Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalime Warga

Perjuangan Akhir Haji Salman di Depan Guru Besar UIN Ar-Raniry

Di sana, di lantai tiga, yang kerap disebut ruang “Bedah Berdarah-darah” biasanya dikupas habis disertasi mahasiswa

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
AMIRUDDIN 

Rekam jejak itu makin menguatkan Salman memang sosok birokrat sejati dengan sejuta pengalaman. Perpaduan kapasitas intelektual dan kepemimpinan birokrasi ini tercermin dalam penampilan yang meyakinkan tanpa ada bantahan serius saat presentasi disertasi.

Sejak awal, aura optimisme dan percaya diri terpancar dari kandidat doktor ke-359 Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini. Pemaparan yang sistematis, argumentasi tajam, serta penguasaan materi yang matang berhasil memukau para penguji dan hadirin. Tidak heran, beberapa kali ruangan sidang bergemuruh tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang dinilai luar biasa.

Seorang promotor, Prof  Teuku Zulfikar MEd harus mengakui kelebihan Salman. Guru besar ini memberikan kesan mendalam terhadap jalannya sidang. Ia mengungkapkan sidang promosi doktor kali ini menjadi salah satu yang paling istimewa dari segi dukungan yang hadir.

"Ini adalah sidang promosi doktor dengan jumlah pendukung terbanyak yang pernah saya saksikan. Antusiasme ini menunjukkan betapa besar dukungan dan kepercayaan terhadap kandidat," ujarnya disambut tepuk tangan meriah.

Momen lainnya, seorang profesor bertanya cara Salman mampu menghadirkan begitu banyak orang untuk ikut sidangnya, sekaligus apa rahasia agar hati promotor menjadi “luluh” selama proses akademik yang panjang. Alih-alih menjawab dengan strategi akademik yang rumit, Haji Salman justru memberikan jawaban berdimensi spiritual.

“Ada doanya,” ujarnya. Lalu ia membaca doa, “Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja ṣidqin waj‘al lī min ladunka sulṭānan naṣīrā.” Doa itu sontak menarik perhatian hadirin.

Pimpinan sidang, Prof Eka Srimulyani pun merespons hangat. “Nah, ini sudah ada doa bagi yang ingin bertemu dosen,” ujar Prof Eka disambut tawa dan senyum para peserta sidang.

“Jadi, jangan takut kuliah di pascasarjana, karena kuliah di sini menyenangkan,” tambahnya.

Percakapan ringan tersebut justru memperlihatkan sisi lain dunia akademik. Ruang ilmu tidak selalu harus kaku. Ada kebersamaan, humor, dan nilai-nilai spiritual yang berjalan beriringan.

Promotor senior, Prof Dr Warul Walidin MA menyampaikan satu kalimat yang begitu membekas, “Guru atau pembimbing spiritual lebih penting daripada apa pun.”

Kalimat itu seolah menjadi penutup tak tertulis dari keseluruhan suasana sidang hari itu. Bahwa gelar akademik memang penting, tetapi perjalanan menuju ilmu tidak pernah lepas dari peran guru, doa, keluarga, dan orang yang bersamanya.

Sidang promosi doktor Salman akhirnya tidak hanya menjadi ruang pengujian ilmiah, tetapi juga panggung kecil yang memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan dengan ketulusan, humor, dan hikmah kehidupan.

Salman dengan yakin menyebutkan bahwa ada teori baru pascaketekunan, lelahnya meneliti, dan menganalisis data, yang disebutnya ‘novelty.’ Penelitian ini mengharuskan redefinisi profesionalisme guru PAI dari paradigma administratif menuju model profesionalisme substantif-religius berbasis kekhususan Aceh, yang mengintegrasikan dimensi pedagogik, spritual, sosial-keagamaan, dan legitimasi hukum daerah dalam satu kerangka konseptual.

Tampaknya, bukan hanya cita-cita promovendus, tapi penguji dan tamu benar-benar berharap Pemerintah Aceh mengadopsi dan mengembangkan hasil penelitian Salman, semata-mata untuk melahirkan guru PAI yang profesional berbasis nilai keacehan, demi memaksimalkan pendidikan karakter bagi generasi Aceh sebagai upaya mendukung syariat Islam.

Puncak haru terjadi di pengujung sidang, setelah Sekretaris Sidang, Dr Silahuddin membacakan berita acara kelulusan Salman dalam Sidang Promosi Doktor. Sejak detik itu, gelar doktor resmi melekat padanya. Kini, lengkap sudah gelar akademik, Dr Salman SPd MAg yang SPd-nya justru dia raih dari Prodi Fisika FKIP Universitas Syiah Kuala.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved