islam, baik dalam waktu dekat maupun perlahan-lahan. Dari sinilah umat Islam kehilangan kehormatan, kekuatan, marwah, harga diri, kasih sayang, dan cinta sesama muslim yang menjadi kekuatan utama umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan dan fitnah akhir zaman.
Perilaku ini yang membuat umat Islam kehilangan kekuatan. Perilaku ini pula yang kemudian membuat umat Islam dengan mudah dikuasai oleh orang lain, baik nonmuslim maupun sesama muslim yang munafik; di mulut mengaku beriman, di KTP tertulis Islam, tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai yang diwasiatkan Rasulullah SAW dalam Al-Qur'an dan Hadis.
Perilaku ini membuat umat Islam mudah dijajah dan dihancurkan, karena orang yang memiliki sifat dan perilaku kebinatangan akan mudah dihasut dan diperdaya demi kepentingan tertentu, seperti politik, ekonomi, kekuasaan, atau kepentingan lainnya, lalu akhirnya dihancurkan.
Yang hancur kemudian bukan hanya dirinya sendiri secara personal, tetapi juga umat Islam secara keseluruhan, karena sesama muslim itu bersaudara. Apabila satu yang sakit, maka umat Islam lainnya harus ikut merasakannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
Lebih jauh lagi, syariat Islam pun akan hancur dan tercemar akibat perilaku oknum yang menamakan dirinya beragama Islam, sementara perilakunya justru merusak syariat Islam.
Kepada seluruh umat Islam, para ayah, para istri, anak muda, para pendidik, tenaga medis, abdi negara, rakyat biasa, para hakim, penegak hukum, aparatur pemerintah, para pejabat, pemimpin di negeri ini, dan lainnya, ingatlah bahwa Rasulullah SAW pernah mewasiatkan agar jangan mengikuti sifat dan perilaku kebinatangan, karena itu menghancurkan diri dan umat Islam secara keseluruhan.
Mari menyembelih “sifat dan perilaku kebinatangan” (bestialitas) di Hari Raya Kurban.
Makna Kurban
Kurban adalah ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak tertentu sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian sosial, yang dilaksanakan pada Hari Raya Iduladha (10 Zulhijah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).
Tujuannya adalah:
Pertama, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kurban berasal dari bahasa Arab “kurban” yang berarti dekat (taqarrub). Ibadah ini bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
Kedua, untuk saling peduli dan berbagi. Daging hewan kurban dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan masyarakat umum guna mempererat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan.
| Sensasi Jinto Kude, Tradisi Unik dari Aceh Tenggara yang Penuh Makna |
|
|---|
| Saree: Antara Deru Tol dan Harapan Karbon |
|
|---|
| Dari Balik Kabut Gayo: Mengalirkan Berkah Kurban Terbanyak ke Jantung Lintas Iman |
|
|---|
| “Islam-Politik” di Era Modern: Historiografi Karantina Rubiah dan Kontekstualisasi Haji 2026 |
|
|---|
| Hari Raya Idul Adha Qurban: Bukti Cinta dan Pengorbanan terhadap Tuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-Dosen-Pendidikan-Agama-Islam-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)